
Disebuah ruangan yang gelap yang hanya di terangi sinar bulan purnama melewati jendela kaca. Terlihat seorang laki-laki gagah perkasa sedang menindih tubuh wanita di bawahnya. Rupanya laki-laki itu menepati janjinya tadi pagi. Ia berusaha menjernihkan otaknya, sedari tadi ia tersiksa akan otaknya yang tak pernah berhenti mengingat kejadian itu.
Sementara wanita di bawahnya mengalungkan tangannya ke leher laki-laki itu. Laki-laki itu pun mencium bibir sang wanita dengan ganas. Nihil, Otaknya masih saja terngiang-ngiang dengan perkataan, "Jangan berharap cintaku, karna cintaku telah hilang seiringnya waktu."
Lagi-lagi dan lagi perkataan itu berjalan di otaknya, ia menyudahi ciuman itu dan beranjak duduk di tepi ranjang.
"Yang Mulia, ada apa?" tanya seorang wanita yang tak lain Selir Elisha. Ia terkejut melihat tingkah aneh Kaisar Alex. Di mulai dari ciuman yang tidak lembut, tapi sekarang berhenti dengan tiba-tiba.
Kaisar Alex memejamkan matanya, ia mengusap kasar wajahnya. "Elisha kau tidur dulu. Aku ingin mencari udara segar." ucapnya datar dan berlalu pergi. Ia merapikan baju tidurnya yang hanya memperlihatkan dada bidangnya.
Sesampainya di luar Kaisar Alex menuju ke arah labirin cinta. Hatinya merindukan dua sosok yang penting dalam hidupnya.
Sesampainya disana Kaisar Alex memandang dua patung itu yang saling menempelkan dahi.
__ADS_1
"Ayah, Alex merindukan mu. Ayah tau apa yang dipikirkan Alex sekarang?" Kaisar Alex terkekeh. Ia menundukkan kepalanya.
"Dulu Ayah pernah bilang jaga Permaisuri mu, dia gadis yang baik, lugu dan polos." Kaisar Alex mendonggakkan wajahnya menatap kedua patung itu, "Alex selalu mengelaknya bahwa Alex tidak akan jatuh cinta. Tapi apa Ayah Alex tidak tau dengan perasaan ini. Alex sudah berusaha menepisnya tapi Alex tidak tau, Alex masih merasakan sakit." lirih Kaisar Alex..
"Hahaha,,"
Kaisar Alex mengernyitkan dahinya mendengarkan suara itu.
"Pangeran Gabriel biasa saja. Mana ada hantu cantik,"
Setelah Kaisar Alex melihat siapa yang datang. Ternyata benar dugaannya, ia melihat Pangeran Gabriel dan Permaisuri Anastasya bercanda bersama dan duduk di bangku putih itu.
"Hah, udara malam sangat menyegarkan." ucap Permaisuri Anastasya seraya memandang langit. Saat dirinya keluar dari kamarnya ternyata hari sudah petang. Ia pun bermaksud jalan-jalan menghirup udara segar bersama Mery. Namun pada saat itu ia berpapasan dengan Pangeran Gabriel dan pada akhirnya mereka jalan-jalan bersama.
__ADS_1
Dan yang membuat dirinya nyaman, Pangeran Gabriel orangnya hangat tidak seperti yang di gambarkan oleh novel maupun komiknya yang terbilang kejam.
"Tidak baik angin malam bagi kesehatan Permaisuri," ucap Pangeran Gabriel seraya memakaikan jubah hangatnya ke tubuh Permaisuri Anastasya.
"Terimakasih," ucap Permaisuri Anastasya tersenyum lembut.
"Tetaplah tersenyum, aku tidak ingin melihat Permaisuri menjatuhkan air mata walaupun sedikit saja." tutur Pangeran Gabriel membuat Permaisuri Anastasya sedikit terkejut.
Sedangkan Kaisar Alex dadanya mulai naik turun. Amarahnya mulai naik pitam. Ia mengepalkan tangannya.
Rupanya dia ada di sini batin Pangeran Gabriel yang merasakan aura keberadaan Kaisar Alex.
Ia mulai mempertajam matanya untuk melihat keberadaan Kaisar Alex dan ternyata kabut ungu muncul di pot besar berwarna putih tepat belakang Permaisuri Anastasya.
__ADS_1
Pangeran Gabriel, sekilas melihat ke arah pot itu dan tatapan merekapun bertemu. Dengan usilnya Pangeran Gabriel mendekatkan wajahnya ke arah Permaisuri Anastasya. Seakan mereka melakukan ciuman.
Dada Kaisar Alex mulai bergemuruh melihat adegan itu dengan kesalnya Kaisar Alex beranjak berdiri dan berlalu pergi dengan melewati pintu lain yang menuju ke arah luar tanpa Permaisuri Anastasya tau keberadaanya.