
Sepanjang jalan Anastasya hanya diam tak bergeming. Ia memikirkan pertengkaran tadi. Hatinya tidak terima di permainkan oleh Kaisar Alex.
Tanpa sadar Anastasya telah sampai di depan pintu kamarnya. Sedangkan Mery merasa khawatir melihat raut wajah junjungannya itu.
"Permaisuri," tanya Pangeran Gabriel di sampingnya. Panggilan Pangeran Gabriel menyadarkan lamunan Permaisuri Anastasya.
"Ah maaf Pangeran. Lebih baik Pangeran ikut masuk. Hamba akan membantu mengobati Pangeran." ucap Anastasya dengan lembut.
Anastasya menyuruh pelayan Mery mengambil kompres. Mery pun melaksanakan perintahnya.
Sesampainya di dalam kamar, Pangeran Gabriel duduk berhadapan dengan Permaisuri Anastasya dengan satu tempat duduk.
"Yang Mulia,"
"Mery keluarlah, o iya, tolong kamu lihat segala persiapan Enzo dan Enzi besok. Sebentar lagi aku akan kesana." ucap Anastasya.
"Baik Yang Mulia." ucap pelayan Mery seraya membungkuk hormat.
Anastasya membuka topeng Pangeran Gabriel. Anastasya di buat kagum melihat wajah Pangeran Gabriel. Matanya, hidungnya, rahangnya semuanya di wajahnya sangat mirip dengan Kaisar Alex tidak ada cacat sedikit pun.
Anastasya tersadar, ia mengambil sapu tangan itu. Lalu mencelupkannya ke air dan memerasnya.
Setelah itu Anastasya mengelap luka Pangeran Gabriel dengan hati-hati.
__ADS_1
"Maaf Pangeran gara-gara aku. Pangeran jadi seperti ini." ucap Anastasya merasa bersalah seraya mengompres luka di wajah Pangeran Gabriel.
"Tidak masalah, Apa aku salah jika ingin melindungi Permaisuri ku sendiri." jawab Pangeran Gabriel dengan entengnya.
"Apa Pangeran menganggap hamba istri Pangeran?" tanya Anastasya menatap lekat mata Pangeran Gabriel.
"Iya, sekarang dan selamanya. Permaisuri tetap menjadi istri ku."
Anastasya tersenyum mendengarkan ucapan Pangeran Gabriel.
"Maka dari itu biarkan aku menemani hari-hari Permaisuri. Aku tau Permaisuri masih belum bisa menerima kehadiran ku dan masih mencintainya. Mungkin ini mendadak bagi Permaisuri. Tapi aku takut, aku akan kehilangan Permaisuri maka dari itu izinkan aku menjadi suami Permaisuri." ucapnya Pangeran Gabriel seraya menggenggam kedua tangan Anastasya.
"Pangeran tidak salah apa-apa. Pangeran juga berhak memiliki hamba. Karna di mata hukum Pangeran sah suami hamba. Tapi apa para bangsawan tau."
"Sudahlah aku tidak akan membenci Pangeran. Karna ini semua bukan salahnya Pangeran." ucap Anastasya.
"Baiklah, Pangeran. Aku akan menemui Enzo dan Enzi. Sebaiknya Pangeran beristirahat." ucap Anastasya beranjak pergi.
"Permaisuri apa aku boleh tidur disini. Hanya malam ini saja." ucap Pangeran Gabriel dengan nada memohon. Ia mengeluarkan tatapan sedihnya membuat siapa saja tidak akan tega menolaknya.
Aaa dia imut sekali, bagaikan kelinci kecebur, hais. Sebenarnya aku masih canggung bersamanya, tapi dia suamiku. Jadi dia juga berhak tidur di kamar ini..
"Te, tenang saja Permaisuri. Aku tidak akan berbuat nekat." ucap Pangeran Gabriel terbata-bata dengan nada sedih.
__ADS_1
"Hah, baiklah. Sebaiknya Pangeran istirahat terlebih dulu." ucap Anastasya berlalu pergi. Jujur saja ia ingin memeluk Pangeran Gabriel yang menggemaskan itu.
Pangeran Gabriel hanya tersenyum misterius. Hatinya sungguh senang Anastasya mau menerimanya dengan tulus. Ia akan membuat Anastasya bersamanya dengan cara apapun.
Sedangkan Anastasya sudah sampai di depan kamar Enzo dan Enzi. Ia langsung membuka pintu itu dan mendapati Enzo, Enzi membereskan barangnya di bantu oleh pelayan Mery, kedua pelayan dan Sean.
"Bunda," teriak Enzo dan Enzi langsung berlari dan memeluk Anastasya.
"Kesayangan Bunda," ucap Anastasya seraya mengelus punggung mereka.
"Mery, Sean jangan sampai barang-barangnya ada yang ketinggalan. Apalagi sekarang cuaca dingin." perintahnya.
"Baik Permaisuri." ucap mereka serempak.
"Setelah ini kalian harus istirahat. Ibunda juga lelah. Maaf Ibunda tidak menemani kalian." ucap Anastasya mendaratkan ciuman kening di kepala Enzo dan Enzi.
Sesampainya di kamarnya, Anastasya melihat Pangeran Gabriel dengan nafas teratur. Ia ikut membaringkan tubuhnya di samping Pangeran Gabriel walaupun merasa gugup. Karna seumur hidupnya ia tidak pernah tidur dengan laki-laki.
Anastasya semakin di buat gugup, jantungnya berdetak kencang. Ketika tangan kekar melilit perutnya.
"Permaisuri biarkan seperti ini, aku hanya ingin bersama Permaisuri." ucap Pangeran Gabriel yang masih memejamkan matanya.
Anastasya pun menghela nafas, ia pasrah dengan ke adaan sekarang. Ia yakin Pangeran Gabriel tidak akan berbuat nekat.
__ADS_1