Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Bab 71_Mantra Kutukan


__ADS_3

Jam telah menunjukkan angka 12.00.


Terlihat seorang wanita tengah berdiri dan melihat ke arah sang bulan. Menikmati suasana hening itu dan desiran angin malam yang menyelinap masuk ke leher putihnya itu.


Membuat rambutnya yang bergerai terbawa angin.


"Yang Mulia," lirihnya..


Setelah di rasa cukup puas, ia kembali ke kasur empuknya itu. Ia meraba kasur di sampingnya. Mencium aroma tubuh Kaisar Alex. Kamar itu, kamar Kaisar Alex sebagai pelepas rasa rindunya. Dia kembali teringat perkataan Hector. Jika Kaisar Alex selalu tidur di kamarnya untuk menghilangkan kerinduan pada dirinya selama menghilang.


Wanita itu memejamkan matanya seraya melihat ke arah dinding yang terdapat lukisan Kaisar Alex.


Perlahan rasa kantuk mulai menemuinya, lalu memejamkan matanya menuju ke alam mimpi.


15 menit kemudian.


Seorang laki-laki mendekati ke arahnya. Ia menatap wajah teduh itu yang begitu menggemaskan bagi dirinya. Laki-laki itu menggerakkan tangan kanannya, mengelus pipi Anastasya.


Sementara Anastasya tersenyum dalam tidurnya, ada rasa hangat yang menyentuh pipinya. Kini tangannya memeluk tangan kekar laki-laki itu, "Yang Mulia."


Laki-laki itu meneteskan air mata, merasakan rasa rindu yang mulai meluap dari dalam hatinya.


"Permaisuri, aku juga merindukan mu, sangat, sangat merindukan mu." ucapnya sendu, lalu mencium kening Anastasya.


Selama itu pula tangan Kaisar Alex tidak lepas dari pelukan Anastasya. Tak terasa di ufuk timur fajar telah terlihat. Dengan lembut Kaisar Alex melepaskan pelukan tangannya, ia kembali mengecup kening Anastasya dan menuju ke arah lukisan sebagai jalan rahasianya. Sebelum Kaisar Alex membuka pintu itu, ia menoleh ke belakang melihat wajah Anastasya.


Setelah itu dia kembali menempelkan lukisannya ketempat semula dan menutup kembali pintu itu dengan pelan-pelan.

__ADS_1


krek


Anastasya langsung membuka matanya mendengar suara pintu, ia mengedarkan ke seluruh kamar itu, aroma segar Kaisar Alex tercium. Ia yakin tadi Kaisar Alex ke kamarnya. Entah keyakinan darimana. Tapi hatinya mengatakan jika Kaisar Alex menemuinya.


"Yang Mulia," teriak Anastasya. Sementara di balik pintu, Kaisar Alex mendengarkan teriakan Anastasya, meneteskan air matanya.


"Permaisuri,"


"Hamba tau Yang Mulia ada disini, keluarlah." ucapnya seraya mengedarkan pandangannya.


Anastasya melangkah kan kakinya menuju lukisan Kaisar Alex. "Hamba percaya Yang Mulia masih hidup dan hamba berjanji akan menunggu Yang Mulia. Hamba tidak akan menyerah mencari Yang Mulia. Hamba akan menjemput Yang Mulia kembali ke istana." Anastasya kembali meneteskan air beningnya, "Yang Mulia membuat hamba menderita, maka penuhi janji Yang Mulia untuk membahagiakan hamba," sambung nya lagi.


Anastasya menggerakkan tangannya, meraba lukisan Kaisar Alex. Sementara Kaisar Alex menutup mulutnya agar tidak terdengar isakan tangisnya.


"Tapi bagaimana dengan kabar Pangeran Gabriel?" ucap Anastasya.


"Permaisuri merindukan ku, tapi kenapa dia menanyakan Pangeran Gabriel? rasanya aku ingin menenggelamkan Pangeran Gabriel ke lautan, biarkan saja tubuhnya menjadi santapan ikan." gumam Kaisar Alex seraya menghapus matanya yang basah. Tanpa sadar ia mengucapkan pada dirinya sendiri kemudian meninggalkan tempat itu dengan wajah suram.


"Permaisuri,"


"Aku akan segera mandi dan menemui Elisha." ucap Permaisuri Anastasya. Lalu menuju ke kamar mandinya.


Setelah 15 menit,


Permaisuri Anastasya telah selesai membersihkan tubuhnya. Ia pun di bantu pelayan Mery merias diri. Gaun berwarna biru dengan rambut di biarkan terurai. Polesan Make Up natural tidak menghilangkan kecantikannya.


"Permaisuri, apa tidak ingin sarapan dulu?" tanya pelayan Mery.

__ADS_1


"Tidak aku akan segera menemui Elisha, sudah lama aku tidak pernah menemuinya." ucap Anastasya.


Setelah sampai di istana gelap, Anastasya masuk dan melihat pemandangan yang mengharukan. Dimana Arnoz sedang menyuapi Elisha dengan tangan kanannya sendiri. Serta pelayan Ana dan Kendrix yang sangat fokus memperhatikannya.


Sedangkan mereka tidak sadar, Anastasya berderhem membuat mereka menoleh.


"Permaisuri," ucap Elisha dan langsung memberikan hormat di ikuti Arnoz, Kendrix dan pelayan Ana.


"Apa aku mengganggu waktu kalian?" tanya Anastasya datar.


"Ti, tidak Permaisuri." jawab Elisha gugup.


Mereka semakin ketakutan mendengar sandal Anastasya semakin mendekat ke arah mereka. Badan mereka langsung gemetar dengan hebat.


"Permaisuri, bisakah Permaisuri mengampuni Ibunda," ucap Arnoz sambil menelan ludahnya.


"Aku bisa saja mengampuninya, tapi dengan satu syarat." Anastasya menjeda perkataanya, membuat tubuh ke empat orang itu merinding.


"Elisha, kemarilah."


Elisha mendekat tapi masih, menunduk hormat di lantai.


Anastasya menunjuk dahi Elisha, lalu membacakan sebuah mantra dan dahi Elisha pun mengeluarkan cahaya merah.


"Mantra ini adalah mantra kutukan, jika kamu berkhianat dan memperlakukan mereka dengan buruk. Kutukan itu akan membunuh tubuh mu sendiri." ucapnya membuat semua orang terkejut termasuk Duke Rachid dan Duke Erland yang baru saja tiba.


Duke Rachid dan Duke Erland tidak akan percaya jika tidak menyaksikan sendiri. Karna Mantra Kutukan tidak bisa di pelajari oleh sembarangan orang. Hanya orang pilihan yang bisa menerima Mantra Kutukan itu, jika tubuhnya tidak bisa menerima. Alhasil tubuhnya sendiri yang akan mendapatkan kutukan.

__ADS_1


__ADS_2