
Setelah kejadian di pesta itu, kini pertunangan Pangeran Abigail dan Putri Viola bertambah lengket, dimana ada Putri Viola pasti ada Pangeran Abigail. Dan saat ini kedua pasangan itu bersanda gurau, dan saling menggelitiki.
"Geli Pangeran," Putri Viola tertawa, ia tidak mau kalah. Jadilah kedua pasangan itu saling menggelitiki.
"Ah, acu meinducan paman," seru seorang gadis kecil yang merasa iri melihat kedua orang di depannya itu.
Putri Viola dan Pangeran Abigail berhenti, ia secepat kilat menoleh ke arah Putri Maya.
"Apa Adik merindukan Duke?" tanya Putri Viola, ia melihat sang Adik dengan wajah cemberut.
"Betul,"
"Apa Duke itu tampan?" tanya Pangeran Abigail, ia merasa penasaran siapa sosok Duke yang di rindukan Adik iparnya.
"Tentu saja Acak ipar,"
"Berhentilah memikirkan Duke, dia itu pantas jadi Ayah mu, Adik." seru Putri Viola menggelengkan kepalanya pelan.
"Inta icu idak pandang ucia, Acak."
Putri Viola hanya berdehem, ia merasa aneh dengan Adiknya yang sangat menempel pada Duke. Padanya saja dia tidak seperti itu. Putri Viola tak ambil pusing, terserah nantinya di antara mereka.
"Hormat hamba Pangeran, maaf mengganggu waktu Pangeran. Nona Emma tak sadarkan diri Pangeran." ucap seorang pelayan yang membuat Pangeran Abigail langsung terkejut.
"Apa? kenapa bisa seperti itu? Apa kalian tidak menjaga Emma dengan baik?"
"Pangeran sebaiknya kita melihat keadaannya dulu. Pangeran jangan khawatir."
__ADS_1
hais, Nenek garang itu membuat ulah apa lagi batin Putri Maya, Ia mengikuti kedua Kakaknya.
Pangeran Abigail masuk ke dalam kamar Emma, ia mendengarkan seorang Dokter yang memberikan resep obat.
"Pangeran," panggil seorang gadis yang berwajah pucat. Ia tersenyum lalu beranjak duduk. Tanpa basa-basi dia memeluk Pangeran Abigail yang berdiri di sampingnya.
"Aku merindukan Pangeran,"
Pangeran Abigail mendorong pelan tubuh Emma, ia takut Putri Viola salah paham terhadapnya, tapi Emma tidak menyerah, ia kembali memeluk Pangeran Abigail.
"Jangan seperti ini Emma,"
Ada rasa tidak suka di hati Emma, hatinya mengumpat sumpah serapah, "Kenapa? apa Pangeran sudah tidak menyayangiku?"
Cemburu itu lah yang di rasakan oleh Putri Viola. Namun Putri Viola tidak bisa melerai pelukan mereka, tidak bisa membawa Pangeran Abigail pergi begitu saja. Ia takut Pangeran Abigail merasa tersinggung, mengingat Emma adalah teman masa kecilnya.
"Emm Putri," Pangeran Abigail ingin menyusul Putri Viola. Namun pelukan erat itu tidak bisa melepaskannya.
"Jangan seperti ini Emma," ucap Pangeran Abigail dengan suara meninggi.
Amarah Emma memuncak, "Kenapa? apa Pangeran tidak suka dengan Ku, yang menemani Pangeran sedari kecil. Kenapa Pangeran malah bertunangan dengannya?" teriak Emma, ia sudah tidak bisa menahan kekesalan.
"Cukup Emma, Aku menganggap mu hanya sebagai teman, tidak lebih. Aku mohon jangan merusak hubungan kita hanya karna keegoisan mu Emma."
Emma menunduk, ia mulai menangis tersedu-sedu, "Maaf Pangeran. Aku akan coba melupakan Pangeran."
Untuk sekarang Aku mengalah, Aku tidak bisa memaksa Pangeran tapi lihat saja, Aku akan buat Pangeran menyadarinya, jika Aku lah yang pantas untuknya.
__ADS_1
"Baiklah, kali ini aku akan melupakan kejadian ini, dan setelah ini minta maaf lah pada Putri Viola," ucap Pangeran Abigail, ia pergi meninggalkan Emma yang meremas selimutnya.
prang
Gelas yang berada di meja sebelah tempat tidurnya menjadi sasaran kemarahan Emma.
Di tempat lain, langkah Pangeran Abigail melebar, ia tergesa-gesa mencari Putri Viola, ia juga menanyakan ke beberapa pelayan. Dan pelayan pun mengatakan jika mereka melihat Putri Viola menuju kastil kecilnya. Segera Pangeran Abigail menuju ke tempat itu.
Brak
"Putri," teriak Pangeran Abigail dengan nafas memburu.
Secepatnya Putri Viola menoleh, "Ada apa Pangeran?" masih terasa ada kelembutan di suaranya.
Pangeran Abigail menuju ke suara itu, lalu memeluk Putri Viola, "Maaf, maaf.."
"Kenapa Pangeran minta maaf?"
"Atas kesalahan tadi,"
"Ya, aku bukanlah orang munafik, Aku memang cemburu. Tapi aku juga tidak berhak melarang Pangeran."
"Aku menyukai Putri,"
"Sama, Aku juga menyukai Pangeran."
Tiba-tiba rasa sakit menjalar di tubuh Pangeran Abigail, ia merasakan sakit luar biasa di seluruh tubuhnya dan ambruk di pelukan Putri Viola.
__ADS_1