Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Ekstra Part : Tangisan Elisha


__ADS_3

Tanpa sadar Kendrix memperhatikan Elisha yang memperhatikan Kaisar Alex, ia paham, mungkin Elisha masih merasakan cemburu. Namun ia tidak ingin mempermasalahkannya, lagi pula Kaisar Alex tidak mungkin mencintai Elisha.


Kendrix pun mengambil beberapa daging, ia menaruh di piring Elisha.


Sedangkan Elisha hanya menatap nanar ke arah Kendrix, "Terimakasih." ucapnya seraya menyuapi mulutnya.


Uwek


Elisha menghentikan makannya, entah kenapa tiba-tiba perutnya merasa mual.


"Elisha, kau kenapa?" tanya Anastasya merasakan khawatir.


Uwek..


"Maaf silahkan Permaisuri dan Yang Mulia lanjutkan makannya." ucap Elisha seraya menutupi mulutnya, berlalu pergi.


"Ana panggilkan Dokter istana,"


Kendrix beranjak berdiri, "Yang Mulia dan Permaisuri maaf atas ketidaksopanan hamba dan istri hamba. Hamba harus menyusul istri hamba,"


"Menyusahkan," ucap Kaisar Alex, lagi-lagi dia mendapatkan cubitan di lengannya.


"Sudahlah ayo ikut," ucap Anastasya menarik lengan Kaisar Alex.

__ADS_1


Sesampainya di kamar Anastasya yang telah di siapkan oleh Mery. Ia melihat Dokter istana memeriksa keadaan Elisha.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Nyonya Elisha dan anaknya sangat sehat. Dalam tahap hamil awal, sudah biasa di alami seorang Ibu, biasanya mual dan pusing." tutur sang Dokter.


"Dan ini obatnya," sambungnya lagi, ia menunduk hormat dan berlalu pergi.


"Selamat Elisha," ucap Anastasya, ia duduk di sisi ranjang tempat tidur Elisha.


"Mulai sekarang kamu harus menjaga kesehatan mu," sambung Anastasya seraya mengelus perut Elisha.


"Wah, sebentar lagi aku punya teman bermain," ucap Arnoz kegirangan.


"Iya sayang, sebentar lagi Arnoz memiliki seorang Adik," timpal Anastasya, ia beralih mengelus kepala Arnoz.


"Tunggu, Permaisuri bolehkah hamba berbicara dengan Yang Mulia." ucap Elisha membuat semua orang di ruangan itu menatap ke arahnya.


"Jika kamu ingin berbicara, bicaralah disini." timpal Kaisar Alex. Ia tidak suka jika harus berbicara berduaan dengan Elisha.


"Baiklah," Anastasya pun berdiri, ia merasakan aura Kaisar Alex.


Lain halnya dengan Kendrix, ia percaya Elisha tidak akan berbuat kebodohan kedua kalinya.


Setelah semua orang pergi, jadilah Kaisar Alex dan Elisha berdua di ruangan itu.

__ADS_1


Hening, hening dan suram itu lah yang di rasakan di ruangan itu. Elisha melirik Kaisar Alex ia merasa ragu memulai pembicaraannya.


Kaisar Alex yang sudah merasakan bosan, ia menatap tajam ke arah Elisha.


"Elisha kamu sudah membuang waktu Ku dengan Permaisuri," Kaisar Alex pun hendak pergi.


"Yang Mulia, hamba minta maaf." Seketika Kaisar Alex menghentikan langkah kakinya.


"Hamba tau, hamba salah dengan berbohong pada Yang Mulia. Bisakah Yang Mulia memaafkan hamba. Jujur hamba masih..."


"Enyalah ! dari hidup Ku Elisha. Aku tak butuh maaf dari Mu. Dulu Aku memang dibutakan oleh liciknya dirimu. Aku tau, sebenarnya tidak terjadi apa-apa di malam itu kan." ucap Kaisar Alex tanpa melihat ke arah Elisha. "Jika bukan karna Mu, Aku tidak akan seperti ini dengan Permaisuri. Biasa saja Aku mencintainya perlahan tanpa adanya orang ke tiga." Kaisar Alex membalikkan badannya, "Besok pagi Aku ingin kamu pergi dari istana. Aku muak melihat mu,"


Kaisar Alex pun kembali melanjutkan perjalanannya.


Elisha menahan rasa sesak di hatinya, ia tidak menyangka Kaisar Alex begitu membencinya.


"Elisha, ada apa?" tanya Kendrix khawatir, setelah melihat Kaisar Alex keluar dari kamar Elisha ia buru-buru masuk, ia melihat Elisha memegang dadanya dan menangis.


"Bawa aku pergi dari sini,"


Kendrix menghela nafas, "Aku tau kamu masih berharap padanya Elisha, berhentilah mengusik kehidupan orang lain. Dan ya, sekarang kamu sudah mengandung Anak Ku. Aku tidak akan bersikap lembut lagi pada mu. Jika kamu mengulang kesalahan yang sama."


Kendrix pun memilih pergi meninggalkan Elisha yang masih menangis. Hatinya juga merasakan sakit, saat istrinya masih menyimpan rasa untuk orang lain.

__ADS_1


__ADS_2