Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 3_menahan kecewa


__ADS_3

"Putri Maya," panggil Anastasya, ia kembali menutup pintu kamar itu.


"Kamu kenapa?" Anastasya melihat wajah Putri Maya yang tidak bersahabat.


"Bagaimana dengan pestanya?" sambungnya lagi.


"Nona Ingrid ingin menjebak Duke, tapi aku mencegahnya. Untung saja jebakan itu dia makan sendiri." jawabnya seraya memeluk Anastasya.


Anastasya mengusap lembut kepala Putri Maya, "Tapi kenapa wajah mu masih kusut?" Anastasya melepaskan pelukannya, ia menatap bola mata itu. Seakan bola mata itu memiliki artian, jika pemiliknya sedang ada masalah.


"Paman memiliki seorang keponakan yang seumuran dengan Maya, apa Ibunda tau? Paman pernah mengingkari janjinya pada Maya. Maya baru tau sekarang."


Anastasya paham saat ini Putri Maya merasakan kecewa, tapi dia sebagai seorang Ibu harus mendukungnya agar lebih kuat agar tidak mudah menangis.


"Apa Putri Maya tau? Ibunda juga pernah mengalami seperti itu, bahkan Ayah mu menikahinya, Elisha. Dulu Ibu menyebutnya sebagai Ulet keket." ucap Anastasya tertawa.


"Buat apa kita menangisi seseorang yang membuat hati kecewa, semuanya tidak akan berubah. Jika Duke Rachid memang takdirmu, sejarak apa pun. Pasti kalian akan bersama."


"Bagaimana jika suatu saat dia seperti Nona Ingrid?"


Anastasya mengikuti ekor mata Putri Maya yang menatapnya ke bulan. "Apa kamu akan menyerah? jika Duke Rachid membuat mu kecewa. Setidaknya kamu tidak boleh menunjukkan jika kamu lemah di depan orang yang membuat mu kecewa. Buat seseorang menyesal dulu jika kamu ingin meninggalkannya. Satu pesan Ibunda untuk mu 'Tundukkan kepala mu jika kamu bersalah dan tegakkan kepala mu jika kamu benar' hanya itu." ucap Anastasya seraya menepuk pelan bahunya.

__ADS_1


Anastasya mengangguk, ketika Ana datang berniat untuk menyiapkan semua keperluan esok hari.


"Hah, Ibu kedatangan Ulet keket, Kakak kedatangan Nenek garang, lah aku baru saja membasmi Ulet tempel sekarang muncul u


Ulet belang. Tragis sekali hidup ku." ucapnya menghembuskan nafas kasar.


"Putri itu harus kuat, Permaisuri saja orangnya kuat kenapa Putri harus lemah." timpal Ana, Setelah mendengarkan ucapan Putri Maya, ia dapat menyimpulkan saat ini akan ada masalah lagi yang menimpanya.


Putri Maya duduk di tepi ranajangny, ia masih melihat Ana yang mondar-mandir memindahkan pakaian di lemarinya ke Kotak besi yang berukuran sedang.


"Bagaimana jika dia orang baik? aku tidak tega menyakitinya."


"Baik di depan belum tentu baik di belakang Putri, masak Putri tau isi hatinya."


"Sebaiknya Putri harus istirahat, besok Putri harus berangkat pagi. Hamba jadi ingin menangis." Pelayan Ana mengelap matanya, ia tidak bisa menahan air matanya. Anak yang ia asuh semenjak kecil kini harus meninggalkannya dalam satu tahun.


"Ck, jangan menangis, aku akan secepatnya menyelesaikan Akademik ku, biar kita bisa berkumpul kembali." ucapnya tersenyum, ia berdiri lalu memeluk pelayan Ana.


"Putri, harus menjaga kesehatan Putri disana."


Putri Maya melepaskan pelukannya, "Siap."

__ADS_1


Putri Maya dan pelayan Ana akhirnya tertawa untuk menghiasi malam itu, yang akan menjadi malam terakhirnya di istana.


Keesokan harinya.


Putri Maya telah bersiap untuk berangkat, ia turun dari kamarnya menuju ke ruang keluarga. Di sana ada Anastasya, Putri Viola, Kaisar Alex, Pangeran Abigail, Pangeran Enzo dan Enzi.


Anastasya berdiri, ia menyambut pelukan Putri Maya, "Jagalah kesehatan mu, cepatlah pulang."


Putri Maya menangis, ia beralih memeluk Kaisar Alex. "Putri Ayah jangan menangis, Ayah saja kuat membuat mu." Putri Maya menghapus air matanya, ia terkekeh mendengarkan perkataan Kaisar Alex.


Sementara Anastasya langsung mencubit pinggang Kaisar Alex. Lagi-lagi dirinya harus panjang lebar menasehati Kaisar Alex yang tidak ada habis-habisnya.


Putri Maya beralih berpelukan dengan Putri Viola, setelahnya Pangeran Enzo dan Enzi. Untuk Pangeran Abigail ia hanya menunduk dan memberikan hormat.


Perlahan Putri Maya melangkahkan kakinya menuju keluar, ia masih menunggu kedatangan seseorang yang tak lain Duke Rachid. Namun yang di tunggu-tunggu belum memunculkan batang hidungnya. Sudah setengah jam ia melihat ke arah gerbang, tapi yang di harapkan belum datang. Hingga seseorang memakai baju zirah, menaiki kuda turun.


"Hormat hamba Putri. Tuan tidak akan datang kesini. Tuan ada perintah dadakan untuk menjemput Nona Hilda. Tuan hanya memberikan ini pada Putri."


Putri Maya membuka kotak itu, terdapat jubah hangat berwarna merah. Ia meraba bulu putih jubah itu dan meremasnya.


"Ambilah Ana, aku mengucapkan terimakasih. Tolong sampaikan pada Duke." ucap Putri Maya datar dan berlalu pergi, ia mengepalkan tangannya yang mulai bergetar.

__ADS_1


"Ana, bawa kembali yang di berikan oleh Duke, aku akan mengembalikannya setelah pulang dari Akademik." ucap Putri Maya tajam seraya menaiki kereta kuda istana.


__ADS_2