
"Hormat hamba, Putri Maya."
Putri Maya menoleh, seketika ia menghentikan langkahnya. Ia menatap heran kedua wanita yang tidak ia kenal sama sekali. Wanita cantik di depannya tersenyum ramah.
"Putri maaf mengganggu, hamba Hilda. Mohon maaf atas kelancangan hamba." ujarnya.
Putri Maya merasa tidak asing dengan namanya, seribu kali ia memikirkan nama itu, tapi dimana?
"Hamba keponakan dari Duke Rachid." sambungnya lagi, ia merasa ragu menyampaikan siapa dirinya.
Deg
Putri Maya menatap wanita di depannya, ia tidak menyangka Hilda mendatanginya sendiri. Otaknya masih berfikir keras, untuk apa dia menemuinya, apa yang dia datang kesini hanya memastikan hubungannya dengan Duke Rachid.
"Putri, hamba ingin berbicara empat mata dengan Putri. Apa boleh?" tanya Hilda dengan hati penuh harap. Ia ingin membahas masalah apa yang menimpa hubungan mereka. Ia tidak tega melihat Duke Rachid seperti orang hidup tapi tak memiliki nyawa.
"Baiklah, aku akan berbicara dengan Hilda. Arnoz kau duluan saja." seru Putri Maya melihat ke arah Arnoz. Arnoz menatap Putri Hilda, ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Putri Maya, tapi melihat Hilda sepertinya dia orang baik. "Baiklah." balas Arnoz meninggalkan Putri Maya dan Hilda.
"Putri kita bicara di taman saja."
Putri Maya mengangguk, ia menuju ke arah taman yang tak jauh dari luar Akademik. Ia duduk di kursi putih di ikuti Hilda. Sementara Eve berada di sampingnya.
"Ada apa?" tanya Putri Maya datar.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya Putri, ada masalah apa Putri dengan Paman?" tanya Hilda tanpa basa basi.
Putri Maya menarik sudut bibirnya, sudah ia kira, pasti masalah Duke. "Kami tidak memiliki masalah." balas Putri Maya berbohong.
"Maaf Putri, tapi kenapa Paman mengurung diri di dalam ruang kerjanya, bahkan Paman tidak makan sedikit pun."
"Nona Hilda sangat perhatian pada Paman, aku salut. Apa Nona Hilda tidak memiliki perasaan khusus pada Duke Rachid?" tanya Putri Maya memastikannya.
"Tidak Putri, hamba tidak pantas untuk Duke." ucapnya gugup padahal di hatinya ingin mengatakannya.
"Tapi di mata mu terlihat sebuah kebohongan, kenapa tidak jujur saja." ujar Putri Maya dengan wajah santai.
"Maksud Putri apa? hamba beneran tidak memiliki perasaan apa pun dengan Duke." jawabnya dengan lembut, ia mencoba untuk santai dan tidak terlihat gugup lagi.
"Jangan mengelaknya, kenapa tidak jujur saja."
"Wanita mana yang tak cemburu, melihat kedekatannya calon suaminya berhubungan baik dengan wanita lain. Bahkan demi wanita itu dia rela mengecewakannya."
"Jika boleh jujur hamba memang menyukainya Paman." ucapnya menunduk sambil mengeluarkan air mata beningnya.
"Sudah ku duga, apa Duke tau? jika Nona mencintainya." ujar Putri Maya dengan menahan sesak di dadanya.
Nona Hilda menggelengkan kepalanya, ia tidak berani mengatakannya dengan jujur. Ia takut Duke Rachid akan menjauhinya. Lebih baik ia berusaha agar Duke Rachid mau dengannya, ia yakin dengan pelan-pelan Duke Rachid akan mengerti perasaannya.
__ADS_1
"Sebaiknya Nona Hilda memberitaukan pada Duke Rachid. Biar nanti mereka memilih, aku atau Nona." seru Putri Maya, sebisa mungkin ia harus santai, walaupun di hatinya merasakan sesak dan sakit hati.
"Bagaimana jika Duke memilih Putri Maya, sedangkan hamba tidak ingin melepaskannya. Maaf Putri, hamba egois, tapi hamba tidak bisa kehilangan Duke." ucapnya.
Putri Maya mengepalkan tangannya, "Kenapa Putri tidak mencari orang lain saja. Di luar sana masih banyak." seru Putri Maya dengan nada meninggi.
"Hati hamba hanya untuknya, tidak bisakah Putri menerimanya."
Putri Maya memijat pelipisnya, apa yang di ucapkan wanita di depannya sungguh ide gila. Mana mungkin ia menerimanya untuk masuk ke dalam hidupnya dengan Duke. Semua wanita yang mendengarkannya pasti akan mengatakan pemikiran gila.
"Hamba siap dan hamba ingin menjadi istri kedua Duke Rachid. Hamba juga siap tidak di sentuh sekalipun asalkan bersama Duke. Hamba siap.."
"Apa kamu juga akan siap merasakan sakit saat Duke bersama ku?" potong Putri Maya, ia tidak habis pikir dengan jalan pemikirannya. "Apa kamu siap setiap hari menanggung sakit hati, oh benar aku yakin. Nona sangat percaya jika Duke suatu saat nanti akan mencintainya Nona, bukan."
"Benar, hamba sangat mempercayainya. Apa lagi Duke sangat menyayangi hamba."
"Apa Duke yang menyuruh mu untuk datang kesini? menjadikan dirimu sebagi istri keduanya. Konyol, sungguh konyol." Putri Maya berdiri. "Lebih baik aku tidak menikahinya, daripada harus makan hati." ucap Putri Maya hendak pergi.
"Tidak bisakah Putri mengasihi wanita berpenyakitan seperti ku, yang setiap harinya harus minum obat."
Putri Maya memejamkan matanya, "Apa kamu mau aku melihat perhatian Duke yang di tujukan untuk mu." ucap Putri Maya dengan dingin. "Aku tidak akan pernah melakukannya." sambungnya lagi.
"Aku tidak bisa melepaskannya Putri, maaf." ujarnya menatap Putri Maya yang membelakanginya.
__ADS_1
Putri Maya menahan amarahnya, ia tidak menyangka Duke Rachid malah menyuruhnya mengatakan seperti itu, apa dia pikir pernikahan hanya mainan.
"Duke Rachid. Aku akan ingat semua ini." lirihnya.