Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 2_hukuman Emma


__ADS_3

Krek


Pintu putih itu terbuka lebar, semua orang di ruangan itu melihat ke arah pintu. Saat seorang wanita masuk dengan rantai di tangannya, ia melihat para bangsawan yang melihatnya jijik. Bahkan ada yang berbisik-bisik.


Wanita itu dan kedua pengawal di sampingnya, memberikan hormat ke pada sang penguasa di depannya.


"Emma, ketahuilah. Aku tidak pernah menganggap mu sebagai anak angkat. Aku selalu menuruti mu, kemauan mu. Namun kali aku tidak bisa. Aku tidak egois, harus mempertaruhkan kebahagiaan Putra ku." Kaisar Emerald menghela nafas, "Apa di malam itu tidak terjadi apa pun diantara kamu dan Pangeran? apa kamu memberikan obat tidur pada Pangeran? apa kamu menyembunyikan sebuah obat tidur di kastil kecil Pangeran? pelayan Clara melihat mu pada malam itu." sambungnya lagi.


Emma tersenyum di wajah sembabnya. Kini di hatinya hanya ada sebuah rasa penyesalan. Ia memang patut mendapatkan semua ini. Apa lagi dia sudah menyakiti separuh hatinya.


"Benar, Yang Mulia. Hamba melakukannya. Hamba memang benar melakukannya." ucapnya seraya menangis tersedu-sedu. "Terimakasih atas kebaikan Yang Mulia selama ini, tapi bolehkah hamba bertemu dengan Pangeran untuk yang terakhir kali." ucap nya dengan tatapan mengiba.


"Cih, masih berani untuk bertemu dengan Pangeran. Padahal wanita ini sungguh menjijikkan." ucap salah satu Duke.


"Seharusnya wanita ini tau berbalas budi." timpal salah satu Viscount.


"Jika bukan karna kebaikan Yang Mulia. Mungkin dia sudah menjadi gembel di jalanan." seru salah satu Baron.


Semua bangsawan pun membenarkan perkataan ketiga orang berpengaruh itu.

__ADS_1


"Sesuai dengan aturan yang berlaku. Siapa saja yang berbuat jahat untuk anggota keluarga Kekaisaran. Aku sebagai Kaisar Matahari memutuskan hukuman penggal untuknya dan hukuman ini akan dilaksanakan besok." ucap Kaisar Emerald dengan tegas dan lantang.


Setelah selesai menyatakan hukuman itu, Emma kini di bawa kembali oleh Alban dan Arnod ke penjara. Emma melihat sekeliling istana, ada rasa sakit, sedih, dan senang. Rasa sakit dan sedih itu menjadi satu, ia tidak rela meninggalkan istana, tapi hatinya senang karna dirinya sudah menerima hukuman yang pantas atas perbuatannya.


Sementara Putri Viola telah mengirimkan surat untuk Kaisar Alex dan Permaisuri Anastasya. Kini saatnya ia berusaha membuat Pangeran Abigail tersenyum, ia tidak ingin hukuman Emma membuat hati Pangeran Abigail dan pikirannya berat. Bagaimana pun juga, Emma lah yang selalu menemani harinya. Sedangkan dirinya hanya pasangan yang baru saja bertemu. Ia tidak terlalu tau apa yang di sukai Pangeran dan apa yang tidak di sukai Pangeran.


"Emm, Putri." sapa Pangeran Abigail menidurkan kepalanya di bahu Putri Viola.


"Terimakasih telah bersama ku." ucapnya sambil menikmati angin yang menebus jendela kamarnya.


"Telinga ku bosan mendengarkan Pangeran selalu mengatakan terimakasih dan terimakasih."


"Hati ku tidak pernah bosan,"


"Tidak terlalu buruk," ucap Putri Viola seraya mencium bibir Pangeran Abigail.


Sedangkan Pangeran Abigail wajah memerah, detak jantungnya berdetak begitu cepat. Seakan dadanya ingin meledak.


Putri Viola terkekeh saat melihat wajah Pangeran Abigail bak kepiting rebus. Segera ia mencium kening Pangeran Abigail dan mengajaknya keluar dengan bergandengan tangan.

__ADS_1


"Mira tolong kamu panggil pelukis terbaik di Kekaisaran ini. Aku dan Pangeran akan menunggu di kastil kecil Pangeran."


"Baik Putri."


Mira mendonggakkan wajahnya ketika melihat dua punggung itu yang mulai menjauh. Ia senang karna kebahagian mereka tidak akan bisa di pisahkan lagi kecuali maut. Tanpa sadar air matanya menetes.


"Heh, kenapa menangis?" tanya Clara merasakan aneh, melihat Mira menjatuhkan air matanya dan tersenyum.


"Kapan aku memiliki pasangan?" tanya Mira tanpa menoleh ke arah pelayan Clara.


"Pasangan mu sudah menunggu," jawab Clara santai. Mira menaikkan salah satu alisnya, semenjak kapan wanita di depannya tau pasangannya? bukankah selama ini dia tidak memiliki pasangan.


"Penasaran, tu di peti."


plak


Perkataan horor itu membuat tangan Mira memukul kepala pelayan Clara."Jadi kami nyumpahin aku, jadi pasangan orang mati." pekik Mira menatap tajam ke arah pelayan Clara.


"Makanya jangan kebanyakan mimpi," ucap Clara seraya menaikkan salah satu bibirnya.

__ADS_1


"Sudahlah ikut aku mengundang Tuan Harnod, berdebat dengan mu, ujung-ujungnya akan membuat orang terkena serangan jantung." ucap pelayan Mira menarik lengan Clara.


Setiap langkah mereka pasti di iringi kekehan dan berdebatan. Hingga membuat pelayan lainnya menatap aneh ke arah mereka.


__ADS_2