
Beberapa saat kemudian, datanglah pelayan Mira dan pelayan Clara dengan wajah menunduk dan ketakutan.
"Hormat hamba Putri, Pangeran." ucap Mira dan Clara.
"Kami gagal melaksanakan perintah Putri," ujar Mira dengan raut sedih.
"Benar, Putri kami minta maaf." timpal Clara.
"Sebaiknya Pangeran beristirahat di kamar Pangeran sendiri. Dan kau Mira, cepat panggil Dokter istana."
"Baik Putri,"
Putri Viola pun memapah tubuh Pangeran Abigail di bantu oleh pelayan Clara. Sesampainya di tempat tidur, Putri Viola membaringkan tubuh Pangeran Abigail dengan hati-hati.
"Putri, aku tidak bisa beristirahat. Kita hanya punya waktu satu hari."
Putri Viola membelai pipi Pangeran Abigail dengan lembut, "Tenanglah, aku percaya kita bisa mendapatkan buktinya. Untuk sekarang Pangeran harus sehat dulu."
"Tapi Putri,"
"Jangan membantah !" ujar Putri Viola dengan tegas. Pangeran Abigail pun pasrah, ia menuruti semua perintah Putri Viola.
15 menit kemudian.
Datanglah seorang pria paruh baya, memakai baju putih. Ia memeriksa Pangeran Abigail dengan teliti. Dirasa sudah cukup, Dokter itu mengalihkan pandangannya ke arah luka di tangan Pangeran. Dokter itu pun memberikan sebuah suntikan. "Putri hamba harus menjahit luka Pangeran. Karna lukanya lumayan dalam." tutur sang Dokter.
"Lakukan yang terbaik untuk Pangeran."
20 menit telah berlalu, Dokter istana telah selesai menjahit dan memperban luka Pangeran. Dan setelahnya ia memberikan resep obat pada Mira.
__ADS_1
"Putri, hamba sarankan untuk beberapa hari kedepannya luka Pangeran tidak boleh terkena air karna takut terinfeksi."
"Baiklah, terimakasih." ucap Putri Viola.
"Bagaimana keadaan Pangeran?" tanya Permaisuri Flavia yang tiba-tiba masuk. Terlihat jelas di matanya yang memerah. Sepertinya selama kejadian yang menimpa Pangeran, Permaisuri Flavia tak berhenti menangis. Bahkan sekarang dia datang dengan sebuah isakan.
"Pangeran mengalami demam Ibunda." ucap Putri Viola seraya melihat ke arah Pangeran Abigail.
Permaisuri Flavia mencium kening Pangeran Abigail, ia menatap lekat Putri Viola. Hatinya yang sudah lama menyimpan sebuah rahasia kini ia harus mengatakannya.
"Putri sudah waktunya aku memberitau mu. Dulu aku pernah mengunjungi istana Matahari saat Pangeran masih kecil, Ketua istana Matahari pernah mengatakan jika tubuh Pangeran akan sembuh dengan dia menikahi wanita yang memiliki simbol bunga tulip berwarna biru. Dan sekarang aku tidak tau Putri memilikinya atau tidak. Yang terpenting adalah kebahagian di sisa hidup Pangeran."
"Ma, maksud Permaisuri?" tanya Putri Viola.
"Putri tentu tau dia Pangeran yang lemah, tapi tidak menghalangi rasa cinta ku untuknya. Di saat dia lahir, Ketua istana Emerald mengatakan jika usia Pangeran sampai dengan masa dewasanya, berarti adalah keberuntungan baginya. Karna kutukan itu sedikit demi sedikit akan mengambil tenaga Pangeran. Tiada Hari, tiada Bulan, tiada Tahun pasti dia akan sakit. Apalagi saat bulan purnama, ia akan merasakan sakit di tubuhnya. Setelah aku menjelaskan semua ini, apa Putri siap bersamanya suka maupun duka?"
"Dia tidak ingin terlihat lemah di depan Putri, dia takut Putri akan meninggalkannya."
"Dasar ceroboh, apa pun yang terjadi aku pasti akan menyayangi mu. Karna cinta tidak akan memandang apapun." ucapnya tersenyum seraya melihat ke arah Pangeran..
Permaisuri Flavia memeluk Putri Viola, ia menangis tersedu-sedu. Ia merasa bahagia saat Putri Viola masih bertahan setelah tau kebenarannya.
"Terimakasih," Permaisuri Flavia melepaskan pelukannya. "Sebaiknya Putri istirahat lebih dulu."
"Hamba masih ingin bersama dengan Pangeran Permaisuri." tolak Putri Viola.
"Baiklah, aku titip Pangeran Abigail."
Kini tinggal lah Putri Viola dan Pangeran Abigail yang menutup mata. Ia duduk di kursi dekat dengan Pangeran Abigail, setiap wajahnya ia tatap dengan lekat. Berharap semua yang dikatakan Permaisuri Flavia hanyalah sebuah kebohongan. Tapi nyatanya semua itu kebenaran.
__ADS_1
"Tunggulah disini, aku akan mencari kebenarannya." ucap Putri Viola, ia kembali mencium kening Pangeran Abigail. Lalu menuju ke kamar Emma.
Sudah satu jam, Putri Viola mengobrak abrik kamar Emma, mulai dari di bawah tempat tidur, di lemari, laci dan setiap sudut ruangan itu. Namun hasilnya sama saja.
"Uh tidak ada apa pun." ucap Putri Viola sambil berdecak pinggang.
"Mira, Clara apa kalian sering melihat Emma mengunjungi suatu tempat?" tanya Putri Viola.
"Emma sering mengunjungi kastil milik Pangeran Putri." jawab Clara, karna dia memang setiap harinya selalu berpapasan dengan Emma saat mengunjungi kastil milik Pangeran. Walaupun tanpa Pangeran sendiri.
"Ayo kita kesana," ajak Putri Viola.
Sebelum sampai di kastil milik Pangeran, Putri Viola berpapasan dengan Pangeran Cyrk, Hector dan Isak yang sedang berbincang-bincang.
"Putri bagaimana keadaan Kakak? apa Putri sudah menemukan buktinya ? kami baru saja kembali menginterogasinya, tapi sama saja dia tidak mau mengaku." tutur Pangeran Cyrk.
"Em, baiklah Aku sekarang ingin memeriksa kastil Pangeran. Sebaiknya kalian ikut aku, kita bisa mencari bukti disana."
"Apa Putri yakin?" tanya Pangeran Cyrk merasa ragu.
"Jangan meragukan Putri Viola anak dari Permaisuri Anastasya." sargah Hector yang tidak terima.
"Ayo Putri." ajak Isak menimpali perdebatan Hector dan Pangeran Cyrk.
Butuh 1 jam semua orang menggeledah kastil Pangeran Abigail yang terdiri dari ruang tamu, dua kamar tidur, satu ruangan kerja dan dapur. Semua itu di periksa sangat teliti. Hingga Pangeran Cyrk menemukan sebuah botol kecil yang berisi cairan bening di belakang lukisan Pangeran Abigail.
"Putri, aku menemukan ini." serunya menghampiri Putri Viola yang memeriksa lemari.
"Kita harus memeriksanya." ucap Putri Viola dengan tatapan berbinar. Dirinya berharap semoga itu adalah bukti.
__ADS_1