
Viscount Elca berlari ke arahnya, ia ingin mematahkan leher wanita menjijikkan itu. Sebelum tangan itu sampai, kedua pengawal di samping Liera menghadangnya dengan pedang.
Dan di waktu bersamaan itu, sebuah pintu di belakang Deros terbuka. Ke empat laki-laki bertubuh besar itu masuk dan menyodorkan pelatuk ke arah kepala Elca.
"Viscount Elca, jangan menyentuh ku. Sekali lagi kamu menyentuh ku dan berbuat kasar. Nyawa putra mu ada di tangan ku."
Viscount Elca menoleh, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia takut pelatuk itu menancap di kepala Deros. "Apa kamu tidak bisa menyayangi dan mencintai dia? Dia darah daging mu Liera. Dia putra mu, darah mu mengalir di dalam tubuhnya."
"Cukup ! jangan mengungkitnya. Aku tidak mau mengakuinya. Bahkan sebelum aku masuk ke dalam kediaman Viscount. Aku sudah berniat melenyapkannya. Gara-gara dirinya aku menahan malu."
"Yang di salahkan itu perbuatan mu, dirimu. Bukan putra mu yang tidak tau apa-apa." Bentak Viscount Elca. Ia berusaha menahan amarahnya, menjelaskannya. Berharap Liera ada sisi kelembutannya.
Liera yang mendengarkan Viscount Elca justru tertawa. "Dia tidak pantas jadi putra ku. Karena di dalam tubuhnya tidak ada darah mu." Liera melangkah ke depan dan kedua pedang yang menyilang itu pun terbuka. Kedua pengawalnya, siap siaga menjaga Liera di sampingnya.
"Aku mencintai mu, tidak bisakah kamu melihat ketulusan ku." Lirihnya seraya menggerakkan tangannya menyentuh pipi Viscount Elca.
Viscount Elca langsung menepisnya begitu saja. Ia tidak sudi, tubuhnya di sentuh oleh wanita iblis di depannya.
"Turuti mau ku atau pelatuk itu akan menancap di kepala putra mu."
"Jangan ayah, jangan kecewakan ibu. Biarkan aku, tinggalkan aku ayah." Teriak Deros. Hatinya sangat rapuh jika Viscount Elca sampai di sentuh oleh tangan kotornya.
__ADS_1
Viscount Elca mengepalkan tangannya. Ia tidak ingin mengkhianati Michelia, tapi ia tidak bisa melihat Deros mati.
Liera tersenyum, ia meraba pipi Viscount Elca yang memejamkan matanya. Urat-urat di tangannya bahkan terlihat. Bibirnya gemetar.
"Aku mencintai mu, Viscount." Liera berjinjit, ia menarik kerah Viscount Elca untuk mencium bibirnya.
Aaa
Teriakan itu membuat Liera menghentikan aksinya. Ia menoleh pada salah satu pengawal yang mengerang kesakitan di tangannya. Pelatuk itu pun terjatuh ke lantai. Hawa dingin masuk ke dalam ruangan itu. Sekali lagi empat pengawal itu mengerang kesakitan kedua tangannya langsung patah.
"Liera,"
"Michelia." Viscount Elca tersenyum, ia memang membutuhkan bantuan.
Michelia mengeluarkan semua aura membunuhnya di iringi kekuatannya berwarna ungu yang keluar dari tubuhnya. Ia menggunakan kedua tangannya, hingga kedua pengawal yang menghadang jalannya sama-sama terpental.
"Sayang." Viscount Elca langsung memeluk istrinya. Ia bersyukur, istrinya menghentikannya, tapi ia khawatir dengan tubuh Michelia apa lagi dalam ke adaan hamil.
Michelia tersenyum, ia menyentuh pipi Viscount Elca. Tatapanya beralih pada seorang anak kecil yang menangis menyebut namanya.
"Deros." Michelia berlari. Ia berjongkok dan mencium pipi kanan dan pipi kirinya. Lalu ke arah keningnya.
__ADS_1
"Sayang," Michelia mengeluarkan air matanya. Wajahnya lebam, bibirnya pucat dan mengeluarkan darah di sudut bibirnya. Pipinya terdapat goresan.
Viscount Elca membuka tali di tubuh Deros. Kedua Kesatrianya pun masuk, mereka melawan dua penjaga yang bersiap melawan. Sementara Liera, ia menatap tajam ke arah Michelia sambil memegang dadanya.
"Sudah lama aku ingin membunuh mu." Teriak Liera.
Viscount Elca menggertakkan giginya. Ia hendak melangkah. Namun Michelia memegang tangannya. "Biarkan aku saja yang menghadapinya. Kamu gendong Deros." Ujar Michelia seraya melangkah ke depan. Ia menggerakkan tangannya. Kekuatan berwarna ungu itu pun menuju ke leher Liera. Ia meremas tangannya, hingga Liera tak bisa bernafas.
Bruk
Liera terjatuh ke lantai. Ia berusaha bangkit, rasa benci, amarah menjadi satu. "Aku akan membunuh mu." Teriak Liera. Sedangkan Deros berusaha turun dari gendongan Viscount Elca. Hingga ia terlepas dan langsung berlari ke arah Liera seraya mengambil sebuah pisau yang ia letakkan di dalam perutnya. Langsung saja ia menancapkan pisau itu tepat di jantung kanan Liera.
"Sebelum kamu membunuh ibu ku. Aku yang akan membunuh mu. Sudah cukup kejahatan mu pada ayah dan ibu ku." Bentak Deros.
Liera menatap pisau itu, ia tersenyum dan tak menyangka. Putranya sendiri membunuhnya.
"Aku tidak menyesal, ketahuilah aku memang membenci mu dah ibu mu."
Huk
Liera memuntahkan darah segar keluar dari mulutnya. "Meskipun kamu bukan anaknya, tapi kamu memiliki keberanian seperti Viscount Elca." Liera tertawa.
__ADS_1
"Aku sangat membenci mu." Ucap Liera dengan hembusan nafas terakhirnya.
Deros terjatuh dengan posisi terduduk ke lantai. Michelia dan Viscount Elca berlari ke arahnya. Memeluknya dengan erat.