
3 bulan kemudian.
Seorang laki-laki tampak murung. Tidak ada lagi senyuman di wajahnya. Tiap bulannya ia selalu memberikan selembar surat padanya. Namun tidak ada satu pun yang di balas. Bahkan ia sudah menempatkan mata-mata, tetapi yang di katakan hari ini justru membuatnya lebih hancur. Gadis yang ia puja akan di lamar seorang bangsawan. Tetapi untunglah gadis itu tidak menerimanya, walaupun pernikahan politik mereka akan kuat.
"Laporkan semuanya pada ku." Ujarnya dengan tegas.
Setelah mereka berpelukan, gadis itu. Ia merasa mulai menjauh atau menghindarinya. Ia sangat ingin bertemu dan ingin berbicara walaupun se kata. Namun Pangeran Almeer selalu membuatnya menjauh, ada saja, Pangeran Almeer yang ingin memisahkan mereka seperti tidak menyukai dirinya. Ia hanya bisa bersabar, hingga suatu hari mereka tak sengaja berpapasan. Ia berniat berbicara, akan tetapi Michelia berubah, justru ia tidak ingin berhubungan lagi dengannya. Ia tidak tau apa alasannya. Mungkin karena Michelia sudah tau, jika dirinya menikah.
Michelia nama wanita yang tengah menjadi mahkota di hatinya. Pertemuan singkat itu membuatnya tak bisa melupakan sosok Michelia, senyumannya, saat dia marah dan kesal. Sering kali bayangan itu muncul di kepalanya. Ia sudah berusaha melupakannya, tidak bisa. Semakin ia melupakannya. Semakin ia tak bisa membuang bayangannya itu. Kadang ia merasa kasihan pada Liera. Wanita itu tak pernah mendapatkan cintanya walaupun sedikit. Namun ia akan tetap memberikan kasih sayangnya. Karena ayahnya, Viscount Luis selalu berkata "Jangan menyakiti wanita, semarah apa pun wanita, sejahat apa pun wanita dia tetap wanita yang harus di lindungi." Sebuah kata yang ia terima sampai umurnya 17 tahun.
"Michelia." Gumamnya. Ia mengingat kembali saat gadis itu memeluknya dengan erat. Setelah puas menangis di dalam pelukannya. Michelia malah pergi begitu saja.
Ia memandang lukisan itu, merabanya. Wangi tubuh Michelia belum sirna dari baju kokohnya itu. Bahkan baju itu kini hanya di pajang. Tidak ada yang boleh menyucinya atau memegang pakaiannya. Ia takut, wangi tubuh Michelia menghilang.
"Tuan, nona Liera ingin bertemu." Ujar salah satu pelayan.
__ADS_1
"Biarkan dia masuk." Ucapnya. Selama ini Liera sangat menjaga kesopanannya, ia tidak pernah masuk ke ruang kerjanya atau pun ke kamarnya tanpa ijin darinya itu.
"Ada apa?" tanya Viscount Elca.
"Aku hanya ingin memberikan biskuit ini tuan." Ujar Liera lembut. Dia membawa sepiring biskuit dan segelas teh hitam.
"Bagaimana kandungan mu? apa kamu merasa tidak nyaman?" tanya Viscount Elca dengan lembut.
Liera menggelengkan kepalanya. "Tidak tuan, dia semakin baik." Liera memegang kandungannya. Kadang ia ingin Viscount Elca memegang perutnya. Namun sampai sekarang laki-laki itu tidak pernah menyentuh perut buncitnya yang kini sudah memasuki usia 8 bulan. Satu bulan lagi, dia akan lahir ke dunia ini.
"Tidak apa nona Anabella. Aku akan segera pergi," ujarnya dengan lembut. Anabella hanya tersenyum paksa.
"Apa maksud kakak mengirim mata-mata?" tanya Anabella. Seketika Liera menghentikan kursi rodanya di ambang pintu.
"Jauhi dia kak, dia tidak akan menerima kakak. Bagaimana jika Liera tau?" pekik Anabella. Ia baru sadar saat melihat salah satu pengawal dari kediaman Duke Elios yang berada di kediamannya saat ini.
__ADS_1
"Apa maksud mu? aku tidak mengerti apa yang kamu katakan."
Liera semakin penasaran kelanjutan perkataan Anabella, ia paham maksud perkataannya.
Siapa wanita yang tengah di pikirkan oleh suaminya.
"Aku hanya ... "
"Duke Rachid tidak akan menerima Kakak. Tolong lupakan wanita itu kak." Pinta Anabella membuat wajah Viscount Elca sedih.
"Aku sudah berusaha melupakannya, sampai detik ini aku berusaha menjaga hati Liera. Namun kenyataannya aku tidak bisa melupakannya, aku tidak tau sampai kapan. Aku sudah bersabar melawan arus dari hati ku." Ujar Viscount Elca. Selama ini dia tidak pernah berdebat dengan sang adik.
"Aku semakin terjatuh ke dalam pelukannya Anabella." Viscount Luis memejamkan matanya, air matanya mengalir membuat Anabella tidak tega. Sama halnya dengan ayahnya dulu, bahkan dia tetap menunggu ibunya sampai melahirkan sang kakak.
Deg
__ADS_1
Liera meremas dadanya, hatinya hancur mendengarkan suaminya mempunyai perasaan pada wanita lain. Dengan cepat ia menutup pintu itu dengan hati-hati. Lalu bergegas ke kamarnya. Pantas saja, setelah kepulangannya, suaminya tampak sedih. Ia ingin menghiburnya, namun Viscount Elca selalu menghindarinya.