Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Bab 51_Wanita sombong


__ADS_3

Sementara Anastasya yang sudah sampai di istana, ia turun dari keretanya dan menuju ke kamarnya. Ia berniat melihat Pangeran Gabriel, apakah sudah pergi dari kamarnya. Saat Anastasya ingin membuka pintu, tiba-tiba suara tegas menghentikannya.


"Permaisuri," Anastasya menoleh, ia hanya menaikkan salah satu alisnya.


"Kalian pergilah, aku hanya ingin berbicara berdua dengan Permaisuri dan ingat tidak boleh ada yang mendekat ke kamar Permaisuri." perintah Kaisar Alex kepada bawahannya. Kaisar Alex membuka pintu kamar Anastasya dan menarik lengannya. Sesampainya di dalam Kaisar Alex menutup kembali pintu itu dan melepaskan genggamannya di lengan Anastasya. Ia segera menuju ranjang Anastasya mempertajam penciumannya. Aroma maskulin, Kaisar Alex menatap tajam Anastasya.


"Apa dia tidur disini?" tanya Kaisar Alex dengan dingin.


Anastasya masih memperhatikan tempat tidurnya yang sudah bersih, "Ternyata dia sudah pergi," gumamnya. Ia belum sadar jika Kaisar Alex berbicara padanya.


"Permaisuri," bentak Kaisar Alex membuat Anastasya terkejut.


"Apa dia tidur disini?" tanya nya lagi. Masih dalam nada dingin.


"Jika ya memang kenapa? suka-suka dia lah, dia kan suami ku juga." jawab Anastasya dengan santai.


Perkataan Anastasya menyulut api di hati Kaisar Alex. Ia menggertakkan giginya, "Anastasya," teriak Kaisar Alex dengan amarah merah padam.


Anastasya berjalan ke arah ranjangnya, ia duduk bersendekap dan menyilangkan kakinya, "Apa? apa Yang Mulia memikirkan hal lainnya. Pantas bukan, jika suami istri." ucap Anastasya menekan kan kata suami istri.


Kaisar Alex menghampiri Anastasya, ia mendorongnya Anastasya dan membuka gaunnya dengan kasar. Sedangkan Anastasya memberontak ia memegang lengan Kaisar Alex.


"Lepaskan, katakan dimana dia melakukannya?" teriak Kaisar Alex. Di sini, disini," Kaisar Alex menunjuk bibir Anastasya lalu ke arah dua gunung kembarnya.


Tanpa berfikir panjang Kaisar Alex mencium bibir Anastasya, ia ******* bibir Anastasya dengan kasar. Jiwanya terasa terbakar, Kaisar Alex tidak memperdulikan Anastasya yang memukul dadanya, rasa sakit yang akibat pukulan Anastasya tidak sebanding dengan rasa sakit di dadanya itu.


Ia menggigit bibir Anastasya. Hingga Anastasya membuka bibirnya itu.

__ADS_1


Kaisar Alex ********** dengan lembut.


Lima belas menit kemudian, Kaisar Alex menghentikan ciumannya. Ia menatap Anastasya dengan tatapan nanar.


"Kenapa Permaisuri melakukannya?" tanya Kaisar Alex, kini hatinya mengalahkan egonya. Ia tidak mungkin memaksa Anastasya berhubungan dengannya karna paksaan. Ia takut Anastasya bertambah membencinya.


"Dan kenapa Yang Mulia melakukannya?" tanya Anastasya menatap lekat Kaisar Alex.


Kaisar Alex tergegun, ia menunduk, "Maaf, maafkan aku Permaisuri. Aku hanya ingin memulainya dari awal." Kaisar Alex menenggelamkan kepalanya di dada Anastasya.


"Bisakah Permaisuri memaafkan ku," ucap Kaisar Alex dengan mata bekaca-kaca. Tanpa sadar air matanya keluar. Ia tidak memperdulikan sifat tegasnya. Ia sadar apa yang dilakukannya salah. Kini ia mulai menyadari. Kaisar Alex terisak dalam tangisannya membuat Anastasya tidak mempercayainya. Lelaki arogant, kejam yang kini menundukkan kepalanya di hadapannya.


