
"Ada apa dengan mu?" kedua tangan itu melingkar di pinggangnya. Dia mencium ceruk leher Duchess Caroline. Selama pesta dansa ia mencari sosok yang kini berada di dalam dekapannya. Entahlah, tiba-tiba dia merasakan khawatir.
"Aku ingin bertanya pada mu,"
Duke Elios melepaskan pelukannya, "Ada apa? apa ada masalah?" tanya Duke Elios memutar tubuh Duchess Caroline.
"Apa kamu tidak melihat sikap Viscount Elca tadi?"
"Ada apa dengannya?" tanya Duke Elios, ia menoleh ke belakang mencari sosok Elca. Terlihat seorang laki-laki yang sedang tersenyum, tertawa lepas melihat gadis di depannya seperti sedang menggerutu.
"Apa?"
"Seandainya itu terjadi apa yang akan kita lakukan?" tanya Duchess Caroline. Duke Elios menunduk, ia bingung harus menjawab apa? ia kemudian menatap wajah Caroline.
__ADS_1
"Katakan apa yang harus aku lakukan? dia sedang mengandung."
Meskipun anak itu bukan anak Viscount Luis, aku tidak tega wanita polos itu merasakan sakit hati batin Duchess Caroline memejamkan matanya, ia pernah merasakan bagaimana sakitnya melihat orang yang di cintai bersama orang lain.
"Jika semuanya terjadi, ini salah ku. Seharusnya aku mendengarkan perkataan mu. Waktu itu aku sangat yakin Elca akan mencintainya."
"Apa kamu tau? Putri Maya dan Duke Rachid tidak akan memberikan putrinya pada orang yang telah memiliki istri. Aku akan menasehati Elca untuk menjauh darinya. Sebelum dia terperangkap lebih dalam." Ujar Duchess Caroline meninggalkan Duke Elios yang terdiam.
Tiga bulan yang lalu, dia hanyalah seorang gadis sebatang kara. Ibu dan Ayahnya telah meninggal dan laki-laki yang menghamilinya tidak tau siapa. Ayahnya meninggal saat tau dirinya hamil. Dia tidak tau apa yang di bicarakan sang ayah pada Duke Elios. Hingga suatu hari teman sang Ayah datang padanya. Dia ingin membantunya, rasa kasihan dan kebaikan sosok Duke Elios tak mampu dia tolak. Bahkan dia mengatakan pada anaknya membantunya menjaganya. Ya, sebatas menjaga. Mereka hanya kenal sekilas saja saat Viscount Elca menemani Duke Elios berkunjung ke rumahnya saat masih ada sang ayah dan sebulan berlalu dia datang kembali dengan membawa sebuah lamaran. Rasa haru dan kebahagiaannya saat laki-laki yang ia kagumi menjadi suaminya. Entah keberuntungan dari mana, dia tidak menyianyiakan keberuntungan itu.
"Viscount Elca, aku mencintai mu." Ujarnya merasakan kesejukan di hatinya.
"Nona, sebaiknya masuk ke dalam. Angin malam tidak baik untuk Nona dan bayi Nona." Ujar salah satu pelayan. Ia mendorong kursi roda itu ke kamarnya.
__ADS_1
Meskipun Viscount Elca hanya datang seperlunya saja ke kamarnya. Ia tidak pernah merasakan sakit hati. Langkahnya memberikan hidup baginya. Sesosok yang di kagumi banyak perempuan. Wajahnya yang dingin saat dia mulai marah. Namun kemarahan sosok laki-laki seperti Viscount Elca membuatnya tidak takut. "Viscount Elca." Dia memandang lukisan pernikahannya. Ia yakin, Viscount Elca akan mencintainya suatu hari nanti. Dia akan bersabar, merawat anaknya bersama dengan Viscount Elca.
Sementara di sisi lain.
Seorang gadis tengah berteriak di dalam kamarnya. Ia meluapkan rasa kesalnya. Ingin sekali dia mencekik lehernya, menjahit bibirnya yang tersenyum itu. "Rasanya aku ingin membakarnya hidup-hidup." Gadis itu melihat tangannya mengepal semakin kuat.
"Nona," Ujar Mery.
"Kenapa kakek bisa mendatangkan laki-laki sepertinya." Tangan itu ia arahkan ke vas bunga hingga vas bunga itu pecah. Ia tidak pernah menggunakan kekuatannya atau menampakannya di hadapan siapa pun. Kecuali Ayah dan ibunya, tentunya dan Mery.
"Nona." Ujar Mery menggelengkan kepalanya melihat kekuatan berwarna hijau itu menghilang di kedua tangannya.
"Nona, jangan seperti ini. Bisa-bisa melukai tubuh Nona." Sambungnya.
__ADS_1