
Ke esokan paginya.
Anastasya terbangun, ia melihat sekelilingnya. Rasa hangat itu masih menjalar di darahnya. Aroma khas itu kembali segar menyerap di hidungnya.
"Permaisuri sudah bangun,"
Sebuah suara yang mampu membuat Anastasya jantungan seketika. Anastasya menoleh, melihat pelayan Mery yang sedang membenarkan lukisan Kaisar Alex.
"Ada apa Mery?" tanya Anastasya sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Lukisan Kaisar Alex agak miring Permaisuri. Jadi hamba membenarkannya." tutur Mery.
"Permaisuri tadi ada Elisha, Tuan Kendrix dan Arnoz ingin bertemu dengan Permaisuri."
Anastasya beranjak turun. Ia menuju ke kamar mandi dan berendam air hangat yang telah di siapkan oleh Mery. Anastasya menyandarkan lehernya ke sisi bathtub.
"Kenapa aku merasa aneh, sudah dua hari ini aku merasakan kehadiran Yang Mulia. Tapi..." Anastasya menjeda, ia mengambil bunga mawar merah yang berada di atas air. Llu mengusapkan ke lengan putihnya.
"Tidak bisa, kenapa aku merasa janggal. Besok malam aku harus menyelidikinya." gumam Anastasya dengan mantap.
Setelah ritual mandinya selesai, Anastasya memakai gaun putih yang pas ke tubuhnya. Pinggang yang langsing, di lehernya terdapat bordilan bunga serta bawahan yang mekar. Anastasya juga membawa kipas putihnya itu dengan lukisan burung phoenix berwarna merah .
__ADS_1
"Mery apa kipas ini dari negeri tetangga?" tanya Anastasya, ia membolak-balik kipas di tangannya.
"Benar Permaisuri, kipas ini berasal dari Negeri tetangga, Kekaisaran Yuan."
Anastasya mengangguk, selama ini dia hanya fokus terhadap ekspor dan impor, demi kemajuan negaranya. Lalu terjalinlah kerja sama antara Kekaisaran Matahari dengan Kekaisaran Yuan, kekaisaran yang terkuat diantara semua Kekaisaran. Walaupun mereka hanya saling mengutus kepercayaan mereka. Tapi tidak bisa di pungkiri jika Kekaisaran Matahari bertambah jaya dengan adanya kerja sama itu.
"Sebaiknya kita bertemu dengan Elisha." ucap Anastasya.
Sesampainya di kamar Elisha, Anastasya masuk. Ia melihat Elisha, Arnoz, Kendri dan pelayan Ana memberikan hormat.
"Elisha, apa kamu yakin akan keluar dari istana?" tanya Anastasya.
"Benar Permaisuri, maaf, maaf karna hamba pernah menyakiti Permaisuri. Bahkan berniat membunuh Permaisuri. Dan terimakasih atas segalanya yang Permaisuri berikan kepada hamba." ucap Elisha meneteskan air matanya. Dirinya amat sangat menyesal melakukan kejahatan. Kini dirinya mengerti, kebahagiaan itu bisa di lihat dari cara yang sederhana.
"Baiklah, Hector persiapkan kereta mereka dan Mery berikan hadiah untuk mereka berupa uang dan pakaian yang baik. Serta sediakan semua keperluan mereka."
"Terimakasih Permaisuri," timpal Arnoz langsung menghampiri Anastasya, ia memeluk Anastasya yang hanya sampai di perutnya saja.
Anastasya mengelus pucuk kepala Arnoz, Ia memandang anak kecil di depannya itu, "Jadilah anak yang baik dan kuat. Suatu saat kamu harus membahagiakan mereka." Anastasya mengalihkan pandangannya ke arah Elisha dan Kendrix.
"Pintu istana ini terbuka untuk kalian. Jadi kalian bisa kapan pun datang kesini,"
__ADS_1
"Permaisuri, persiapannya telah siap." ucap Mery yang tiba-tiba datang.
Anastasya dan yang lainnya menuju ke arah gerbang istana. Setelah berpamitan kereta istana yang fi tumpangi Elisha, Arnoz dan Kendrix berjalan keluar. Kini Anastasya bernafas lega, akhirnya Elisha berubah menuju jalan yang lebih baik.
Setelah Anastasya melihat kereta itu semakin jauh, tiba-tiba dari arah berlawanan masuk.
"Enzo, Enzi," ucap Anastasya tersenyum lebar, ia turun dari tangga istana, menghampiri kereta istana.
"Bunda," teriak Enzo dan Enzi langsung berhambur memeluk Anastasya.
"Ibunda merindukan kalian," ucap Anastasya mencium pipi kanan kiri Enzo dan Enzi.
"Baiklah, ayo masuk ! kalian harus makan dan bercerita bagaiman kehidupan kalian selama do Akademik." ucap Anastasya memegang tangan Enzo dan Enzi.
Setelah selesai makan, Enzo dan Enzi bercerita di iringi tertawa. Di mulai dari mereka kembali ke Akademik. Pelajaran apa yang mereka sukai, nama Guru yang ia sukai dan Guru yang paling galak serta kegiatan mereka setiap harinya. Di mulai dari makan dan berolah raga.
Tak terasa perbincangan mereka sampai larut malam. Kini Enzo dan Enzi telah kembali ke kamarnya. Sementara Anastasya, setelah berganti baju tidur, ia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Namun satu hal yang ia harus waspadai. Ia ingin memastikan apakah dirinya hanya halusinansi saja atau memang Kaisar Alex menemuinya secara diam-diam. Anastasya pun diam-diam memejamkan matanya.
Tak terasa jarum jam menunjukkan pukul 12:35. Namun tidak ada tanda-tanda sama sekali. Anastasya semakin kesal, mungkin dirinya hanya berhalusinasi saja. Tapi saat dirinya berniat tidur sungguhan. Ia mendengar sesuatu dan langsung memejamkan matanya kembali.
Benar saja dugaannya, ia merasakan sebuah tangan mengelus pipinya. Ia juga merasakan sebuah kecupan singkat di keningnya, kedua matanya dan kecupan terkahir di bibirnya.
__ADS_1
Setelah dirasa berhenti, Anastasya membuka matanya. Ia terkejut, melihat seorang laki-laki memakai separuh topeng di wajahnya, mata emas, hidung yang mancung, bulu mata yang lentik dan memakai Tuxedo hitam, bagian dada dan perutnya berwarna putih. Sedangkan di bagian belakanganya dan ekornya berbentuk hitam serta kerahnya berbentuk shawl.
Laki-laki itu hendak pergi. Dengan sigap Anastasya memegang lengannya, "Yang Mulia."