Anastasya tersenyum, entah itu bisa di maafkan atau tidak. Tapi jujur hatinya masih menyimpan rasa sakit. "Aku tidak melakukan apapun dengan Pangeran Gabriel. Bisakah Yang Mulia berdiri." ucap Anastasya.


Seketika Kaisar Alex bangkit, "Benarkah?" tanya Kaisar Alex..


"Ya, benar. Bisakah Yang Mulia keluar aku lelah." ucapnya dengan nada memohon. Kali ini ia tidak akan berdebat, memperpanjang masalah tadi. Tubuhnya terasa letih.


Anastasya memijat pelipisnya, "Di usir satunya, eh malah datang satunya." gumam Anastasya.


Sengatan listrik pun terjadi di antara Pangeran Gabriel dan Kaisar Alex.


"Jika kalian ingin berdebat keluarlah. Apa kalian tidak mengerti, aku lelah." teriak Anastasya menatap tajam ke arah dua orang itu.


"Maaf Permaisuri."


Tanpa sadar Kaisar Alex dan Pangeran Gabriel mengucapkannya secara bersamaan.

__ADS_1


Merekapun menunduk dan berlalu pergi dengan wajah kesal.


Siang berganti sore dan sore berganti malam. Anastasya hanya tidur di kasur empuknya. Ia tidak berniat keluar dari kamarnya. Jika lapar Mery lah yang akan membawakannya ke kamar. Sementara Kaisar Alex dan Pangeran Gabriel sama-sama mengerti jika Anastasya tak ingin di ganggu.


Ke esokan paginya..


Sesuai jadwalnya, hari ini Elisha akan berangkat ke kota. Ia akan berkeliling sesuai apa yang ia inginkan dan terlebih lagi, ia akan mengunjungi sebuah toko kue yang membuatnya penasaran.


Setelah berpamitan dengan Kaisar Alex, Elisha menaiki kereta kudanya. Tak terasa kereta itu telah sampai di Kota. Kereta Elisha berhenti di sebuah toko Kue dengan warna tembok berwarna hijau. Kondisi toko kue itu lumayan rame, bahkan Elisha yang sudah datang pagi-pagi melihat antrean yang lumayan panjang. Elisha berjalan ke arah pintu toko kue itu, disana ia melihat seorang pelayan wanita yang menyuarakan agar mengantri dengan tertib.


"Nyonya, sebaiknya Nyonya mengantri." ucap pelayan itu.


"Aku tidak perlu mengantri," ucapnya dengan nada angkuh.


"Tapi Nyonya, ini masalah ketertiban. Silahkan mengantri." ucapnya lembut, walaupun hati pelayan itu gerah melihat wanita angkuh di depannya itu.


"Tapi Nyonya, ini.."


"Aku bisa saja membeli toko mu, dan kau tidak tau siapa aku," teriak Elisha menatap tajam ke arah pelayan itu.


Semua orang pun melihat ke arah Elisha dan pelayan itu.


"Saya tidak tau siapa Nyonya dan identitas Nyonya, yang saya tau Nyonya harus mengantri jika ingin mencicipi Kue disini demi keadilan mereka yang sudah rela mengantri." ucap pelayan itu menunjuk ke arah antrian.


"Benar, Nyonya harus mengantri." ucap salah satu wanita bangsawan.


"Benar sombong sekali wanita ini," timpal temannya.

__ADS_1


"Kau akan menyesal siapa aku, aku adalah Elisha. Istri Yang Mulia. Camkan itu," ucap Elisha berlalu pergi membuat kedua mata pelayan itu membulat sempurna. Ia takut jika yang di lakukan nya salah. Pelayan itu pun bergegas menemui atasannya dan menjelaskan perihal tadi.


Sementara semua orang yang mendengarkan penuturan Elisha membuat mereka menelan salivanya susah payah.


__ADS_2