
Duke Rachid yang tidak merasakan suasana hati Putri Maya, ia hanya menganggap Putri Maya hanya penasaran saja. Lagi pula tadi ia sudah menjelaskannya.
Kereta itu pun berhenti, Duke Rachid turun. Ia membantu Putri Maya untuk turun. Saat Duke Rachid ingin mencium keningnya, tiba-tiba Putri Maya memalingkan wajahnya ke arah Ana.
"Emm Ana, besok kamu siapkan semua keperluan ku untuk kembali ke Akademik." ucap Putri Maya tersenyum. Hatinya yang masih panas, ia enggan menatap Duke Rachid.
"Dan paman terimaksih," ucap Putri Maya langsung pergi.
Duke Rachid terdiam, ia merasa aneh dengan sikap Putri Maya yang tak seperti biasanya. Ia merasa Putri Maya menjauhinya. Namun perasaan itu, ia tepis. Ia yakin Putri Maya hanya kelelahan saja. Duke Rachid tak ambil pusing, ia langsung menaiki keretanya kembali.
"Syukurlah Putri Maya sudah datang." seru Mery yang berpapasan dengannya saat menuju ke lantai atas.
"Memangnya ada apa?" tanya Putri Maya sambil melihat ke arah tangan Mery yang membawa baskom kosong.
"Putri Viola pingsan dan sekarang muntah-muntah." tutur Mery.
__ADS_1
"Apa?" teriak Putri Maya terkejut, ia langsung berlari menaiki tangga menuju ke kamar Putri Viola.
"Kakak," teriak Putri Maya membuat semua orang menoleh.
"Katanya Kakak pingsan, terus bagaimana keadaan Kakak? apa tubuh Kakak kesakitan?" cerocos Putri Maya di iringi jatuhnya air mata. Ia begitu takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Kakaknya.
"Kenapa menangis? Kakak tidak apa-apa Adik," balas Putri Viola seraya memeluk Putri Maya serta mencium kepalanya.
"Sesuatu yang terjadi dengan Kakak mu itu hal biasa Putri Maya. Seorang Ibu hamil pasti mengalaminya dan ada beberapa yang tidak mengalaminya." timpal Anastasya mengelus lembut punggung Putri Maya, ia begitu senang dengan kedekatan Putrinya yang saling menjaga.
"Sayang dengarkan Kakak," Putri Viola melepaskan pelukannya, ia menyingkapi sedikit rambut yang menutupi mata Putri Maya. "Kakak tidak apa-apa, tidak ada sesuatu yang perlu di khawatirkan. Sebentar lagi Kakak juga akan pulih." serunya meyakinkan Putri Maya.
Putri Maya menatap sengit Pangeran Abigail, "Pangeran sih, buat Kakak seperti ini. Kasian Kakak menderita." gerutu Putri Maya dengan polosnya.
Pangeran Abigail hanya menunduk, ia merasa bersalah. Seandainya saja sakit yang dialami Putri Viola berpindah pada tubuhnya, ia iklas menerimanya dengan senang hati.
__ADS_1
"Jangan salahkan Kakak Ipar mu, Kakak mu tidak salah apa-apa. Bagi Ibu hamil sudah biasa Adik."
"Tapi aku tidak terima Kakak seperti ini." ucap Putri Maya yang tak ingin kalah.
"Putri Maya, kamu tidak tau saat Ibunda mu hamil kamu dan Putri Viola. Ibunda mu selalu meminta aneh-aneh, bahkan Ayah pernah memasak sendiri. Jangan menyalahkan laki-laki jika tidak ada laki-laki tidak akan ada dirimu." cerocos Kaisar Alex, ia tidak terima sebagai laki-laki di salahkan begitu saja. Selama kehamilan Anastasya, ia sudah banyak menderita. Mulai Anastasya menangis, marah tidak jelas. Selama sembilan bulan semua perjalannya di ikuti dengan lapang dada.
"Yang Mulia." seru Anastasya menatap tajam ke arah Kaisar Alex.
Kaisar Alex tidak terima, ia tetap kekeh ingin menjelaskan jika laki-laki tidak bersalah sedikit pun.
"Lah terus apa salahnya, benar kan. Jika tidak ada laki-laki tidak akan terbentuk Putri Maya dan Putri Viola. Memangnya mereka berdua bisa bentuk bulat sendiri. Semua itu karna usaha ku."
Putri Maya bangkit, "Ah sudahlah, laki-laki sama saja mau menang sendiri dan tidak pernah memahami perasaan perempuan." ucap Putri Maya berlalu pergi dengan wajah marah.
"Malah pergi," seru Kaisar Alex menatap ke arahnya.
__ADS_1
Sementara Anastasya, hatinya merasakan sesuatu yang tidak beres, ia segera menemui mengikuti langkah kaki Putri Maya.