Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
season 2_pertengkaran Emma dengan Pangeran


__ADS_3

Kepergian Putri Viola membawa luka dalam bagi Pangeran Abigail, takut, khawatir dan marah campur aduk menjadi satu. Ia ingin memohon pada Ayahnya, tapi sama saja. Ayahnya sudah menyerah dan telah siap jika Kaisar Alex menyatakan perang.


Pangeran Abigail menuju ke kamar Emma, ia mengobrak abrik tempat Emma, pecahan vas berserakah dimana mana, baju yang rapi di bongkar secara paksa. Berharap akan adanya bukti.


"Pangeran berhentilah, lihatlah tangan Pangeran. Luka itu harus cepat di obati." ucap Emma dengan hati khawatir.


Pangeran Abigail melihat ke arah Emma dengan tatapan tajam, ia kembali menanyakan bukti. Hatinya berharap Emma akan mengatakan kejujurannya.


"Emma katakan dimana bukti itu, aku tidak ingin menikahi ku," teriak Pangeran Abigail, ia mengguncangkan tubuh Emma yang menangis sesegukan.


"Pangeran semuanya itu benar, Pangeran sudah menodai ku." ucapnya terbata-bata.


"Bohong, aku tidak mempercayainya Emma. Kau wanita munafik, pembohong. Aku tidak pernah menodai mu."


Emma yang sudah kehabisan akal, tanpa sadar ia melayangkan tangannya ke arah pipi Pangeran Abigail.


plak


Pangeran Abigail memegang pipinya yang terasa panas. Ia kembali melihat ke arah Emma yang mulai merasa bersalah.

__ADS_1


"Apa menyakiti fisik ku dan menyakiti perasaan ku membuat mu puas?" teriak Pangeran Abigail.


Emma bermaksud mengelus pipi Pangeran Abigail yang mulai membiru, rasa bersalah dan menyesal mulai muncul du hatinya.


"Pangeran, maaf aku tidak bermaksud.."


"Hentikan Emma," teriakan dua orang membuat Emma menoleh dan menghentikan uluran tangannya.


Kedua wanita itu pun berlari menuju ke arah Pangeran Abigail dan Emma. Salah satu dari kedua pelayan itu lansung membalas tamparan Emma.


"Beraninya kamu menampar seorang Pangeran." bentaknya.


"Ayo ikut aku, kamu harus mempertanggung jawabkan semua kesalahan mu," ucap Mira yang menyeret lengan Emma.


"Berhenti," teriak seorang wanita, dirinya begitu khawatir terhadap Putranya. Setelah menemukan Putranya di kamar Emma, ia dusuguhi dengan pemandangan yang membuat hatinya hancur. Hancur saat Putra kesayangannya di tampar oleh orang lain. Dirinya saja tidak pernah menamparnya. Setiap hari ia terus mengelus pipi berharga itu. Namun sekarang, wanita lain menamparnya.


plak


"Berani kamu menyakiti Putra ku, ini tidak seberapa saat kamu menamparnya. Dasar tidak tau berterimakasih, aku menganggap mu sebagai Putri ku sendiri, tapi apa balasan mu?" Dada Permaisuri Flavia mulai memanas, ia ingin sekali membakar Emma hidup-hidup. Namun semua itu tidak akan menyelesaikan semua masalah saat ini.

__ADS_1


Emma menggenggam tangan wanita di depannya itu, "Permaisuri hamba mohon, maaf atas ketidak sopanan hamba."


"Seret dia ke penjara dan cambuk tangannya." perintahnya dengan tegas.


Mira dan salah satu pelayan di samping yang tak lain pelayan Clara dan saling mengangguk dengan tatapan penuh arti. Mereka menyeret Emma dengan kasar. Sampailah di ambang pintu, Emma menatap dengan tatapan memohon pada seorang laki-laki paruh baya itu. Namun laki-laki itu menunduk dan menggelengkan kepalanya.


Permaisuri Flavia masih menetralkan amarahnya, ia melihat pipi putih itu yang mulai keunguan, "Ternyata dia menampar mu terlalu keras. Maafkan Ibu yang tak bisa menjaga mu dengan baik." lirih Permaisuri Flavia, ia memeluk Pangeran Abigail, mengusap punggungnya sembari menangis di pelukannya.


"Maafkan Ibu sayang. Ayo obati pipi mu dulu." Ajak Permaisuri Flavia meraba pipi Pangeran Abigail.


Pangeran Abigail diam, ia meninggalkan Permaisuri Flavia yang masih menangis. Baginya, percuma saja di obati. Semuanya tidak akan merubah semua kesalahannya.


Laki-laki paruh baya, sedari tadi yang hanya diam. Ia menyeret kakinya yang mulai terasa berat, ia bersujud di lantai. Bermaksud memohon ampun atas semua yang di lakukan oleh Emma.


"Sudahlah, semua itu bukan salah mu. Semua yang di lakukannya sekarang ini, bukan pengajaran mu." ucap Permaisuri Flavia, ia membantu pria paruh baya itu yang menunduk.


"Terimakasih Permaisuri, maaf hamba gagal mendidiknya." ucap pria paruh baya itu sambil menangis.


Permaisuri Flavia tersenyum, ia mengangguk dan berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2