
"Adik bagaimana jika kita maen di sana?" tunjuk Putri Viola ke arah bunga mawar.
"Ayo,"
Putri Maya turun ia menggandeng Putri Viola di ikuti pelayan Ana, Mery dan Sean. Saat Duke Rachid ingin mengikuti mereka, Anastasya menghentikan langkah kakinya.
"Tunggu, Duke. Bisakah kamu menemani ku bersantai. Duduklah,"
Duke Rachid melihat kedua anak itu, kemudian ia mengangguk dan duduk di hadapan Anastasya.
"Sudah lama kita tidak bersantai seperti ini,"
Anastasya mengambil jus apel itu, lalu meminumnya.
"Benar Permaisuri," ucap Duke Rachid membetulkan perkataan Anastasya. Dia menyadarinya, semenjak Anastasya dan Kaisar Alex bersatu. Ia hanya fokus pada pekerjaannya saja untuk menghilangkan hatinya yang telah berlalu.
"Apa Duke tidak ingin menikah?"
"Entahlah Permaisuri," Duke Rachid melihat ke arah Putri Maya, ia tersenyum melihat Anak yang selalu menempel padanya tertawa. Setiap ia ke istana, pertama kali yang ia cari hanyalah Putri Maya, wajah yang menggemaskannya itu membuat Duke Rachid ingin selalu bersamanya.
Anastasya mengekori arah mata Duke Rachid, "Apa Duke tertarik dengannya?" tanya Anastasya tanpa lepas memperhatikan kedua Putrinya.
"Ehem, itu hanyalah perkataan Putri kecil Permaisuri. Hamba juga tidak terlalu berharap." jawab Duke Rachid di sertai ke gugupan.
Anastasya terkekeh, Rupanya dia menganggap perkataan Putri Maya serius.
"Bagaimana dengan Putri Ingrid ?"
Anastasya sudah mengingat di dalam novel, Duke Rachid menikah dengan Putri Ingrid anak dari keluarga Baron Verland dan Baronetess Ava.
Apa Permaisuri takut Putri Maya menyukai ku, hingga dia menanyakan Anak keluarga Baron batin Duke Rachid. Hatinya pun tidak terima jika di pisahkan dengan Putri Maya.
__ADS_1
"Maaf Permaisuri, untuk masalah ini, Permaisuri tidak perlu ikut campur." ucap Duke Rachid dengan tegas.
Anastasya terkekeh, "Kenapa Duke Rachid seperti orang mana. Aku tidak akan ikut campur urusan apalagi dengan kehidupan Duke." Anastasya melihat ke arah Putri Maya dan Putri Viola.
"Putri Maya dan Putri Viola, saat dewasa aku tidak akan mengekangnya atau membuat perjodohan. Biarkan mereka memilih masa depannya sendiri. Dan jika Putri Maya jatuh hati dengan Duke, aku pun tidak akan mengekangnya. Karna aku tau, aku sebagai seorang Ibu, ingin melihat Anaknya bahagia. Maka dari itu Aku membiarkan kebebasan untuk mereka."
Perkataan Anastasya membuat jantung Duke Rachid berdetak hebat, ada rasa bahagia di ulu hatinya.
"Besok aku dan Kedua Putri Ku akan keluar istana. Kami menerima undangan dari Kaisar Emerald. Maka dari itu kami mempercayakan istana pada mu."
"Be, berapa hari?"
Ada rasa tidak menyenangkan dari hatinya, ia tidak ingin berpisah dengan Putri Maya terlalu lama.
"Entahlah Aku tidak tau, jangan khawatirkan Putri Maya dan jangan merindukannya. Bisa jadi Duke akan stress merindukannya."
Anastasya bangkit, ia akan melihat Pangeran Enzo dan Enzi yang di hukum oleh Kaisar Alex.
Sampailah Anastasya di ruang kerja Kaisar Alex, Anastasya membuka pintu ruangan itu. Satu tatapan yang ia lihat, punggung Kaisar Alex yang menghadap ke arah dua orang. Masing-masing di depannya terdapat tumpukan berkas. Anastasya juga melihat wajah lesu dari kedua Putranya.
Hemz
"Apa Yang Mulia segitunya memberikan mereka hukuman?"
"Biarkan saja, lagi pula mereka harus terbiasa dengan urusan istana,"
"Hais," Anastasya mendekatkan bibirnya ke telinga Kaisar Alex. "Apa Yang Mulia perlu mendapatkan hukuman dari hamba,"
Setelah mengucapkan kata itu, Anastasya membalikkan tubuhnya, ia tidak peduli dengan wajah Kaisar Alex yang menahan amarahnya.
"Baiklah, selesaikan besok, dan ingat kalian jangan mengikuti hal yang tidak berguna."
__ADS_1
"Permaisuri," teriak Kaisar Alex berlari kecil mengejar Anastasya.
"Permaisuri," Kaisar Alex menarik lengan Anastasya hingga jatuh ke dalam pelukannya.
"Seharusnya Yang Mulia tidak memasuki perkataan Putri kita ke dalam hati," Anastasya memegang kedua pipi Kaisar Alex, "Tampan atau tidaknya Yang Mulia, hamba akan tetap mencintai Yang Mulia." ucap Anastasya membuat Kaisar Alex hendak mendekatkan bibirnya ke bibir Anastasya.
Ha ha ha
Seketika Kaisar Alex menoleh, ia sadar tidak seharusnya melahap Anastasya di tempat umum, bisa-bisa dirinya di kucilkan oleh para bangsawan, tapi bukan masalah itu yang menjadi bebannya, selama dirinya bersama Permaisuri. Ia akan melakukan apa pun demi kebahagiaan Permaisurinya.
Yang kini menjadi permasalahanya, ia takut tertangkap basah oleh kedua Putrinya.
Hemz
"Permaisuri."
Kaisar Alex membalikkan badannya, ia beralih memeluk pinggang Anastasya.
"Lihatlah Putri Maya,"
"Apa Duke Rachid menyangka perkataan Putri Maya beneran? kenapa dia terlihat senang bersama Putri kita?" tanya Kaisar Alex merasa keheranan. Ia tidak pernah melihat Duke Rachid tertawa lepas selain tertawa dengan Permaisurinya dulu dan sekarang malah tertawa lepas dengan Putrinya.
"Jangan bilang dia.."
"Biarkan saja takdir berjalan Yang Mulia. Kita tidak perlu ikut campur kehidupan kedua Putri kita. Kita hanya mendukung mereka jika benar dan jika salah, kita cukup memperingati mereka."
"Hah, terserahlah, yang penting Permaisuri tidak membuat Ku libur." Kaisar Alex mencubit hidung Anastasya.
"Dasar mesum,"
"Mesum dengan istri sendiri kan tidak masalah, Apa perlu aku mesum dengan wanita lain."
__ADS_1
"Coba saja jika junior Yang Mulia ingin hilang."
Kaisar Alex pun tertawa, bahkan para pelayan dan pengawal yang melihatnya juga turut bahagia. Mereka bersyukur, semoga kebahagiaan itu ada di dalam Kekaisaran Matahari.