
Waktu demi Waktu telah di lewati. Hari dan Bulan pun telah berganti kini 5 Bulan telah berlalu. Michelia tak lagi murung, ia melewati dengan kesibukannya dengan belajar memanah. Setiap akhir pekan, Pangeran Almeer mengajaknya berburu agar ia melupakan sesuatu yang harus di lupakan. Michelia pun tak lagi berhubungan dengan Viscount Elca, ia tidak tau kabar Viscount Elca dan Liera. Ya, dia hanya meyakini bahwa mereka sudah bahagia. Dan sekarang dirinya masih berusaha melupakan Viscount Elca.
Sementara Duke Rachid dan Duchess Maya selalu memberikan waktunya dengan Michelia. Dan sekarang Duchess Maya telah hamil 5 Bulan. Sungguh hal itu merupakan kebahagian pada Michelia dan Duke Rachid. Meskipun Duke Rachid sudah melarangnya, namun kegigihan Michelia dan Duchess Maya meyakinkannya membuatnya tak bisa melawan.
Sedangkan disisi lain.
Seorang pria tengah menggendong anak laki-laki. Meskipun tidak ada wajahnya pada anak di dalam gendongannya. Akan tetapi dia akan berusaha mencintai anak itu yang bukan anak kandungnya sendiri. Setelah kepergian Michelia. Ia memendam rindu yang amat dalam. Pernah ia menanyakan kabar Michelia lewat sebuah surat. Namun tidak ada balasan. Hingga ia menyadari kemauan Michelia yaitu menyayangi Liera dan anaknya.
Dan tak di sangka, bayi itu lahir dengan selamat. Namun Liera meminta bayi itu di rawatnya dan meminta cerai. Viscount Elca pun menerima dengan senang hati. Meskipun dia tidak mencintai Liera tapi ia sudah menyayangi bayi mungil itu.
Liera pun pergi entah kemana. Ia tidak khawatir sama sekali. Hidupnya sekarang sudah bebas, merawat putranya dan lebih fokus mengejar Viola. Ia juga akan memberikan surat pada Michelia yang di tinggalkan oleh Liera untuknya.
"Tuan," seru sang pelayan. "Saya akan menidurkan tuan muda." Sambungnya lagi.
__ADS_1
Viscount Elca memberikan bayi mungil itu. Hari ini ia akan menuju Kekaisaran seberang, bertemu dengan Michelia. Ia juga sudah mencari informasi jika Michelia belum bertunangan. Hal itu adalah kesempatan emas untuknya. Ia berharap Michelia mau menjadi istrinya dan juga putra angkatnya itu.
Viscount Elca pun bersiap-siap menaiki tangga kereta. Namun sebelum itu ia melihat ke arah pintu. Semoga ia bisa membawa Michelia pulang menjadi istrinya dan ibu anak-anaknya. Kereta kuda itu pun bergerak. Dengan degupan jantung yang tak bisa di kondisikan. Hatinya tak henti-hentinya merapalkan doa. Semoga ia bisa menghadapi Duke Rachid dan Duchess Maya selaku menjadi mertuanya.
Tiga hari tiga malam, Viscount Elca menempuh perjalan itu panjang itu. Sesekali ia mampir ke sebuah Restaurant dan penginapan. Lalu melanjutkan perjalanannya lagi. Hingga kereta itu tiba di kediaman Duke Rachid.
Viscount Elca turun dari kudanya, ia melihat sebuah kastil yang begitu megah dan bersinar. Cat berwarna biru dan berwarna ke kuning ke emasan. Menjadikan Kastil itu bagaikan sebuah istana. Tidak heran, kekayaan Duke Rachid di bawah Kekaisaran, memiliki sebuah batu tambang kristal. Menjadikan kristal itu sebagai kejayaan di Kediaman Duke Rachid.
Salah satu Kesatria memberikan penjelasan pada penjaga. Seharusnya ia memberi tau kunjungannya. Namun, karena takut sebuah penolakan. Akhirnya ia nekat mendatanginya. Entahlah nanti, mau di usir atau tidak. Ia akan berusaha membawa Michelia pulang ke kediamannya.
"Silahkan masuk tuan," ujar sang pelayan.
Viscount Elca duduk di sofa putih dan empuk itu. Matanya melihat sekeliling kediaman, pandanganya berhenti melihat sebuah lukisan.
__ADS_1
Lukisan yang sangat indah, bahkan orang di dalam lukisan itu membuatnya meneteskan air mata. Rasa rindu yang amat ia pendam dan tahan selama ini. Menuruti semua permintaannya, berharap dengan mengikuti permintaannya itu. Gadisnya akan kembali dan menerimanya.
"Viscount Elca," seru seorang laki-laki bermata elang itu. Setiap langkah kakinya, mampu menghentikan nafasnya.
"Ada apa kamu datang kesini?" tanya Duke Rachid datar. Ia tidak tau tujuannya.
"Aku datang kesini hanya ingin bertemu dengan nona Michelia." Tutur Viscount Elca.
"Bertemu, masalah apa?" Duke Rachid duduk di depan Viscount Elca dengan tatapan dingin. "Jika hanya masalah perasaan, jangan melibatkan putri ku."
"Salahkah aku menginginkannya,"
Duke Rachid tersenyum miring, "Menginginkan, menjadi istri kedua mu atau hanya merawat anak orang lain dan hidup rukun begitu maksud mu," ujar Duke Rachid.
__ADS_1
Viscount Elca menunduk, benar salah satunya di katakan Duke Rachid ada kebenarannya.
"Ayah, aku membawa seekor ru, sa." Teriak seorang gadis. Suaranya yang begitu nyaring dalam sekejap menjadi pelan saat melihat laki-laki di depannya.