
Ke esokan harinya.
Putri Maya bangun lebih pagi, ia sudah selesai bersiap. Memakai gaun warna hijau dengan rambutnya di kuncir miring.
"Putri, ada Duke Rachid yang sedang menunggu. Sepertinya Permaisuri tengah mengajak Duke sarapan bersama." seru pelayan Ana.
"Baiklah, aku segera turun." Putri Maya beranjak berdiri, ia memutar tubuhnya seraya melihatnya di cermin. Ia tidak ingin ada yang salah dengan riasannya hari ini.
"Sempurna." Putri Maya keluar dari kamarnya di ikuti Ana yang mulai tadi hanya menggelengkan kepalanya saat melihat junjungannya itu sangat berhati-hati.
"Inilah yang dinamakan cinta." gumamnya.
"Putri Maya sarapan dulu," ucap Kaisar Alex melihat ke arah Putri Maya.
Setelah selesai sarapan, Putri Maya dan Duke Rachid berpamitan keluar istana. Di dalam kereta Putri Maya duduk berhadapan dengan Duke Rachid.
"Emm, tadi malam Paman belum selesai menjawab pertanyaan ku, siapa Pangeran Gabriel?"
"Baiklah," Duke Rachid menghirup oksigen, kini ia harus berbicara lagi panjang lebar. Sepanjang sejarah dalam hidupnya, ia tidak akan banyak bicara kecuali dengan Putri Maya. Bahkan dengan Anastasya saja, Duke Rachid hanya berkata sepatah atau dua patah kata saja.
"Pangeran Abigail, Pangeran bayangan Yang Mulia atau jiwa lain Yang Mulia. Sempat dulu Permaisuri menerima keduanya, tapi suatu saat Pangeran Gabriel tidak bisa bertahan. Hingga tubuh mereka di jadikan satu."
"Kenapa bisa begitu paman? maksudnya Ayah memiliki saudara kembar."
"Bukan, Ayah mu memiliki simbol. Dulu pada masa Kaisar Hugo, siapa pun yang memiliki simbol, tubuhnya bisa menjadi dua. Dan salah satu dari mereka tidak ada yang bertahan. Tapi setelah Yang Mulia lahir, baru kali ini jiwa lainnya bisa bertahan sampai Pangeran Gabriel tumbuh dewasa."
__ADS_1
Tanpa sadar kereta istana telah berhenti, Duke Rachid turun di ikuti Putri Maya. Mereka berjalan seraya bergandengan tangan. Sesekali mereka menyapa para pedagang buah dan sayur. Terkadang mereka berhenti melihat-lihat. Tatapan Putri Maya pun beralih ketika melihat sesuatu yang lucu, ia mengambilnya berniat menjadikannya hewan peliharaan.
"Apa itu Putri?" tanya Duke Rachid.
"Sesuatu," Putri Maya membuka tangan kirinya.
"Untuk apa Putri mengambilnya, ada-ada saja." ucap Duke Rachid terkekeh.
"Hais, ini lucu paman." dengus Putri Maya sambil menarik lengan Duke Rachid.
Kedua langkah kaki mereka berhenti di salah satu toko Roseline, toko gaun para bangsawan berkualitas mewah.
"Selamat datang di toko kami." Sapa salah satu pelayan tersenyum ramah.
"Baik Tuan. Silahkan ikuti saya." Pelayan itu pun langsung menuju ke lantai atas. Sesampainya disana terlihat banyak gaun yang di pajang dengan kain sutra berkualitas terbaik.
"Kain sutra ini berasal dari negeri sebrang Nyonya. Jadi kualitas paling bagus." tutur pelayan itu seraya memperlihatkan kain yang halus, lembut dan nyaman.
Tatapan Putri Maya terjatuh ke arah gaun berwarna biru, lehernya di biarkan terbuka. Ada lipatan kecil di bagian dada. Bertaburan mutiara berwarna putih dengan ikat pinggang berenda.
"Paman aku pilih ini," ucap Putri Maya menunjuk ke arah gaun itu.
"Aku pilih ini." seru seorang wanita.
Seketika Putri Maya menoleh dan melihat wanita yang ia kenal. Merekapun saling menatap dengan sengit.
__ADS_1
"Aku pilih ini."
"Tapi hamba lebih dulu." balasnya yang tak ingin kalah.
"Nona Ingrid bisa mencari yang lain." ucap Putri Maya menatap tajam.
"Tapi hamba menyukainya, bukankah Putri bisa memiliki yang lain." ucapnya tersenyum licik.
"Lagi pula, Putri tidak akan kekurangan apa pun di dalam istana." sambungnya lagi dengan mengeluarkan air mata.
Putri Maya menggertakkan giginya, ia paham jika wanita di depannya sedang bersandiwara.
Benar-benar ulet tempel
Putri Maya menarik nafasnya, lalu menghembuskan nafasnya dengan pelan.
Ia mendekat, lalu memeluk erat Nona Ingrid.
"Maaf, jika Nona Ingrid mau, silahkan ambil saja. Aku akan membeli yang lainnya." ucap Putri Maya tersenyum licik sambil membuka tangan kanannya.
Nikmati saja hadiah dari ku Nona Ingrid.
Putri Maya melepaskan pelukannya, ia keluar dengan langkah tergesa-gesa. Karna sebentar lagi akan ada bom di ruangan itu.
Saat Putri Maya sampai di depan pintu, terdengar suara teriakan keras di dalam ruangan itu. Membuat Putri Maya memegang perutnya, menahan tawa.
__ADS_1