Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
S4 : Bisakah nanti


__ADS_3

Suasana ruangan itu semakin tegang. Duke Elios dan Caroline dengan ragu-ragu memasuki ruangan itu. Mereka merasakan firasat tidak enak di hatinya. Mereka berharap, semoga tidak terjadi sesuatu.


"Yang Mulia Duke," Duke Elios menoleh ke arah istrinya. Ia menggenggam tangannya begitu erat.


Laki-laki gagah yang melihat ke arah luar jendela dengan di temani seorang wanita yang duduk di sebuah kursi. Sepasang insan itu sama-sama melihat ke arah luar jendela.


"Apa ada sesuatu yang, Yang Mulia Duke butuhkan?" tanya Duke Elios dengan gugup.


Duke Rachid memutar tubuhnya, ia menatap sepasang suami istri di depannya. Semakin gugup pula Caroline dan Duke Elios.


"Apa kalian sudah mengetahui?"


"Me, mengetahui apa Yang Mulia, kami tidak mengerti." Ujar Duke Elios. Bukan karena ia takut berperang, tapi ia takut dengan perasaan putranya.


"Viscount Elca." Seketika Duke Elios tertegun.


"Aku tau kita sama-sama kuat. Akan tetapi berperang tidak akan menyelesaikan masalah,"


"Masalah kali ini, kita bicarakan dengan kepala dingin. Sebaiknya Yang Mulia Duke dan Duchess duduk."


Duchess Maya menguatkan hatinya, bagaimana bisa putri semata wayangnya menyukai seorang laki-laki yang sudah memiliki istri? ia tidak bisa menerimanya.


"Masalah itu, kami sudah tau, tapi kami sudah berusaha membuat Viscount Elca mengurungkan niatnya."

__ADS_1


"Hah," Duke Rachid memejamkan matanya. Ia mengusap wajahnya secara kasar. "Lalu apa yang harus aku lakukan? aku tidak bisa membiarkan putri ku menjadi istri putra kalian. Meskipun mereka saling mencintai."


"Aku tidak mau, aku tidak mau putri ku menyakiti wanita lain." Timpal Duchess Maya. Duchess Caroline mengeluarkan air matanya, ia terharu. Duchess Maya bukan memikirkan perasaan putrinya, tetapi saat genting seperti ini malah memikirkan perasaan orang lain. Jika dia mau, mungkin Duchess Maya akan menyuruh Viscount Elca menceraikan Liera.


"Dia sedang mengandung kan,"


"Ayah, Ibu, Yang Mulia Duke dan Duchess." Ujar Viscount Elca. Ia memberi hormat dan munculah Michelia, Liera dan Anabella di belakang tubuhnya.


"Kemarilah, kami juga penting pada kalian."


Duke Rachid berdiri, ia memperhatikan ketiga orang yang menunduk.


"Viscount Elca, kamu tau kan kesalahan mu," pekik Duke Rachid.


"Aku salah, karena sudah menyimpan rasa untuk nona Michelia." Ujar Viscount Elca mengakui kesalahannya.


"Sebaiknya kalian tidak boleh berhubungan lagi, ini demi kebaikan kalian."


"Aku tidak mau," Viscount Elca bersimpuh di hadapan Duke Rachid seraya menunduk. "Tolong jangan pisahkan aku dengannya." Viscount Elca semakin terisak. Tidak ada yang bisa membantunya, Caroline atau pun Duke Elios. Selama tidak menyakiti Viscount Elca secara fisik. Mereka tidak akan turun tangan, biarkan Viscount Elca belajar dari kesalahannya.


"Viscount !" Michelia merangkup tubuh Viscount Elca. Ia menatap ayahnya, kemudian beralih ke arah Liera yang terus mengeluarkan air matanya.


"Sepertinya kamu paham Michelia, berbicaralah dengan Viscount Elca. Aku yakin kamu mengerti dan dia akan paham sebagai seorang suami. Bicaralah dari hati ke hati dan besok kita akan pergi dari sini." Ujar Duke Rachid memberikan hormat di susul oleh Duchess Maya. Mereka pun keluar dari ruangan itu menuju kamar mereka untuk bersiap-siap.

__ADS_1


"Bicaralah, kalian butuh ruang." Ujar Duke Elios, ia juga pergi bersama Duchess Caroline. Untuk memberikan ruang pada mereka.


"Michelia," Viscount Elca menatap wajah Michelia dengan tatapan, ia tidak ingin berpisah dan berubah menjadi orang asing.


"Viscount Elca aku tau perasaan mu pada ku, begitu pun aku. Aku mencintai dirimu."


Liera memejamkan matanya, hati dan tubuhnya semakin panas. Ia sudah siap dengan keputusan kedua orang di depannya.


"Aku paham, Liera dan bayinya membutuhkan mu."


"Michelia."


Michelia menyentuh bibir Viscount Elca. "Jika kamu mencintai ku. Tolong jaga Liera dan bayinya dengan baik."


Liera terkejut, ia tak bisa mengkedipkan matanya menatap Michelia. Seharusnya gadis itu mmintanya berpisah.


"Aku akan menjadi orang yang berdosa membuat ingkar sebuah wasiat dari seseorang. Aku menganggap anak Liera juga seperti anak ku."


"Michelia, aku mohon jangan katakan apa-apa lagi." Viscount Elca menggenggam erat tangan Michelia.


"Tolong, demi aku. Aku mohon." Michelia merangkup kedua pipi Viscount Elca. "Jaga Liera dengan baik. Anggaplah putranya seperti putra mu sendiri."


"Jika Viscount mencintai ku, maka lakukan seperti apa yang aku mau."

__ADS_1


Liera menarik nafasnya dan meremas bajunya. "Nona Michelia, bisakah nanti nona kembali menjaga Viscount Elca dan bayi ku." Ujar Liera. Biarlah dia menjadi orang egois untuk sekarang.


Michelia tersenyum, ia langsung melangkah keluar meninggalkan Viscount Elca yang masih menunduk dalam tangisnya. Hatinya sudah tidak kuat memberikan sesuatu yang ia cintai menjadi milik orang lain.


__ADS_2