
Sesampainya di ruangan kerja Permaisuri Anastasya. Kaisar Alex melihat Permaisuri Anastasya sedang berbincang-bincang dengan Duke Rachid, Sean, Enzo dan Enzi.
"Kenapa kalian masih ada di sini?" sargah Kaisar Alex seraya menghampiri mereka.
Merekapun menoleh, mendengarkan suara dingin yang masuk ke sela-sela kulit mereka. Seakan tubuh mereka akan menggigil.
"Hais, kenapa Yang Mulia seperti itu? duduklah." ucap Anastasya seraya menepuk-nepuk sofa di sampingnya.
Kaisar Alex duduk menatap ke empat orang itu dengan bergiliran. Sama sekali tidak ada wajah enak di wajah Kaisar Alex.
"Maaf Yang Mulia hamba hanya.."
"Pergilah, jika tidak ada hal penting."
Kaisar Alex langsung memotong pembicaraan Duke Rachid tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Dasar manusia arogant gerutu Anastasya di dalam hatinya.
"Hah, Yang Mulia ada sesuatu yang ingin hamba bicarakan." ucap Anastasya menatap kesal ke arah Kaisar Alex.
__ADS_1
"Sean berasal dari Kekaisaran Emerald." ucap Anastasya membuat Kaisar Alex melotot tajam beserta Duke Rachid, Enzo dan Enzi. Merekapun menatap Sean dengan tatapan sulit di artikan.
"Sean itu berdarah campuran Yang Mulia. Lebih lagi Sean ahli dalam racun." jelas Anastasya namun wajah Kaisar Alex masih saja tidak bersahabat.
"Hais, jika Sean bisa membuat racun dan para pengawal menggunakan pedang atau panah. Kita bisa mengolesi pedang dan panah itu dengan racun, apalagi kita bisa mengolesi peluru dengan racun. Dalam sekali tembak lawan pun mati." jelas Anastasya membuat alis Kaisar Alex sedikit terangkat.
Kaisar Alex menatap Sean, apa yang dikatakan Permaisurinya benar. Ia pun merasa aneh akan sikap Permaisurinya. Semenjak kapan Permaisurinya tau dalam hal senjata? setaunya dulu Anastasya melihat senjata takut. Tapi kenapa tiba-tiba ia merasakan perubahan pesat.
"Baiklah aku akan mempertimbangkannya. Tapi," Kaisar Alex menjeda ucapannya.
"Kau boleh menjadi pengawal Permaisuri asalkan kau harus menjaga jarak lima meter darinya." ucap Kaisar Alex yang mampu membuat Anastasya membulatkan matanya.
Kaisar Alex sejenak berfikir, benar juga yang di katakan Permaisurinya itu, "Baiklah aku akan memberikan satu pengawal ku untuk mu," ucap Kaisar Alex.
"Terserah," jawab Anastasya dengan pasrah yang terpenting ia bisa mempertahankan Sean dengan baik.
"Dan besok hamba akan mengantarkan Enzo dan Enzi ke Akademik." sambungnya lagi.
Sementara Enzo dan Enzi yang mendengarkannya hanya menunduk lesu. Rasanya berat meninggalkan Anastasya yang sudah di anggap Ibu oleh mereka. Kaisar Alex hanya menahan emosinya yang meluap. Lagi-lagi ia kalah dengan bocah itu. Tidak seharusnya seorang Permaisuri langsung turun tangan sendiri.
__ADS_1
"Tidak perlu, mereka hanya perlu di antarkan oleh pengawal saja."
"Tidak bisa, Enzo dan Enzi adalah anak hamba. Bagaimana mungkin seorang Ibu meninggalkan mereka, tidak mengurus mereka." dekik Anastasya.
Kaisar Alex, Duke Rachid dan Sean melongo tidak percaya, ia menatap Permaisuri Anastasya dengan tatapan tidak percaya.
*Apa mungkin Permaisuri tidak ingin melahirkan seorang Putra dari Kaisar Alex batin Duke Rachid dan Sean
Sialan lagi-lagi aku kalah cepat, bagiamana bisa Permaisuri menganggap mereka anaknya. Seharusnya Permaisuri memintanya padaku saja. Aku bisa memberikannya anak yang banyak bahkan lebih tampan dari mereka*..
"Jangan bilang Permaisuri mengangkat mereka menjadi Putra Angkat kita. Jika Permaisuri menginginkan anak aku bisa memberikannya." Tanpa sadar Kaisar Alex mengucapkan kata yang memalukan bahkan dirinya tidak pernah mengatakan hal seperti itu di hadapan orang lain. Jika dulu waktu bersama Elisha, ia hanya menggoda Elisha saat bersama saja. Namun kali ini, dorongan apa mulut itu terbuka dengan sendirinya.
"Semenjak kapan Yang Mulia menganggap mereka anak Yang Mulia. Bukankah Yang Mulia tidak mau dengan hamba dan lebih lagi Yang Mulia sudah memiliki Elisha." ucap Anastasya dengan penuh penekanan. Ia menyelinapkan nama Elisha. Seharusnya Kaisar Alex tidak akan menerimanya dengan mudah.
"Jika Permaisuri mengangkat mereka menjadi anak angkat, tentu saja aku sebagai Suami harus menerimanya dan setelah pulang dari Akademik aku akan mengangkat mereka menjadi Pangeran." jelas Kaisar Alex beranjak berdiri. Ia sadar apa yang dilakukannya tadi hingga membuat telinganya memerah menahan malu.
Kaisar Alex meninggalkan mereka tanpa menjawab hormat mereka.
Sepanjang perjalanan Kaisar Alex memikirkan perkataannya, ia menggerutu sendiri apa yang di ucapkan nya benar atau salah.
__ADS_1
Salah, karna perkatannya itu memalukan untuk dirinya dan benar jika ia mengangkat anak itu, ia bisa lebih leluasa menyiksa anak itu yang membuatnya panas dingin.