Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
season 2_perpisahan.


__ADS_3

Dengan darah mendidih, Pangeran Abigail menendang pintu kamar Emma dengan kasar. Langkahnya yang lebar, wajah dinginnya membuat Emma gemetar ketakutan. Selama ini ia tidak pernah melihat Pangeran Abigail marah sedikit pun.


"Ini semua gara-gara kamu Emma, puas kamu, puas kamu, hah !" teriak Pangeran Abigail seraya mengguncang tubuh Emma.


Emma yang merasakan sakit di lengannya karna remasan Pangeran Abigail, ia menjerit kesakitan, " Sakit Pangeran."


Pangeran Abigail mengabaikan perkataan Emma, "Puas kamu hah, puas kamu menyakiti ku. Aku salah apa pada mu Emma ? selama ini aku kurang baik apa sama kamu, Emma ?"


Perlakuan kasar Pangeran Abigail, membuat hati Emma tidak terima, ia melepaskan kedua tangan Pangeran Abigail dengan kasar.


"Salahkan dirimu Pangeran, kenapa kamu bersikap baik pada ku ? kenapa kamu menumbuhkan rasa cinta di hati ku? jika tidak bisa membalasnya." teriak Emma di sertai air bening yang keluar dari matanya.


Pangeran Abigail yang sudah tersulut amarah, ia melayangkan tangannya.


Plak


"Selama ini aku lembut, karna aku berpikir kamu orang baik Emma. Aku menganggap mu saudara ku. Karna aku tau kamu lah yang menemani hari ku. Dan sekarang kamu membuat hubungan ku di ujung tanduk, puas !" bentak Pangeran Abigail.

__ADS_1


Emma tersenyum, "Aku puas Pangeran, walaupun Pangeran membenci ku. Pangeran tidak bisa menyangkalnya. Pangeran sudah tidur dengan ku."


Pangeran Abigail mengepalkan tangannya, perkataan Emma menusuk hatinya. Dia menyalahkan dirinya sendiri.


Ia merasa terlalu lemah untuk menjaga hubungannya, laki-laki yang tidak pantas bersanding dengan Putri Viola.


Tanpa berfikir panjang, Pangeran Abigail meninggalkan Emma.


"Jangan lupa Pangeran, sebentar lagi kita akan menikah."


Seketika Pangeran Abigail menghentikan langkah kakinya. Ia diam saja, entah apa yang akan terjadi hari esok.


Deg


Rasa sakit itu tepat sasaran di ulu hati Emma, ia tidak pernah merasakan rasa sesakit ini. Emma membisu, dia mematung, memegang dadanya yang terasa sesak.


Argh

__ADS_1


Pangeran Abigail yang mendengarkan teriakan Emma, ia mengabaikannya begitu saja. Baginya, teriakan Emma tidak lebih penting dari pada Putri Viola.


Segera Pangeran Abigail menuju ke kamar Putri Viola, ia berharap Putri Viola membuka pintunya, tapi sama saja pintu itu tertutup rapat. Pangeran Abigail menyandarkan badannya ke dinding. Ia terduduk lemas, "Putri." lirihnya sambil mengeluarkan air matanya.


Setelah cukup menunggu, Pangeran Abigail menuju ke kamarnya. Pikirannya gusar, apa yang harus dia lakukan demi mempertahankan pertunangannya? bagaimana jika Kaisar Alex dan Permaisuri Anastasya tau? sudah pasti mereka akan membatalkan pertunangan ini dan dampak semua ini pastilah perang.


argh


Pangeran Abigail menjambak rambutnya dengan kasar, "Bagaimana ini? aku tidak boleh lemah. Aku harus mencari bukti, aku tidak ingin menikah dengannya." ucap Pangeran Abigail, ia meninju kaca di depannya itu sampai retak, bola matanya mengeluarkan aura dingin, menatap bayangan tubuhnya, ia jijik melihat tubuh kotornya, selain mempunyai kulit yang buruk, kulitnya juga sudah ternoda. "Inilah kenapa aku tidak suka dengan tubuh ku yang lemah." Pangeran Abigail kembali meninju kaca itu, hingga kaca itu pecah ke lantai.


Lamunannya tersadar ketika telinganya mendengar derap kaki kuda. Pangeran Abigail melihat ke arah dinding, ternyata sudah pukul 03.30.


"Putri Viola," teriaknya sambil berlari, ia turun tergesa-gesa dari tangga. Saat Pangeran Abigail ingin menyusul kuda Putri Viola, lengannya di cekal oleh Kaisar Emerald.


"Renungkan lah Pangeran, ini semua salah mu. Jadi berdoa saja, semoga Kaisar Alex tidak mengacungkan pedangnya." ujar Kaisar Alex dengan nada dingin, ia sungguh jijik melihat putranya. Dia malu saat Putri Viola masih memperlakukannya dengan baik, bahkan masih bisa menghargainya.


Sementara di luar gerbang, yang tak jauh dari gerbang itu. Seorang wanita memakai baju zirah dengan rambut di biarkan tergerai, rambutnya terombang ambing terbawa angin, memperlihatkan aura tegas di selimuti kecantikannya, ia menghentikan langkah kudanya dan melihat ke arah kastil yang megah sambil mengeratkan genggaman pedangnya.

__ADS_1


"Emma jika aku menemukan bukti kebusukan mu, aku tidak akan segan memenggal mu. Dan maaf Pangeran aku harus mengorbankan perasaan mu kali ini."


Wanita itu melajukan kembali langkah kudanya dengan kecepatan tinggi. Agar cepat sampai ke istananya.


__ADS_2