
Seminggu telah berlalu..
Seorang gadis tengah menundukkan kepalanya, sementara gadis di depannya hanya melirik sekilas lalu memalingkan wajahnya.
"Putri, maaf." ucapnya lirih dengan penuh penyesalan. Karna semua ke egoisannya, ia harus kehilangan pelayan Eve.
"Sudah." Gadis di depannya menatap, lalu beranjak pergi.
"Paman tidak tau apa-apa masalah istri ke dua. Hamba lah yang menawarkan sendiri. Paman tidak menyuruh hamba Putri. Jika Putri ingin menghukum, hukumlah hamba." ucap Hilda, tenggorokannya seakan tercekat.
"Apa maksud mu? jadi Paman tidak ikut campur masalah ini."
Hilda menggeleng pelan seraya menangis, "Paman sudah berangkat menuju ke wilayah timur. Setelah ini hamba harap Putri bisa memaafkan Paman."
Putri Maya memejamkan matanya, ingin sekali rasanya mencabik-cabik mulut Nona Hilda. Jika bukan karna dirinya sudah minta maaf. Pikiran Putri Maya tertuju ke Duke Rachid, ia mengingat pertemuan terakhirnya. Dimana Duke Rachid memeluknya begitu erat.
Aku harap Paman pulang dengan selamat batinnya.
Tak terasa kini sebulan telah berlalu.
Duke Rachid telah menyelesaikan perintah Kaisar Alex dan kembali ke kediamannya.
Setelah melakukan acara penghormatan atas kepulangannya. Untuk pesta kemenangannya akan di adakan dua hari lagi. Selama berperang, Duke Rachid terkena tebasan di punggungnya dan mata kanannya terluka. Duke Rachid yang selama mudanya tak pernah tergores, kini tergores hanya karna pikirannya kacau. Rindu, ya rindu itu untuk Maya, Putri Maya. Selama sebulan itu ia rindukan, tiap waktu. Bukan hal mudah jika ia ingin mengeluarkan, tapi kekuatan itu terasa
tidak apa-apanya bagi dirinya, untuk menuntaskan hasrat amarah dan rindu. Selama berperang melawan pemberontak, ia tidak pernah mengeluarkan kekuatannya, ia hanya mengandalkan kekuatan tenaganya. Baginya saat itu, ia butuh pelampiasan rasa amarahnya.
Sedangkan Putri Maya, kini dirinya tengah bersiap-siap, hari ini dimana ia akan pulang menemui Kaisar Alex dan Permaisuri Anastasya. Ia juga membawa Arnoz, mungkin ayahnya akan memberikan dia jabatan sesuai kemampuannya.
Pintu gerbang istana terbuka lebar, gadis cantik itu turun seraya menatap gerbang kokoh itu dan sebuah kastil megah tempat dirinya di besarkan.
"Mari Putri." ucap pelayan Ana.
Putri Maya melebarkan senyumannya, ia merasakan udara dan aroma mawar yang tidak asing. Bahkan dirinya berputar-putar.
"Putri Maya."
Putri Maya menghentikan putarannya, ia menatap dua sosok orang yang sangat berjasa membesarkannya.
"Ibunda, Ayahanda." Putri Maya langsung memeluk kedua orang itu.
"Selamat datang Adik ku." Putri Viola tersenyum seraya bergandengan tangan dengan Pangeran Abigail.
"Wah hebat sekali Adikku, gadis kecil yang cerdas. Seharusnya Adik pulang 3 bulan lagi."
"Siapa dulu, Putri Maya." ucap Putri Maya membanggakan dirinya dan melepaskan pelukannya.
"O, iya Ibu. Lihatlah dia Kak Arnoz." ucap Putri Maya menunjuk ke arah laki-laki bersama pelayan Ana. Ia membungkuk hormat.
"Kenapa Putri kita membawanya kesini?" bisik Kaisar Alex.
"Sudahlah Yang Mulia jangan ribut,"
Kaisar Alex menatap wajah Arnoz, orang yang membuatnya kesal. Ia ingin mengusir Arnoz, tapi melihat wajah Putri Maya dan sekitarnya tersenyum hangat ke arahnya, ia pun menyerah. Karna hanya dirinya satu-satunya yang menolak kedatangannya.
