Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 2_kepergian Emma


__ADS_3

Segera Duke Rachid masuk, ia melihat Putri Maya dan Anastasya yang sedang berbincang.


Putri Maya menoleh saat Anastasya mengkerutkan dahinya. Ia juga begitu terkejut melihat laki-laki yang menuju ke arahnya.


"Hormat hamba, Permaisuri dan Putri Maya." ucapnya membungkuk dengan menaruh tangan kanan di dadanya sementara tangan kirinya berada di belakang pinggangnya.


"Ada apa Duke? duduklah." ucap Anastasya lembut.


"Emm, Permaisuri hamba datang kesini hanya ingin meminta maaf atas perbuatan hamba pada Putri Maya." tuturnya tanpa basa-basi.


"Aku sudah memaafkan mu, tapi untuk hubungan mu semuanya tergantung pada keputusan Putri Maya."


Duke Rachid menatap ke arah Putri Maya yang tampak acuh tak acuh. Ada rasa ragu dan tegang, berani tak berani ia harus mengatakannya.


"Putri hamba minta maaf atas perbuatan dan kelancangan hamba. Hamba mohon kebaikan Putri." ucap Duke Rachid.


Putri Maya menaikkan salah satu alisnya, "Kamu meminta maaf apa karna jabatan mu atau karna aku sebagai tunangan mu?" tanya Putri Maya menatap Duke Rachid.


"Hamba memutuskan untuk minta maaf sebagai atas nama tunangan Putri." jawab Duke Rachid.


Putri Maya berdiri, "Aku tidak ingin membahasnya sekarang. Aku lelah." ucap Putri Maya berlalu pergi.


Anastasya menatap punggung Putri Maya yang mulai menjauh, sedangkan Duke Rachid membeku. Putri Maya tidak mengatakan untuk memaafkannya.

__ADS_1


"Dia butuh waktu untuk mempertimbangkan hubungan kalian. Sebaiknya Duke memberikannya waktu."


"Baik Permaisuri," ucap Duke Rachid menunduk hormat dan berlalu pergi.


Di lain sisi.


Putri Viola mengajak Pangeran Abigail berkeliling istana. Saat di rasa lelah, Putri Viola mengajaknya ke labirin Cinta, harum bunga mawar mulai menyengat di hidung mereka. Terdapat bermacam kupu-kupu yang hinggap di bunga mawar itu. Mereka terus melangkah kan kakinya hingga terlihat kedua patung yang berada di tengah-tengahnya air mancur.


"Putri mereka siapa?" tanya Pangeran Abigail.


"Mereka adalah Kakek dan Nenek ku. Jika melihat mereka aku merindukan Kakek ku." desah Putri Viola dengan wajah lesu.


"Mari kita mengunjunginya Putri,"


Sementara di tempat lain.


Emma menangis, ia berharap bertemu dengan Pangeran Abigail untuk yang terakhir kalinya. Tapi semua itu hanyalah harapan semata. Pangeran Abigail tidak muncul dan ternyata ia mengetahui jika Pangeran Abigail berada di Kekaisaran Matahari.


"Pangeran sebegitu kah bencinya dia dengan ku," ucapnya pelan.


Tanpa Emma ketahui, perkataannya telah di dengrkan oleh Permaisuri Flavia yang baru saja datang, berniat untuk menemuinya.


"Dia bukan membencimu Emma, tapi dia sakit saat melihat mu di hukum."

__ADS_1


"Pergilah Emma, Yang Mulia berbaik hati untuk melepaskan mu." ujar Permaisuri Flavia dengan tegas.


"Tapi Permaisuri bukankah hamba.."


"Sudahlah, dirimu akan di asingkan di perbatasan. Jangan pernah muncul lagi di istana ini. Yang Mulia berubah pikiran dan mengadakan rapat lagi bersama bangsawan agar memaafkan mu. Dan mereka memiliki hati yang baik, mereka memberikan kesempatan pada mu untuk merubah sifat mu." potong Permaisuri Flavia.


Emma terlihat kebingungan, bukankah kejahatan yang dilakukannya adalah sesuai dengan hukuman penggal. Ia semakin penasaran.


Permaisuri Flavia mengerti kebingungan Emma, Ia pun melanjutkan perkataanya lagi.


"Kami mencontoh kebaikan hati Permaisuri Anastasya. Jika Permaisuri Anastasya mampu memaafkan kesalahan Elisha dulu. Maka kami ingin mengikuti kebaikan hatinya."


"Pergilah, Yang Mulia sudah menyiapkan kereta untuk mu."


"Terimakasih Permaisuri, hamba tidak akan pernah melakukannya lagi. Hamba akan pergi jauh Permaisuri."


"Pergilah, kamu akan tinggal di bagian barat." ucap Permaisuri Flavia meninggalkan Emma yang masih bersujud di lantai. Emma terharu, walaupun bagian barat hanya orang yang bercocok tanam. Tapi dia bahagia karna dirinya masih di berikan kesempatan hidup.


Emma pun pergi membawa semua pakaiannya. Ia menoleh, mengedarkan pandanganya melihat sekeliling istana. Dulu ia tumbuh disana mendapatkan kasih sayang semua orang, tapi sekarang dialah yang merusak hidupnya sendiri. Bahkan saat menaiki kereta pun tidak ada pelayan satu pun yang mengantarkan kepergiannya. Bahkan kepala pelayan pun enggan mengantarkan kepergiannya.


Emma yang masih menangis, ia melihat ke arah kastil tempat dimana ia tumbuh dan bermain bersama Pangeran. Kini dirinya harus berubah menjadi baik lagi, selama ia di berikan kesempatan hidup. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan lagi.


"Selamat tinggal Istana Emerald."

__ADS_1


__ADS_2