Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 3_rencana Nona Ingrid


__ADS_3

Bulan telah bersinar terang, angin malam telah nyapa. Terlihat seorang gadis memakai gaun berwarna kuning tengah sibuk merias dirinya di bantu oleh pelayannya.


"Ana, cepat." ucapnya sambil memakai sebuah anting.


Dengan sigap Ana memakaikan salah satu anting Putri Maya. Setelah selesai Putri Maya langsung turun dengan tergesa-gesa. Sampai di ruang tamu, ia melihat Permaisuri Anastasya, Putri Viola dan Pangeran Abigail sedang menemani Duke Rachid yang menunggunya.


"Ibunda," sapa Putri Maya sambil menuju ke arah mereka.


Duke Rachid menoleh, ia langsung tersedak melihat Putri Maya. Wajahnya pun memerah, jantungnya berdegup lebih cepat.


Dengan cepat, Putri Maya memupuk pelan pinggang Duke Rachid. Ia takut terjadi sesuatu dengan tunangannya itu.


"Cantiknya." gumam Duke Rachid pelan, tapi masih mampu di dengarkan oleh yang lainnya.


Permaisuri Anastasya tersenyum, ia melirik ke arah Duke Rachid. "Bersabarlah suatu saat Duke juga pasti memiliki seutuhnya."


"Em, Ibunda dimana Ayahanda?" tanya Putri Maya.


"Biasalah, sedang mengecek tugas istana." jawab Anastasya sembari menyeruput tehnya.


"Em, Kakak tadi aku mendengar dari Mery, katanya Kakak sudah hamil."


Pangeran Abigail tersenyum, ia mengelus perut yang masih kelihatan rata itu. "Benar Kakak mu sedang hamil, doakan saja semoga lancar." ucap Pangeran Abigail.


"Terus aku kapan ya? sepertinya menyenangkan punya adik kecil." cerocos Putri Maya.


Anastasya, Putri Viola dan Pangeran Abigail terkekeh, ia tidak bisa berhenti tertawa saat bersama dengan Putri Maya. Pasti ada saja kelakuannya yang membuat mereka geli. Lain halnya dengan Duke Rachid wajahnya bertambah memerah menahan malu.


"Sudahlah, memikirkan anak membuat ku pusing. Ayo paman sebaiknya kita berangkat." ucap Putri Maya.


Duke Rachid berdiri lalu memberikan hormat serta menggandeng lengan Putri Maya. Di ikuti pelayan Ana.

__ADS_1


"Apa kalian sudah memberi tau tentang kehamilan kalian pada Yang Mulia Kaisar Emerald?" tanya Anastasya.


"Belum Ibunda, kami akan mengirim surat." jawab Putri Viola.


"Baiklah, sebaiknya Putri istirahat." ucap Anastasya.


Sementara di dalam kereta, Duke Rachid masih merasakan degupan kencang di dadanya, ia melirik Putri Maya yang hanya menatapnya keluar.


"Putri,"


Duke Rachid menarik lengan Putri Maya hingga jatuh ke dalam pelukannya, ia mengusap bibir Putri Maya dan menciumnya, ********** dengan rakus.


"Semenjak kapan Putri ingin memiliki anak?" bisik Duke Rachid di telinga Putri Maya, membuat Putri Maya merinding dan menahan malu.


"Ma, maksud Paman,"


Duke Rachid mencium leher Putri Maya, membuat tubuhnya menegang. "Paman."


Putri Maya yang sudah merasakan panas dan lebih lagi jantungnya yang sudah tidak bisa berkompromi. Ia mendorong kepala Duke Rachid dengan pelan.


"Paman."


Duke Rachid mencium lembut pipi Putri Maya, "Cepatlah selesaikan urusan Akademik Putri, biar kita cepat menikah."


"Emm, ba, baiklah." cicit Putri Maya.


Kereta itu pun berhenti di sebuah gerbang yang megah. Putri Maya berpindah tempat duduk, ia kembali membetulkan riasannya. Duke Rachid pun ikut membantunya. Di rasa sudah cukup sempurna, mereka turun menuju ke sebuah kastil yang lumayan megah, banyak sekali para bangsawan yang saling berbincang.


"Duke Rachid." sapa Baron Verland tersenyum hangat. Sementara Nona Ingrid yang tadi berbincang dengan wanita bangsawan lainnya, ia melangkahkan kakinya ke arah Baron Verland. Hatinya bahagia dengan kedatangan Duke Rachid.


"Putri Maya dan Duke Rachid, terimakasih sudah datang." ucap Nona Ingrid seramah mungkin.

__ADS_1


"Putri Maya sebaiknya ikut saya, mari kita berbicara dengan bangsawan lainnya." ujar Nona Ingrid.


Putri Maya meminta jawaban pada Duke yang hanya mengangguk sebagai jawabannya.


Tak terasa perbincangannya dengan para wanita bangsawan berlangsung lama dan tersadar jika Nona Ingrid tiba-tiba tidak ada di sampingnya. Putri Maya mengedarkan pandangannya, mencari keberadaannya dan melihat Nona Ingrid berbicara dengan seorang pelayan sambil menaruh segelas wine di nampan pelayan itu.


Putri Maya masih memperhatikan gerak gerik pelayan. Ia masih fokus saat pelayan itu menuju ke arah Duke Rachid. Tanpa sadar Duke Rachid mengambil gelas itu.


Dengan cepat Putri Maya berdiri, "Maaf aku akan segera kembali."


"Paman." Putri Maya menarik lengan Duke Rachid, menjauh beberapa meter dari para bangsawan lainnya.


"Ada apa?" tanya Duke Rachid mengangkat kedua alisnya.


"Jangan minum itu, tadi aku melihat Nona Ingrid memberikannya pada pelayan untuk di berikan pada paman." bisiknya.


"Sebaiknya paman menukarnya,"


"Ada apa Putri Maya?" sebuah suara itu membuat Putri Maya menghentikan pembicaraannya.


"Apa Putri merasa tidak nyaman?"


"Bukan begitu Nona Ingrid saya hanya merasa ingin minum air putih saja." ucapnya berbohong.


Tanpa ada rasa curiga, Nona Ingrid meninggalkan mereka. Menyuruh satu pelayan untuk mengambilkan air putih.


Sementara Putri Maya, mengambil wine yang sama saat ada seorang pelayan yang melewatinya tadi.


"Berikan ini pada Nona Ingrid dan ini minumlah untuk paman. Aku curiga dengan minuman itu."


Duke Rachid mengangguk, ia segera mengambil segelas wine itu, "Jika benar-benar dia ingin menjebak ku, aku tidak akan melepaskannya begitu saja." ucap Duke Rachid dengan tangan mengepal.

__ADS_1


__ADS_2