Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 3_mengadu


__ADS_3

Hilda duduk dengan bergelinang air mata, ia tidak tau apa yang ia harus lakukan. Hatinya hanya untuk sang Paman, ia sudah berusaha mengatakan semua yang ia inginkan. Apa benar memang sudah tak ada harapan lagi? bahkan dirinya mau untuk menjadikannya istri keduanya.


"Nona, sebaiknya kita pulang." seru Eve menatap sakit hati saat majikannya mengeluarkan air matanya. Hatinya yang begitunya menyayanginya, tidak terima sang majikan di perlakukan seperti itu. Ia akan berusaha membuat Duke Rachid mencintai majikannya, berusaha membuat mereka bersama apa pun caranya.


Hilda memegang dadanya tiba-tiba ia merasakan nyeri. "Eve." lirihnya.


"Apa dada Nona sakit?" tanya Eve khawatir.


"Sakit Eve." jawab Hilda terbata-bata.


Pelayan Eve segera membantu memapah Hilda menuju kereta, sesampainya di kereta. Eve membuka semua keperluannya di kotak, ia memberikan obat untuk Hilda. Setelah meminum obatnya, Hilda merasa baikan. Hilda menarik nafasnya, ia melihat ke arah Eve yang membereskan keperluannya. "Eve apa aku salah melakukan ini?" tanya Hilda.


"Untuk apa Nona merasa bersalah? bahkan Nona sudah mengatakan rela menjadi istri kedua. Hamba saja tidak pernah berfikir Nona mau menjadi istri kedua dari Yang Mulia Duke. Seandainya orang lain, mereka akan bersaing." balas Eve seraya menoleh ke arah Hilda.


"Saya akan berusaha membantu Nona. Lagi pula Nona juga cocok dengan Duke." sambungnya lagi yang di balas oleh senyuman di wajah Hilda.


Tak terasa mereka sampai di kastil Duke Rachid pada sore hari. Hilda langsung turun di ikuti Eve dari belakang. Ia melihat Duke Rachid mondar mandir mengkhawatirkannya.


"Hilda kamu dari mana saja?" tanya Duke Rachid menatap khawatir, sedari tadi ia sudah menunggu kedatangannya. Bahkan ia sudah menyuruh kedua pengawalnya untuk mencari Hilda, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil menemukanya.


"Aku sedang jalan-jalan Paman." ucap Hilda berbohong. Ia tidak ingin sang paman tau semuanya. Salahkan saja cintanya yang begitu besar untuk sang paman.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu baik-baik saja kan. Em, Bibi sudah datang. Dia menunggu mu sedari tadi." ucap Duke Rachid.


Deg


Hilda memaksakan senyumannya, ia tidak ingin pulang. Dirinya masih ingin bersama dengan Duke dalam waktu yang lama.


"Masuklah, tapi kamu beneran tidak apa-apa? jika perlu Paman akan memanggil Dokter." seru Duke Rachid.


Hilda tersenyum, ternyata Duke Rachid masih perhatian padanya. Mungkin saja kelak ia akan menerima semuanya. "Baiklah Paman aku akan menemui Bibi."


"Bibi ada di kamarnya, temuilah." ucap Duke Rachid bersama-sama melangkah menuju ke lantai dua.


"Bibi." sapa Hilda melihat wanita paruh baya yang sedang menyandarkan punggungnya ke sisi ranjang dengan menggunakan bantal.


Hilda duduk di kursi yang tak jauh dari ranjangnya, ia duduk dan menggenggam tangan Bibi Diane.


"Bagaimana kabar Bibi? Hilda sangat merindukan Bibi." ucapnya tersenyum lembut.


"Kabar Bibi baik, bagaimana kabar mu? apa masih merasakan sakit?" tanya Bibi Diane.


"Tidak Bibi, bagaimana kabar autumn, Bibi?" tanya Hilda balik.

__ADS_1


"Kabar Autumn baik," sahutnya seraya mengelus genggaman tangan Hilda.


Hati Duke Rachid menghangat, ternyata hubungan Hilda dan Bibinya bukan hanya sebatas keponakan saja. Duke Rachid melihat sang Bibi sangat menyayangi Hilda layaknya anak sendiri. Ia tersenyum dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Ia memberi waktu untuk kedua wanita itu, melepaskan kerinduan di hati mereka.


"Yang Mulia." sapa Eve melihat Duke Rachid yang keluar dari kamar Bibi Diane.


Duke Rachid meliriknya, "Ada apa?" tanya Duke Rachid datar.


"Ini masalah tentang Nona Hilda," ucap pelayan Eve sedikit berbisik.


"Katakan saja," ucap Duke Rachid datar.


Eve celingak celinguk, ia tidak ingin ada orang lain yang tau. Terlebih lagi ia harus sedikit merendahkan suaranya, agar tidak terdengar kedua wanita di dalam.


"Tadi Nona Hilda ke Akademik."


Duke Rachid mengernyitkan dahinya. Ia masih penasaran dengan kelanjutan pelayan Eve.


"Nona Hilda bertemu dengan Putri Maya, tapi sayang Putri Maya memarahinya, membuat jantung Nona Hilda sakit kembali." ujar pelayan Eve dengan meneteskan air matanya.


"Mungkin Putri Maya tidak menyukai Nona Hilda." sambungnya lagi.

__ADS_1


Tangan Duke Rachid mengepal, ia menahan amarah. Tidak mungkin Putri Maya melakukan itu, dia tidak akan marah jika tidak ada yang mengusiknya. Ia menatap tajam ke arah pelayan Eve. "Awas saja jika kamu berbohong. Aku tidak segan menebas kepala mu." ucap Duke Rachid dengan tegas, dingin dan tajam. Ia langsung meninggalkan pelayan Eve menuju ke arah kudanya. Ia ingin memastikan sendiri ucapan pelayan Eve.


__ADS_2