__ADS_1
"Sayang kamu tidak merindukan seseorang?" tanya Permaisuri Anastasya.
"Emz, Ibu dimana Paman?" tanya Putri Maya melihat kanan kiri, dirinya hampir lupa tentang Duke Rachid karna dirinya tengah asik melepas rindu.
"Temuilah Dia Putriku. Dia sedang terluka." ucap Kaisar Alex menunduk dengan wajah sedih.
Puti Maya membungkuk hormat, ia kemudian menaiki kereta yang masih berada di halaman.
"Antarkan aku ke kediaman Duke Rachid. Cepat !"
"Baik Putri." Jawab kusir kuda.
Setelah menempuh jarak beberapa menit, kereta itu sampai di kediaman Duke Rachid.
Putri Maya langsung turun, ia berlari kecil menuju ke kamar Duke Rachid. Sesampainya disana, ia melihat kedua pengawal Duke Rachid yang berbicara dengan Dokter.
"Dimana Paman?" tanya Putri Maya khawatir.
"Putri datang diwaktu yang tepat." ucap Emi seraya membuka pintu kamar itu.
Putri Maya masuk, ia melihat laki-laki di atas ranjang dalam posisi tengkurap. Diliriknya ke atas nakas, ternyata ada obat yang di racik dari beberapa tumbuhan. Luka di punggungnya terlihat panjang. Putri Maya mengambil obat itu, ia mengolesi ke luka punggung Duke Rachid dengan hati-hati.
"Sudah aku bilang, jangan olesi luka ini." ucap Duke Rachid dengan suara dingin. "Apa mau aku memenggal mu, hah." bentaknya.
Duke Rachid menepis kasar tangan itu, ia duduk. Wajahnya terkejut melihat siapa di depannya. Matanya berkaca-kaca, hatinya terasa sesak. Ia langsung memeluknya. "Maya ku, Maya ku." lirihnya sambil terisak-isak.
"Iya Paman, ini aku. Maya," balasnya tersenyum.
"Maya," Duke Rachid kembali memeluk Putri Maya. "Jika ini mimpi, aku tidak ingin terbangun." ucapnya, ia yakin saat ini hanyalah sebuah mimpi. Putri Maya tidak akan mendatanginya karna kesalahannya yang tidak bisa di maafkan. Ia sudah pasrah Putri Maya bersanding dengan Arnoz, lagi pula tubuhnya sangat buruk di tambah lagi dengan sebelah matanya. Dokter sudah mengatakan, sebelah matanya bisa saja buta.
Putri Maya tersenyum, ternyata Duke Rachid masih berfikir saat ini adalah mimpi.
"Emi." Panggil Putri Maya dengan berteriak.
"Kenapa Maya ku, masih memanggil Emi? apa Maya ku tidak ingin bersama ku kah?" tanya Duke Rachid tanpa melepaskan pelukannya.
"Hamba, Putri." ucap pengawal Emi.
"Panggilkan Dokter istana," perintahnya.
"Kebetulan Dokter istana belum pulang Putri, hamba akan memanggilnya." ucap Emi, akhirnya ia merasa lega. Dengan begini Duke Rachid tidak akan menolak luka punggungnya di obati.
Selang beberapa saat datanglah laki-laki paruh baya, ia membungkuk hormat. Wajahnya memerah, Duke Rachid masih memeluk Putri Maya.
"Yang Mulia Duke, bisakah melepaskan pelukannya." ucap Dokter istana.
"Aku tidak ingin melepaskan pelukannya, bisa saja dia pergi. Kamu tidak akan bertanggung jawab jika Maya ku pergi. Cepat pergi, aku tidak butuh pengobatan mu." bentaknya menatap tajam ke arah paruh baya itu.
"Paman, berbaringlah." timpal Putri Maya. Ia tidak ingin luka Duke Rachid semakin parah.
"Tidak, jika Paman berbaring nanti Maya ku akan pergi lagi." lirihnya seraya menangis.
