
"Masuklah, besok kamu harus kembali ke Akademik Putri."
"Permaisuri, hamba mohon ijin. Ijinkan Putri Maya ikut dengan hamba ke pesta yang di selanggarakan keluarga Baron Verland." Tuturnya.
"Baiklah, sekarang kamu istirahat. Besok kalian pasti keluar lagi." ucap Permaisuri Anastasya.
Putri Maya melirik ke arah Duke Rachid, ia tidak ingin meninggalkannya. Namun apa boleh buat, dirinya juga sangat letih. "Baiklah Ibunda." Ucapnya seraya berjalan menunduk.
"Apa Duke mencintainya?" tanya Anastasya melihat ke arah Duke Rachid.
"Karna hamba melihat diri Permaisuri ada pada dirinya."
"Jika Putri Maya tidak seperti ku, apa Duke tidak akan mencintainya?"
"Karna perasaan tidak tau kapan datangnya, Permaisuri." jawab Duke Rachid menatap ke arah balkom kamar Putri Maya.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, aku ingin Duke menyelidiki keluarga Baron Verland." tutur Anastasya mengikuti arah ekor mata Duke Rachid. Ia sempat mengingat jika Baron Verland pernah mengalami sebuah masalah. Namun ia tidak terlalu ingat apa masalahnya.
"Aku hanya merasa ada kejanggalan. Cobalah untuk memeriksanya."
"Baik Permaisuri." ucap Duke Rachid tanpa ragu.
__ADS_1
Sementara dari kejauhan terlihat seorang laki-laki dengan menahan amarah, ia tidak terima Permaisurinya berdua dengan Duke Rachid. Dengan langkah tegas, laki-laki itu menuju ke arahnya.
"Untuk apa Duke ada disini?" Sebuah suara tegas itu membuat mereka menoleh.
"Hormat hamba, Yang Mulia."
Kaisar Alex hanya berderhem, ia melirik ke arah Anastasya, meminta jawabannya.
Anastasya meraih lengan Kaisar Alex, ia mengelus lembut lengan itu. Ia sudah tau jika Kaisar Alex sedang menahan amarah.
"Duke mengantar Putri Maya, jadi kebetulan kita bertemu. Lagi pula ada sesuatu yang ingin hamba bicarakan dengan Duke."
"Aku hanya ingin Duke yang memeriksanya,"
"Aku ingin tau," kekeh Kaisar Alex. Ia tidak ingin Anastasya menyembunyikan sesuatu darinya.
"Hamba mencurigai keluarga Baron Verland." tuturnya.
Kaisar Alex merasa aneh, tidak biasanya Permaisurinya ini mencurigai seseorang. Ia hanya berfikir Anastasya cemburu karna kedekatan Duke Rachid dengan Nona Ingrid akhir-akhir ini.
"Hamba merasa ada sesuatu yang aneh, cobalah Yang Mulia juga menyelidikinya."
__ADS_1
"Apa Permaisuri cemburu karna kedekatan mereka?" tanya Kaisar Alex memastikannya.
"Yang Mulia hamba tidak main-main." Dengus Anastasya
Kaisar Alex hanya mengangguk tersenyum, ia hanya bisa pasrah, ia akan menyetujui perkataan Anastasya. Jika ia menolak sudah pasti Anastasya akan memarahinya, bisa-bisa dia tidak di berikan jatah lagi. Membayangkan saja, membuatnya bergidik ngeri.
"Dan Duke, berhati-hatilah. Jangan sampai kejadian seperti Putri Viola dan Pangeran Abigail yang harus terjebak ke dalam sebuah rencana licik. Bisa saja Nona Ingrid akan melakukan sesuatu pada mu atau Putri Maya."
Kini Duke Rachid mengerti, ternyata Anastasya sangat mengkhawatirkan Putri Maya dan juga hubungannya. Ia juga mengingat jebakan Emma yang membuat Pangeran Abigail menderita. Entah persiapan apa nantinya, ia dan Putri Maya harus berhati-hati.
"Pangeran Enzi dan Enzo akan membantu mu jika perlu bantuan." Timpal Kaisar Alex di sertai senyum licik.
Sementara Duke Rachid sudah paham perkataan Kaisar Alex yang sengaja mengejeknya.
"Baiklah Permaisuri dan Yang Mulia. Hamba pamit." ucapnya membungkuk hormat.
"Permaisuri, kapan kita punya anak lagi?" tanya Kaisar Alex sambil melihat ke arahnya.
"Umur kita sudah tua, sebentar lagi sudah punya cucu." pekik Anastasya langsung pergi.
"Permaisuri." teriak Kaisar Alex berlari kecil mengikuti langkah kaki Anastasya.
__ADS_1