Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 2_mari kita berjuang bersama


__ADS_3

Pada malam harinya.


Terlihat seorang gadis mondar mandir, kadang dia duduk, kadang dia berdiri. Pikiran dan hatinya sama saja tidak tenang. Sekarang waktunya tinggal dua hari lagi untuk memperjuangkan cintanya. Ia tidak bisa tinggal diam. Ia harus mendesak kedua orang tuanya agar mengijinkan untuk menemui Pangeran Abigail.


"Ayah." sapa gadis itu.


"Ada apa lagi Putri Viola, Ayah sudah menjelaskan jika kamu tidak boleh bertemu dengannya."


"Ayah, setidaknya aku harus berjuang bersama dengannya." lirih Putri Viola.


"Benar apa yang dikatakan Putri Viola, setidaknya dia berjuang bersama-sama." timpal Anastasya, ia yakin semuanya hanya salah paham.


Kaisar Alex menghentikan pemeriksaan keuangan di istananya, ia tidak ingin ada bangsawan yang berbuat curang. Maka dari itu setiap laporan masuk ia akan memeriksanya lagi.


"Baiklah jika Ibunda mu sudah mengijinkannya. Ayah tidak bisa menolaknya." ucap Kaisar Alex sangat yakin. Karna ia tau Permaisurinya pasti sudah memikirkan berulang kali. Ia tidak akan mengambil keputusan yang salah. Lagi pula ada benarnya juga, mereka harus berjuang bersama-sama.


"Terimakasih Ibunda, malam ini aku akan kesana." ucap Putri Viola memeluk Anastasya, lalu mencium pipi Anastasya.


"Ajaklah Hector dan Isak bersama mu. Agar Ibunda merasa lega. Jika semuanya telah terungkap, secepatnya kirim surat, biar Ibunda dan Ayahanda tau keputusan mu. Kapan kamu akan menikah." ucap Anastasya seraya mencentil hidung Putri Viola.


"Carilah bukti di setiap sudut kamar Emma, jika kamu tidak menemukannya. Mungkin dinding dan tanah adalah jawabannya." jelas Anastasya. Karna jiwa mafianya telah mendarah daging. Jadi dia tau persembunyian yang paling baik saat menyimpan sebuah rahasia.


"Dan juga carilah tempat yang tidak mudah di curigai. Karna tempat itu paling aman untuk menjaga rahasia." sambungnya lagi.


"Terimakasih Ibunda," ucap Putri Viola. Ia kembali mencium Anastasya dan berlalu pergi.

__ADS_1


"Sayang," seru Kaisar Alex.


Anastasya melangkah kan kakinya ke arah Kaisar Alex, ia tau suaminya tidak akan pernah lepas dari kata manja.


"Aku merindukan mu," ucap Kaisar Alex dengan suara berat seraya mengeluskan wajahnya ke dada Anastasya.


"Aku ingin,"


Anastasya mengangguk, segera Kaisar Alex menggendong tubuh Anastasya menuju ke kamarnya. Mencium dan ******* bibirnya, lalu melepas semua pakaian yang ada di tubuh Anastasya. Kini tubuh mereka bebas tanpa pakaian sekali pun. Hanya desahan dan desahan yang keluar dari mulut mereka.


Sedangkan di sisi lain.


Derapan langkah kaki kuda Putri Viola, Hector dan Isak semakin melaju kencang. Mereka berjuang menebus angin malam dan dinginnya salju yang turun. Kedinginan itu tidak membuat Putri Viola menyerah, karna ia tau, Pangerannya sedang membutuhkan dirinya. Langkah kaki kuda itu terus melaju dan tidak pernah berhenti.


Hingga tak terasa mereka sampai di depan gerbang Kekaisaran Emerald di pagi hari.


Kaisar Emerald dan Permaisuri Flavia pun yang mendengarkannya merasa senang dan khawatir. Dengan hati was-was mereka keluar dari kamarnya, menyambut kedatangan Putri Viola. Entah apa yang terjadi nanti, mereka harus siap mendengarkan keputusan Putri Viola. Sesampainya disana Putri Viola di ikuti Hector dan Isak memberikan penghormatan.


"Putri syukurlah kamu datang tepat waktu. Aku sangat khawatir pada Pangeran sudah dua hari ini mengurung diri di kamar Emma. Pangeran terus membongkar semua barang di kamar Emma. Namun tidak menemukan apa pun." tutur Permaisuri Flavia dengan mata berkaca-kaca.


"Bolehkah, hamba menemuinya?"


"Silahkan Putri," ucap Kaisar Emerald. Hatinya merasa lega, ternyata Putri Viola mau menemui Putranya.


Pintu kamar Emma terbuka, semua orang melihat barang-barang yang sudah berserakah, pecahan vas bunga ada di mana-mana, lukisan yang hancur, meja dan kursi sudah rusak dan lebih lagi gaun Emma yang berserakah di lantai.

__ADS_1


"Yang Mulia dan Permaisuri biar hamba saja yang masuk." ucap Putri Viola tersenyum.


Kaisar Emerald dan Permaisuri Flavia mengangguk, mengerti.


"Jika ada apa-apa, tolong panggil kami." ujar Permaisuri Flavia.


Setelah Kaisar Emerald dan Permaisuri Flavia pergi. Putri Viola kembali menutup pintunya. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Pangeran Abigail.


"Pangeran."


Sementara di dekat ranjang, Pangeran Abigail sedang berjuang berdiri, tubuhnya yang lemah membuatnya kehilangan semua tenaga dan lebih lagi ia sudah dua hari tidak makan apa pun.


"Putri," lirihnya.


Seketika Putri Viola mencari asal suara Pangeran Abigail di dekat ranjang. Saat sampai di sana, ia melihat Pangeran Abigail yang tergeletak di lantai dalam kondisi lemah.


Putri Viola langsung memapah tubuh Pangeran Abigail ke ranjang, ia melihat kedua tangan Pangeran Abigail terluka dengan wajah pucat.


Dengan hati yang sesak, Putri Viola langsung memeluk Pangeran Abigail, ia merasa bersalah membuat Pangeran lemahnya mencari bukti sendiri. Seharusnya ia turun tangan sendiri mencari bukti itu bersama-sama.


"Maaf !"


"Ini bukan salah Putri, ini salah ku yang bertubuh lemah ini." ucap Pangeran Abigail sambil mengeluarkan air matanya.


"Ya, kau Pangeran lemah ku, sekaligus Pangeran bodoh ku." ucap Putri Viola, ia mengeratkan pelukannya di iringi buliran bening yang membasahi pipinya.

__ADS_1


"Mari kita berjuang bersama untuk hubungan kita." ucap Putri Viola.


__ADS_2