"Paman, dengar. Maya mu tidak akan pergi. Sekarang berbaringlah. Paman bisa memegang tangan ku." ucap Putri Maya menangkap kedua pipi Duke Rachid. "Jika Paman seperti ini, Maya akan pergi. Maya tidak suka keras kepala Paman."
__ADS_1
Duke Rachid menyerah, ia langsung memegang lengan Putri Maya begitu erat.
"Segera jahit lukanya." ucap Putri Maya.
Dokter istana pun membersihkan kembali luka Duke Rachid. Dengan hati-hati ia menjahit luka itu. Sementara Duke Rachid meringis kesakitan. Ia bertambah mengeratkan pegangan di lengan Putri Maya.
Setelah selesai mengobati Duke Rachid, Dokter istana pamit pergi. Putri Maya pun mengelus kepala Duke Rachid hingga terdengar nafas teratur.
"Paman, maaf. Maya egois." ucapnya seraya mencium kepala Duke Rachid. Putri Maya membaringkan kepalanya di atas bantal yang sama dengan Duke Rachid. Menatap wajahnya begitu lekat, ia meraba sebelah mata Duke Rachid. "Maaf Paman." lirihnya sambil mengeluarkan air matanya.
Duke Rachid terbangun, "Akhirnya aku belum terbangun dari mimpi ku." ucapnya menatap Putri Maya yang menangis. Duke Rachid mengira dirinya masih berada di bawah alam mimpinya. "Kenapa kamu menangis?" tanya Duke Rachid seraya menggerakkan tangan kanannya.
"Cepat sembuh lah Paman, kita akan segera menikah."
"Benarkah, apa aku boleh mencium Maya ku?" tanya Duke Rachid, wajahnya semakin berbinar. Ternyata di alam mimpinya, Putri Maya mengajaknya untuk menikah.
"Baiklah. aku akan segera sembuh." Ucap Duke Rachid, ia mencium bibir Putri Maya dan **********.
Putri Maya pun membalas ciuman Duke Rachid, lidahnya bergoyang di mulut Duke Rachid. Dengan sigap Duke Rachid membuat Putri Maya berada di atas tubuhnya.
"Paman," ucap Putri Maya tersentak kaget, ia takut luka punggung Duke Rachid terjadi apa-apa.
"Biarkan Paman memeluk mu." Ucap Duke Rachid mengeratkan pelukannya.
Putri Maya meronta-ronta minta di lepaskan.
"Jangan seperti ini Maya ku."
Putri Maya terlihat kesal, jika bukan karna terluka sudah sedari tadi ia memukul kepala Duke Rachid agar terlepas dari godaan mautnya. "Lepaskan, Maya tidak akan kemana-mana. Maya bisa terluka jika Paman seperti ini."
Duke Rachid melepaskan pelukannya dengan wajah khawatir, "Maaf."
Putri Maya tak menjawab, ia membenarkan bantalnya kemudian melentangkan tangan kirinya agar menjadi bantalan untuk kepala Duke Rachid. "Tidurlah."
Duke Rachid menurut, ia tidur dengan bantal tangan Putri Maya. Ia mendongakkan wajahnya. "Jangan pergi."
"Maya mu tidak akan pergi Paman tidurlah."
"Mimpi ini indah sekali." ucap Duke Rachid sambil memejamkan matanya.
"Masih di anggap mimpi kah," Dengan kesal Putri Maya mencubit pipi Duke Rachid. "Sakit." ucap Duke Rachid.
"Ini Maya, Paman." ucap Putri Maya menahan kesalnya.
Duke Rachid beranjak duduk, matanya berkaca-kaca. Ia langsung membenamkan wajahnya di lengan Putri Maya. "Be-benarkah." ucap Duke Rachid ia kembali menangis tersedu-sedu. "Jadi ini nyata,"
"Benar, sebaiknya Paman istirahat. Maaf, Maya tadi kesal karna Paman menganggap Maya hantu mimpi." kekeh Putri Maya.
"Terimakasih Putri Maya, Paman berjanji tidak akan melukai Putri Maya lagi, Maya ku." ucap Duke Rachid, menikmati harum tubuhnya Putri Maya.
Silahkan mampir jika berkenan
#Istri Kontrak Sang Duke (lapak Orenz ada huruf W😊)
__ADS_1