
Suasana tegang, suasana sedih terjadi di ruangan itu, setelah melihat Pangeran Abigail terbaring lemah dengan wajah memucat. Dokter istana pun memeriksa seluruh tubuhnya dengan teliti.
"Bagaimana keadaanya?" tanya Kaisar Emerald khawatir, sementara Permaisuri Flavia menangis tersedu-sedu.
"Sepertinya tubuh Pangeran kambuh, hamba sudah memberikan obat serta salep untuk luka di tubuhnya." tutur Dokter istana.
Pangeran Abigail menggerakkan tangannya, ia memegang kedua matanya yang merasakan sakit.
"Ibunda sakit," teriaknya.
Kaisar Emerald tak bisa menahan tangis, ia pun ikut menangis melihat Putranya lagi-lagi merasakan kesakitan. "Sebenarnya apa yang terjadi ini masih belum bulan purnama?" ucap Kaisar Emerald.
Tanpa berfikir panjang, Putri Viola memeluk erat Pangeran Abigail, ia ingin Pangeran Abigail membagi rasa sakitnya.
"Tenanglah Pangeran," serunya seraya menepuk punggung Pangeran Abigail.
15 menit kemudian.
Pangeran Abigail tertidur di dalam pelukan Putri Viola. Ia membaringkan tubuh Pangeran Abigail.
"Sebaiknya kita pergi, biarkan Putri Viola yang menemaninya." ucap Anastasya.
Melihat Pangeran Abigail yang tertidur pulas, akhirnya semua orang disana merasa lega. Mereka pun memasrahkan Pangeran Abigail bersama Putri Viola.
Tak terasa bulan telah menyapa, angin malam yang berhasil menerobos masuk melewati jendela. Membuat kedua orang itu tambah mengeratkan pelukannya.
"Emmm.."
Putri Viola mulai membuka matanya, pertama kali yang ia lihat wajah Pangeran Abigail. Putri Viola mengkerutkan dahinya, ia mulai mengingat kejadian sebelumnya sampai ia bisa tidur dengan Pangeran Abigail. Putri Viola menarik tanganya yang masih di genggam erat oleh Pangeran Abigail.
__ADS_1
Putri Viola berniat turun dari ranjangnya, tapi di hentikan oleh sebuah suara.
"Putri ..."
Putri Viola kembali mendekat ia mengelus lengan Pangeran Abigail.
"Tidurlah," ucapnya lembut.
Pangeran Abigail membuka matanya, ia mengedarkan pandangannya. Langit-langit bercat putih, lemari berwarna coklat dan lukisan dirinya bersama kedua orang tuanya serta lukisan dirinya bersama sang Adik.
Pangeran Abigail masih diam, ia melihat seseorang yang mengelusnya, seseorang yang ia kenal harum tubuhnya. Tanpa terasa air matanya turun, dengan sigap Putri Viola menghapus air mata yang keluar itu.
"Kenapa? apa ada yang sakit?" tanya Putri Viola menatap khawatir.
Pangeran Abigail langsung memeluk Putri Viola, ia kembali menatap Putri Viola dan kembali memeluknya.
Putri Viola merasakan keheranan, ia melepaskan pelukannya.
"Aku bisa melihat, aku bisa melihat. Akhirnya aku bisa melihat wajah tunangan ku," Pangeran Abigail kembali memeluk Putri Viola.
Putri Viola terdiam, ia masih mencerna perkataan Pangeran Abigail.
"Be, benarkah."
Pangeran Abigail melepaskan pelukannya, ia memegang kedua pipi Putri Viola, "Benar aku bisa melihat Putri." ucapnya lagi.
Putri Viola segera memeluk Pangeran Abigail, ia merasakan kebahagian yang luar biasa, Nafasnya naik turun, ia menghapus air mata yang mulai membasahi pipinya itu.
"Siapapun di luar, cepat panggil Permaisuri Emerald dan Kaisar Emerald." teriak Putri Viola.
__ADS_1
Segera dua pengawal yang mendengarkan teriakan Putri Viola, salah satu diantara mereka lansung mencari Kaisar Emerald.
Brak
"Putri ada apa?" teriak seseorang dari arah pintu dengan nafas naik turun.
"Ayah," teriak Pangeran Abigail yang turun dari ranjang, ia memeluk Kaisar Alex yang masih berdiri di ambang pintu itu.
"Ayah, aku bisa melihat Ayah." serunya menangis di pelukan Kaisar Emerald.
"Benarkah," timpal Permaisuri Flavia.
Pangeran Abigail mengangguk, merekapun berpelukan, menumpahkan rasa kebahagian yang mereka harapkan selama ini.
Permaisuri Flavia melepaskan pelukannya, ia berlari menuju Putri Viola.
"Terimakasih berkat Putri Pangeran sembuh." ucapnya sambil memeluk Putri Viola.
"Tidak seperti itu, hamba tidak melakukan apa-apa." ucap Putri Viola tersenyum, ia membalas pelukan Permaisuri Flavia.
Lain halnya, Anastasya yang mendengarkan perkataan Permaisuri Flavia, ia pun merasa curiga. Tidak mungkin Pangeran sembuh secara kebetulan, ia kembali teringat dengan perkataan Ketua istana.
Anastasya menyadarkan lamunannya, "Pangeran selamat atas kesembuhan Pangeran."
"Permaisuri," Pangeran Abigail tersenyum ia memeluk Anastasya begitu erat.
Sementara Kaisar Alex melebarkan matanya, darahnya mendidih, nafasnya memburu, amarahnya sudah sampai ke ubun-ubunnya. Segera ia melerai pelukan itu dan menatap tajam ke arah Pangeran Abigail.
"Jangan pernah memeluknya, jika Pangeran menyukai Putri ku Viola, ya jangan memeluk Ibunya, dia punya ku, bukan punya Pangeran. Seenaknya saja memeluknya." bentak Kaisar Alex.
__ADS_1
Seketika Pangeran Abigail menunduk, "Maaf Ayah." cicitnya
Semua orang yang melihatnya hanya terkekeh. Mereka tak habis pikir, Kaisar Alex yang terkenal kejamnya, langsung tunduk pada seorang wanita yang mampu melelehkan hati sekeras baja itu.