Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Bab 49_Berfikir


__ADS_3

Ke esokan paginya.


Anastasya bangun, ia menoleh ke arah laki-laki di sampingnya itu yang masih tertidur pulas.


Dengan hati-hati Anastasya menyingkirkan tangan kekarnya yang melilit di atas perutnya itu.


"Permaisuri, apa sudah bangun?" suara serak khas bangun tidur itu membuat Anastasya menatapnya yang masih memejamkan matanya.


"Tidurlah jika Pangeran masih lelah. Aku harus cepat bersiap-siap mengantarkan Enzo dan Enzi ke akademik."


"Boleh aku ikut," Pangeran Gabriel membuka matanya, menatap wajah Anastasya.


"Tidak perlu, bagaimana jika ada rumor yang tidak jelas." tolak Anastasya dengan lembut.


"Ah, baiklah. Tapi Permaisuri harus berhati-hati."


"Tenang saja Pangeran,"


Anastasya turun dari kasur empuknya dan bergegas ke kamar mandi.

__ADS_1


Selesai mandi Anastasya bersiap-siap dengan memakai gaun berwarna ungu dan rambut di kepang samping lalu di selipkan jepit rambut bermotif mawar berwarna ungu. Warna yang sama dengan gaunnya. Tak lupa pula Anastasya membawa kipas.


Semua persiapan yang di lakukan hari ini tanpa pelayan Mery membantunya. Karna dirinya memang sengaja. Agar pelayan Mery tidak tau jika di kamarnya ada Pangeran Gabriel.


Anastasya membuka pintu kamarnya, mendapati Mery yang hendak membuka pintu itu.


"Aku telah siap Mery, Ayo." Anastasya menutup pintu itu kembali dan menarik lengan Mery menuju ke kamar Enzo dan Enzi.


Sampai disana, Anastasya melihat Enzo dan Enzi berpakaian rapi di sampingnya ada Sean dan Duke Rachid yang telah membantu mereka.


"Apa kalian sudah siap?" tanya Anastasya diangguki Enzo dan Enzi.


Anastasya, Enzo, Enzi, Sean dan pelayan Mery langsung menuju kereta istana. Merekapun masuk kedalam kereta. Sementara Sean menggunakan kuda sebagai pengawalnya.


"Yang Mulia," seru salah satu pengawal, pengawal Hector. Pengawal setia Kaisar Alex yang ahli dalam berpedang dan memanah.


Hatinya merasa kasihan terhadap junjungannya. Mulai tadi malam Kaisar Alex tidak tidur hanya meminum alkohol untuk menenangkan pikirannya.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Kaisar menatap kereta istana yang mulai menjauh.

__ADS_1


"Maaf Yang Mulia, hamba berfikir lancang. Sebaiknya Yang Mulia memikirkan dengan matang-matang."


Kedua pengawal itu sudah tau permasalahan yang di hadapi Kaisar Alex. Sedari tadi malam ia hanya merancau tidak jelas. Namun mewakili perasaannya.


"Aku tidak ingin kehilangannya, tapi.."


"Sebaiknya Yang Mulia melepaskan Elisha, bukankah Yang Mulia dan Permaisuri sudah memberikannya gelar." timpal pengawal satunya. Pengawal Isak, pengawal yang ahli memanah dan tombak. Kedua pengawal itu sudah terlatih di bidang keahliannya masing-masing dan tentunya di bidang ahli tembak menembak.


Sejenak Kaisar Alex berfikir, apa dirinya setega itu terhadap Elisha. Menceraikannya dan hanya memberikannya sebuah gelar.


"Aku perlu memikirkannya,"


"Maaf Yang Mulia hamba lancang, jika dulu Yang Mulia tidak berfikir panjang saat mengabaikan Permaisuri. Tapi saat Yang Mulia harus memilih salah satu dari mereka, Yang Mulia masih berfikir panjang untuk melepaskan Elisha." sambung pengawal Isak.


Kaisar Alex menghembuskan nafasnya melalui mulutnya. Apa yang dikatakan kedua pengawalnya itu benar.


Seharusnya aku yang menemani mu hari ini. Aku ingin menghabiskan waktu dengan mu. Tapi untunglah kuman itu tidak ikut. Tunggu dulu apa dia tidur dengan Permaisuri?


Kaisar Alex mengkerutkan keningnya. Wajahnya sudah terlihat masam. Hal itu tidak boleh terjadi. Bagaimana jika dugaannya benar.

__ADS_1


Sebaiknya aku harus mengecek nanti sebelum Permaisuri kembali ke istana..


Sementara di luar pintu kamar Kaisar Alex. Terlihat wanita yang sudah mendengar jelas pembicaraan Kaisar Alex. Dirinya tidak akan membiarkan Kaisar Alex membuangnya. Ia harus secepatnya melenyapkan Anastasya dan memperkuat kepercayaan Kaisar Alex pada dirinya.


__ADS_2