
Kini setahun telah berlalu, Kaisar Alex dan Pangeran Gabriel telah mengarahkan semua prajuritnya untuk mencari Anastasya. Selain itu Duke Rachid, Duke Erland, Sean dan Kendrix juga ikut mencari. Semua bangsawan Duke juga mengarahkan pengawal setianya untuk memeriksa wilayahnya masing-masing. Lain halnya dengan Enzo dan Enzi yang sangat terpukul dengan kehilangannya Permaisuri Anastasya. Mereka tak pantang semangat mencari Anastasya walaupun hasilnya sama saja.
Tak jarang pun Duke Erland jatuh sakit karna memikirkan Anastasya. Sedangkan Kaisar Alex dan Pangeran Gabriel badannya tidak terurus bahkan dagunya sudah di tumbuhi jenggot. Kaisar Alex pun mengabaikan tugas istana demi mencari keberadaan Anastasya.
Ketika pagi, siang mencari Anastasya dan malamnya mereka duduk berdua seraya di temani sebuah alkohol.
"Aku merindukannya," ucap Kaisar Alex seraya menuangkan alkohol ke dalam gelasnya itu.
Hahaha
"Aku sangat bodoh," lirih Kaisar Alex, ia kembali menangis.
Sedangkan Pangeran Gabriel menjadi orang pendiam, ia hanya menangis dan menyelesaikannya dengan alkohol.
"Yang Mulia," sapa Hector, ia tidak tega melihat kondisi Kaisar Alex dan Pangeran Gabriel yang begitu mengenaskan.
"Aku harus mencarinya kemana? bagaimana kabarnya? apa dia sudah makan? apa dia kedinginan? apa dia sudah memakai jubah penghangat?" tanya Kaisar Alex tersenyum miris, ia kembali meneguk alkohol di gelasnya.
Entah berapa botol yang mereka habiskan, setiap malam paling sedikit hanya 30 botol.
"Hormat hamba, Yang Mulia, Pangeran Gabriel dan para Kesatria." ucap salah satu pengawal menunduk hormat.
"Maaf Yang Mulia, hamba mengganggu waktu Yang Mulia. Di luar terjadi keributan, kedua Kesatria Kaisar Emerald ingin menemui Yang Mulia." tuturnya.
Segera Isak dan Hector memberi hormat lalu bergegas keluar, ia melihat kedua kesatria itu menyerang prajuritnya. Bahkan di masing-masing pedang mereka telah berlumur darah.
__ADS_1
"Hentikan, apa yang kalian lakukan disini dan membuat keributan?" teriak Hector dengan amarahnya yang mulai naik pitam.
"Merekalah yang menghalangi ku untuk bertemu dengan Kaisar Alex. Padahal aku datang kesini hanya ingin memberitaukan kondisi Permaisuri." tutur Alban.
Hector dan Isak terkejut, "Apa yang kalian lakukan pada Permaisuri?" teriak Isak.
"Cih, aku tidak butuh dengan ocehan kalian. Aku hanya butuh Kaisar Alex." ucap Arnod.
Hector dan Isak saling menatap, mereka saling mengangguk. Segera Hector menuju ke ruangan Kaisar Alex.
"Hormat hamba Yang Mulia. Kedua Kesatria Emerald tau dimana Permaisuri Yang Mulia." jelas Hector.
"Apa!!" teriak Kaisar Alex dan Pangeran Gabriel secara bersamaan. Mereka langsung menuju ke luar.
"Hormat hamba Yang Mulia." ucap Alban dan Arnod.
"Bisakah kita berbicara berdua Yang Mulia." ucap Arnod.
Kaisar Alex mengangguk, ia berlalu pergi di ikuti Arnod di belakang. Sesampainya di ruangannya, Kaisar Alex mengeluarkan aura tiraninya, ia langsung menghempaskan tubuh Arnod ke tembok. Hingga tembok itu retak.
"Kalian apakan Permaisuri," teriaknya.
"Sambutan yang mengesankan," Arnod berdiri, ia menyeka mulutnya yang keluar darah.
"Baiklah, tanpa basa basi lagi. Junjungan kami menginginkan tubuh Permaisuri. Dia menginginkan simbol yang berada dalam tubuh Permaisuri," ucapnya tersenyum sinis.
__ADS_1
Kaisar Alex terkejut, bagaimana mungkin Permaisurinya memiliki simbol. Setaunya dari dulu Permaisurinya tidak memiliki sebuah simbol.
Hahaha
Arnod tertawa melihat wajah keterkejutan Kaisar Alex, "Bagaimana mungkin seorang suami yang mencintai istrinya tidak tau hal itu, Sungguh suami yang sangat mencintai istrinya. Bahkan saat Selirnya pun berniat meracuni Permaisurinya. Dia tidak tau," Arnod tertawa mengejek.
"Jadi selama ini kalian masuk diam-diam ke istana ku,"
"Tentu saja, bahkan obat penawar racun itu. Junjungan kami lah yang memberikannya." jelas Arnod.
"Dan satu hal lagi Yang Mulia. Jika Yang Mulia ingin Permaisuri hidup. Maka sebagai gantinya Yang Mulia harus menggantikan tubuh Permaisuri."
Deg
Jantung Kaisar Alex seakan berhenti berdetak, apa ini memang nasibnya tidak di berikan kesempatan kedua, bahkan Tuhan sekalipun. Dalam hatinya ia berharap Tuhan akan memberikannya kesempatan kedua. Tanpa sadar Kaisar Alex meneteskan air matanya.
Sedangkan Arnod berjalan mendekati Kaisar Alex, "Aku suka kelemahan anda Yang Mulia, datanglah besok kami menunggu mu. Karna sebentar lagi akan ada bulan purnama." ucap Arnod seraya menepuk bahu Kaisar Alex yang mematung.
Kaisar Alex mengusap kasar wajahnya, Ia menangis tersedu-sedu. Dalam hatinya ia bertekad, akan melakukan apapun demi Permaisurinya. Sakit, sungguh sakit mungkin dirinya harus iklas mengalah.
Jika di lihat dari segi mana pun, Pangeran Gabriel lebih pantas. "Baik, aku akan kesana. Tapi aku tidak boleh memberitaukan Pangeran Gabriel. Jika pun aku mati, Pangeran Gabriel lebih pantas untuk Anastasya. Setidaknya aku pergi dengan tenang," Kaisar Alex mengingat wajah lembut Anastasya yang tersenyum, ia melangkah kan kakinya menuju ke arah kamar Anastasya, ia membaringkan tubuhnya.
"Setidaknya inilah pengorbanan terakhirku, aku harap kau mau memaafkan kesalahan ku Permaisuri." ucap Kaisar Alex seraya mengelus tempat tidur Anastasya dan memejamkan matanya, merasakan tubuh Anastasya berada di sampingnya.
"Tuhan apa aku salah, jika aku berharap memulai hidup baru untuknya." lirih Kaisar Alex memejamkan matanya dan air bening pun keluar dari matanya yang terpenjam.
__ADS_1