
Pangeran Abigail yang masih mematung, ia menatap wanita di depannya tanpa berkedip.
"Tidak mau memeluk Ku," ucap Putri Viola tersenyum.
Pangeran Abigail langsung memeluk Putri Viola begitu erat, seakan tidak ingin melepasnya.
"Putri,"
"Ya," Putri Viola pun mengusap lembut punggung Pangeran Abigail.
"Putri,"
Putri Viola menaikkan alisnya, ia merasakan Pangeran Abigail menangis dalam pelukannya.
"Jangan menangis," seru Putri Viola seraya menghapus air mata di pipi Pangeran Abigail.
Pangeran Abigail hanya diam terpaku, ia kembali membenamkan kepalanya di ceruk leher Putri Viola.
"Aku merindukan Putri," lirihnya.
"Sebaiknya kita masuk, tidak enak di lihat para pelayan." ucap Putri Viola yang melihat semua pelayan menghentikan aktivitasnya, mereka berlalih menatap mereka dengan senyuman.
"Em, baiklah." ucap Pangeran Abigail menarik lengan Putri Viola.
Sesampainya di dalam, Putri Viola melihat ke kanan kiri, arah matanya menuju ke sebuah lukisan berukuran sedang, lukisan seorang anak kecil bermata biru yang tak lain adalah dirinya.
"Ternyata Pangeran masih mengingat ku," ucap Putri Viola meraba lukisan di depannya itu.
"Tentu saja, aku selalu mengingat wajah cantik Putri." ucap Pangeran Abigail.
Putri Viola mengangguk, ia menuju ke arah sofa, lalu duduk dengan santai. Rasanya badannya lelah selama satu hari perjalanan.
Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa itu, lalu memejamkan matanya sejenak.
Hati Pangeran Abigail merasa kasihan, ia menuju ke belakang Putri Viola, tangannya yang kaku memijat bahu Putri Viola.
__ADS_1
"Pangeran," Putri Viola ingin bangkit, namun di hentikan oleh Pangeran Abigail.
"Biarkan saja Putri, aku hanya ingin melakukannya."
Putri Viola menggenggam tangan Pangeran Abigail, "Jangan Pangeran, jika ketahuan pelayan. Aku merasa tidak enak."
"Aku mohon Putri,"
Putri Viola menghela nafas, ia membiarkan bahunya di pijat oleh Pangeran Abigail. Rasa kelembutan tangannya membuat Putri Viola lebih tenang.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap tajam ke arah mereka. Hatinya panas terbakar dengan api cemburu.
"Lihat saja, aku akan membuat Pangeran menjadi milik Ku seutuhnya." ucapnya seraya meremas gaunnya.
"Coba saja kalau bisa Nenek Garang,"
Seketika Emma menoleh, ia terkejut melihat Putri Maya berdiri tepat di belakangnya.
"Pu, Putri Maya." ucapnya terbata-bata.
"Coba saja, kamu merusak hubungan mereka. Dan lihat Pangeran Abigail memilih mu atau memilih Kakak."
"Kita lihat saja nanti," ucapnya berlalu pergi.
"Aku tunggu, Nenek Garang." ucapnya tersenyum sinis.
"Siapa sayang?" tanya Duke Rachid yang tiba-tiba muncul. Ia mengikuti arah mata Putri Maya dan melihat punggung wanita semakin menjauh.
"Biasa lah, Mumi berjalan." ucap Putri Maya dengan santai.
Putri Maya hanya melihat sekilas ke wajah Duke Rachid, ia kemudian mengintip dari arah pintu.
Duke Rachid mengkerutkan dahinya, "Apa Putri menginginkan seperti itu?" tanya Duke Rachid.
"Hais, diamlah. Aku datang kesini menjaga Kakak ku." ucap Putri Maya lalu menarik lengan Duke Rachid agar tidak mengganggu sepasang insan itu.
__ADS_1
Pada malam harinya..
Putri Viola terbangun di kasur empuk, ia melihat sekelilingnya. Ternyata masih berada di dalam kamar Pangeran Abigail. Ia mengingat kembali kejadian tadi, ternyata pijatan Pangeran Abigail sukses membuatnya tertidur.
krek
Putri Viola menoleh, ia melihat Pangeran Abigail yang membawa makanan.
"Putri sudah bangun, ayo makan malam dulu Putri." ucap Pangeran Abigail seraya menyodorkan makanan ke mulut Putri Viola.
Putri Viola pun menyambutnya, ia menerima suapan nasi dari Pangeran Abigail.
Dengan telatennya Pangeran Abigail menyuapi Viola, sesekali ia mengelap sisa kotoran di bibir Viola.
"O, iya Putri. Tadi Putri Maya dan Duke Rachid kesini, mereka menyusul Putri." tuturnya.
Putri Viola menaikkan salah satu alisnya, saat adiknya di ajak, dia tidak mau dan sekarang malah tiba-tiba menyusul, "Untuk apa mereka kesini?"
"Mungkin khawatir dengan Putri, sebaiknya esok saja Putri bertemu dengan Adik ipar. Mungkin sekarang Adik ipar sedang tidur." Pangeran Abigail membereskan piring dan gelas itu, lalu menaruh di nampan tadi.
"O, iya, Putri tidur dulu. Aku masih ingin melihat keadaan Emma. Tadi kakinya terkilir."
"Aku tidak mau tidur, bisakah nanti kita berbicara atau sekedar mencari udara malam."
Pangeran Abigail tersenyum, ia mencium kening Putri Viola.
"Tunggu saja Putri," ucapnya berlalu pergi dengan wajah bahagia.
Putri Viola membaringkan tubuhnya, matanya masih terjaga. Pikirannya melayang entah kemana. Dengan sabarnya ia menunggu kedatangan Pangeran Abigail, tapi sampai satu jam. Pangeran Abigail tidak muncul. Entah mengapa hatinya merasa tidak enak. Ia turun dari ranjangnya, menyusul Pangeran Abigail ke kamar Emma.
Tanpa sengaja Putri Viola bertemu dengan pelayan Mira, ia langsung menghampiri pelayan Mira.
"Mira, apa kamu tau kamar Emma?"
"Hamba tau Putri," jawab Mira keheranan. Untuk apa Putri Viola menanyakan kamar Emma. Seketika dia ingat Emma yang tergelincir.
__ADS_1
Segera mereka menuju ke kamar Emma, saat mereka membuka pintu kamar Emma. Putri Viola dan pelayan Mira menuju ke ranjang Emma.
"Pangeran," teriak Mira seraya membulatkan matanya. Mereka melihat Pangeran Abigail dan Emma saling berpelukan tanpa busana.