
Putri Maya dan Duke Rachid kembali memasuki sebuah Toko Eve yang kualitas bahanya juga tak kalah bagus. Putri Maya pun mencoba sebuah gaun berwarna kuning, lehernya berenda putih, ada lipatan menyilang di bagian dadanya.
"Emm Yang Mulia." Cicit pelayan Ana sambil melirik Duke Rachid.
"Ada apa Ana? apa ada sesuatu yang belum aku ketahui saat kejadian tadi?" tanya Duke Rachid.
"Tadi hamba tanpa sengaja mendengarkan Nona Ingrid, dia bilang nanti malam akan membuat Putri Maya menangis." tutur pelayan Ana.
Duke Rachid mengepalkan tangannya, ia menatap tajam ke arah Ana, "Kenapa kamu baru bilang. Seharusnya tadi kamu bilang. Aku akan menebas kepalanya."
Bulu tengkuk Ana diam-diam merinding, ia sudah membayangkan kepala Nona Ingrid terlepas dari tubuhnya.
"Ana nanti malam kamu harus ikut menjaga Putri Maya, di dalam pesta bangsawan pasti ada sebuah konspirasi yang belum tentu aku ketahui. Tapi aku akan pastikan, Nona Ingrid tidak bisa menyentuh baju Maya Ku sehelai pun." ucapnya tajam.
"Pa, pasti Yang Mulia, tapi hamba yakin sasaran utamanya adalah Yang Mulia."
__ADS_1
Duke Rachid mengangguk, "Sepertinya aku juga harus berhati-hati. Dan terimakasih sudah mengingatkan ku." ucap Duke Rachid tersenyum.
Deg
Pelayan Ana terkesima, baru kali ini ia mendengarkan Duke Rachid yang di sebut tangan kanan Kaisar Alex yang sama kejam dan bengisnya, mengucapkan terimakasih pada pelayan rendahan seperti dirinya.
"Paman, bagaimana?" tanya seorang gadis memakai gaun warna kuning.
Semua pelayan toko melihatnya tanpa berkedip, kulit putihnya tampak sempurna dengan berbalut gaun warna kuning. Matanya yang lentik, hidung mancungnya, dan bibir mungilnya membawa kesan sempurna tanpa cacat.
"Cantiknya," timpal salah satu pelayan laki-laki.
Segera Duke Rachid memalingkan wajahnya. Bukan hal biasa ia melihat tunangannya tampil sempurna, tapi saat ini lain tempat, jika dulu Duke Rachid akan memastikan menyuruh para Desain gaun ke rumahnya, tapi sekarang Putri Maya bersikeras untuk shoping keluar. Dengan hati yang berat Duke Rachid pun menyetujuinya.
Ia membuka jubahnya, lalu menutupi tubuh Putri Maya. "Tutup mata kalian, jangan sampai aku mencongkel mata kalian hidup-hidup." ucapnya datar, menatap ke lima pelayan itu satu per satu.
__ADS_1
"Bungkus semua gaun di sini yang paling berkualitas bagus." ucap Duke Rachid segera merangkul tubuh Putri Maya meninggalkan ruangan itu.
Setelah pelayan Duke Rachid membayar semua tagihannya. Para pelayan pun kini bernafas lega, ruangan yang tadinya panas dingin kini kembali seperti semula.
"Ambil semua gaun itu, dan cukup saat ini. Putri Maya mencoba gaun di luar. Mulai sekarang jangan pernah mencoba gaun di luar lagi. Jika Putri Maya menyanyangi ku, turuti semua permintaan ku." ucap Duke Rachid dengan tegas.
Yah, gak bisa senang-senang lagi batinnnya kesal. Putri Maya tidak suka dengan ancaman Duke Rachid yang tak bisa membuatnya berkutik.
"Baiklah," cicitnya.
Duke Rachid memijat pelipisnya, "Aku bukannya memarahi mu, tapi aku takut tubuhnya menjadi tontonan setiap orang. Aku mohon setidaknya, turuti saja permintaan ku kali ini dan untuk nanti malam, pelayan Ana akan mengikuti pesta itu."
"Kenapa Ana harus ikut,"
"Hanya untuk berjaga-jaga agar aku tak perlu khawatir saat berbicara dengan bangsawan lainnya." ucap Duke Rachid sambil mengelus pucuk kepala Putri Maya.
__ADS_1
#Ngegas sekarng updtnya, soalnya pengen cepet selesai😌