
Putri Viola menatap haru melihat lukisan di tangannya. Terlihat Pangeran Abigail tidur di pahanya dan menyentuh pipinya itu.
"Aku tampan kah," tanya Pangeran Abigail.
"Jelas," ucap Putri Viola tersenyum.
Tuan Harnod tersenyum melihat sepasang sejoli itu, ia merasakan dirinya masih muda, apalagi dia teringat almarhum istrinya.
"Kalian pasangan serasi, semoga Tuhan melimpahkan kasih sayang untuk Pangeran dan Putri." seru Tuan Harnod.
"Terimakasih atas doanya Tuan Harnod dan Mira berikan dia upahnya," perintah Pangeran Abigail.
"Baik Pangeran."
Kini tinggal lah mereka berdua yang berada di tengah-tengahnya bunga tulip.
Pangeran Abigail membaringkan tubuh Putri Viola, ia mengusap bibir lembut itu dan mencium, **********. Merasakan kenikmatan harum mint di mulut Putri Viola.
Putri Viola pun mengalungkan tangannya di leher Pangeran Abigail, mereka merasakan sensasinya kehangatan ciuman yang mulai memanas itu.
Pangeran Abigail melepaskan ciumannya. Ia beranjak duduk dan menarik nafasnya. Jiwa kelakiannya mulai menegang.
"Maaf,"
"Tunggu sebentar lagi Pangeran." ucap Putri Viola menggenggam tangan Pangeran Abigail.
"Ayo kita menemui Emma."
__ADS_1
Pangeran Abigail memalingkan wajahnya, "Aku tidak mau."
"Setidaknya Pangeran menemuinya untuk yang terakhir kalinya." bujuk Putri Viola.
"Hemz, baiklah." Pangeran Abigail beranjak berdiri, ia pasrah mengikuti kemauan Putri Viola. Dengan senyuman yang merekah ia menjulurkan tangan kanannya untuk membantu Putri Viola berdiri. Sedangkan Putri Viola langsung menyambut uluran tangan Pangeran.
Sesampainya di penjara, Pangeran Abigail dan Putri Viola melihat seorang wanita tidur di jerami dengan pakaian putih dan rambut acak acakan dan ada jejak darah di tangannya serta di pakaiannya.
Deg
Pangeran Abigail merasakan sakit di hatinya, baru kali ini dia melihat orang terdekatnya tersiksa, tapi hatinya lebih sakit saat ia mengetahui orang terdekatnya menjebaknya.
"Emma," sapa Putri Viola.
Wanita yang di sapa oleh Putri Viola beranjak duduk, ia menoleh dan melihat wajahnya. Dengan tertatih-tatih ia menyeret langkah kakinya. Ia tersenyum melihat seseorang yang di rindukannya. Ternyata orang itu malah memalingkan wajahnya.
"Pangeran," gumamnya.
"Aku baik-baik saja Putri dan terimakasih masih menjenguk hamba." ucapnya tersenyum seraya melirik ke arah Pangeran Abigail.
"Pangeran Maaf, hamba melakukan sesuatu yang jahat. Hamba mohon maaf telah menghancurkan hidup Pangeran." Ia tau Pangeran Abigail tidak akan menoleh atau pun membalas perkataanya. Ia yakin Pangeran Abigail sudah pasti sangat membenci dirinya.
Pangeran Abigail memejamkan matanya, ia tidak kuat hingga air mata kembali keluar, "Kenapa kamu melakukan itu Emma? kamu tau aku tidak bisa kehilangan orang terdekat ku, tapi perbuatan mu membuat hati ku sakit Emma."
Emma menangis tersedu-sedu, ia mengusap kedua matanya yang sudah sembab. "Maafkan hamba Pangeran."
Pangeran Abigail mengusap air matanya, ia tidak tahan di ruangan itu, meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Putri, hamba harap Putri bisa menjaganya," Emma memegang kedua tangan Putri Viola.
Ada rasa tidak tega di hati Putri Viola, ia berniat ingin membebaskan Emma.
"Emma aku akan memohon agar Yang Mulia membebaskan mu,"
Emma menggeleng, "Hamba titip Pangeran. Putri tidak perlu melakukan hal seperti itu. Memang hukuman ini pantas untuk hamba. Tolong jaga Pangeran." ucap Emma, ia langsung membalikkan badannya. Ia tidak ingin melihat Putri Viola. Jika mengingat tentang pernikahan mereka dadanya akan semakin sesak.
"Baiklah, aku janji akan membahagiakannya."
Saat Emma mendengarkan pintu penjara tutup kembali, tubuhnya ambruk di lantai. Ia memukul dadanya. Rasa nyeri itu semakin bertambah.
argh
"Pangeran ..."
Lain halnya dengan Putri Viola yang tergesa-gesa menuju ke kamar Pangeran Abigail. Ia membuka pintu kamar itu dengan kasar dan mendapati Pangeran Abigail yang melihat ke arah luar jendela.
"Putri," Pangeran Abigail langsung memeluk Putri Viola.
"Jangan kesana lagi," Pangeran Abigail menangis, hatinya semakin sakit.
"Besok adalah hukuman untuk Emma. Aku ingin keluar istana." Pangeran Abigail melepaskan pelukannya, ia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Putri Viola.
"Baiklah kita minta ijin dulu," ucap Putri Viola yang diangguki oleh Pangeran Abigail.
Setelah meminta ijin pada Kaisar Emerald dan Permaisuri Flavia untuk kembali ke Kekaisaran Matahari dan melangsungkan pernikahannya disana.
__ADS_1
Mereka berpamitan dengan seluruh anggota istana, yang mengikuti rombongan Pangeran Abigail hanyalah pelayan Mira, pelayan Clara dan Arnod. Sedangkan sisinya akan mengurus hukuman Emma.
Kini Putri Viola dan Pangeran Abigail menaiki kereta sedangkan Kedua pelayannya menaiki kereta lainnya. Ada rasa haru di setiap hati seluruh anggota istana, ternyata Pangeran yang di jaga dengan baik, yang di khawatirkan semenjak dulu. Kini Pangeran itu akan menempuh hidup baru, bersama orang yang menerima semua kekurangannya. Seluruh anggot istana merasakan syukur tida tara pada saat itu.