Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Penculikan Deros


__ADS_3

Keesokan harinya.


Suasana ruang makan itu begitu hangat dan damai. Sering kali Anabella dan Michelia bertukar canda hingga membuat mereka tertawa. Pangeran Almeer dan Viscount Elca pun sering menimpali. Jadilah ruangan itu begitu hidup. Sedangkan Deros, ia tersenyum tipis. Hari ini adalah hari terakhirnya. Dia pun tidak tau akan bertemu atau tidak. Tapi satu hal yang paling ia yakini, kasih sayang Viscount Elca dan Michelia yang tak akan pernah hilang.


Ibu, Ayah semoga kamu baik-baik saja. Aku berjanji akan membuat wanita itu puas. Tolong jangan cari aku.


Setelah selesai sarapan. Pangeran Almeer dan Anabella berbincang sedikit. Dan waktu pun telah berlalu. Kedua bangsawan itu berpamitan. Sementara Deros ia bersiap-siap akan keluar menemui Liera.


"Ayah, ibu aku ingin berjalan-jalan ke taman kota." Ujar Deros menunduk.


Michelia dan Viscount Elca saling pandang. Mereka takut Deros di kucilkan dan membuatnya bertambah sedih.


"Sayang, bukannya ibu tidak mau mengijinkan diri mu, tapi ibu takut akan ada yang mengucilkan dirimu. Ibu tau, Deros anak yang kuat."


"Ibu, percuma aku sembunyi dan lari. Semuanya tidak akan mengubah ke adaan. Aku hanya ingin mengatakan, ibu ku dan ayah ku tidak bersalah." Tegas Deros.


Dengan hati ragu, Michelia mengijinkannya. Namun ia tak akan begitu saja mengabaikan Deros di luar kediaman. "Baiklah, ibu akan menyuruh beberapa kesatria untuk menemani mu."


"Tidak perlu Ibu," sarkas Deros. Dia tidak ingin berlama-lama dan menangis di depan mereka.


"Ibu, aku pamit dulu. Ibu tidak perlu khawatir aku hanya berjalan-jalan saja." Ujar Deros.


"Sa,,"

__ADS_1


Dengan bersamaan panggilannya, hatinya merasakan tidak enak. "Sayang, aku merasa Deros,"


"Biarkan saja, jangan khawatir Deros akan baik-baik saja. Liera tidak akan menyentuh di tempat yang ramai." Ujar Viscount Elca menenangkan Michelia. Meskipun hatinya juga merasa tidak tenang. Dengan begitu, Michelia tidak akan khawatir. Karena ia takut mengganggu kesehatannya.


"Aku tidak mau tau, kamu harus menyusul Deros. Aku mohon." Ujar Michelia dengan nada memohon.


"Baiklah, aku akan menyusul Deros." Ujar Viscount Elca. Ia mencium kening Michelia. Lalu menyuruh pelayan menyiapkan kereta.


Namun hal memang telah terjadi, kereta yang di tumpangi oleh Deros di hentikan oleh orang yang berbaju hitam. Mereka langsung membunuh kusir kuda dan menyeret Deros keluar secara kasar. Salah satu orang bertubuh kekar itu merogoh sakunya, lalu meninggalkan secarik kertas.


"Lepas-lepaskan aku," teriak Deros memberontak. Langsung saja Deros di gendong dengan satu tangan kanannya.


"Diam, kami di suruh oleh nyonya Liera." Bentaknya. Hingga membuat Deros terdiam. Kedua orang bertubuh kekar itu menaruh tubuh Deros ke sofa yang lusuh. Kereta yang sempit dan sederhana itu pun meninggalkan kereta megah kediaman Viscount.


Dugaan Deros salah, Liera lebih licik yang ia perkirakan. Selang beberapa saat, sebuah kereta berhenti mendadak.


"Tuan, bukankah kereta di depan itu, kereta kediaman Viscount."


Viscount Elca menyingkapi tirai jendela di sampingnya. Seketika nafasnya berhenti, ia langsung turun dan mendapati kusir kuda dengan dada yang bersimbuh darah.


"Tu-tuan,"


Viscount Elca meraih kepala kusir kuda itu. "Katakan ! apa yang terjadi."

__ADS_1


"Nyo-nyo Li-liera." Ujarnya terbata. Lalu menghembuskan nafas terakhirnya.


"Liera," Kilatan petir di matanya mampu membelah siapa saja yang berada di dekatnya. Urat-urat panas itu pun keluar dari tubuhnya. "Aku akan membunuh mu, Liera. Jika terjadi sesuatu pada putra ku." Ujar Viscount Elca. Ia menggendong kusir kuda itu kembali ke kediamannya. Agar mendapatkan pemakaman yang layak.


"Tuan, ini ada secarik kertas." Sang Kesatria pun memberikan kertas putih dengan tulisan pena hitam itu. Setiap kata yang ia baca membuatnya ingin membunuh.


'Viscount Elca tersayang, hari ini kamu tau. Betapa aku sangat mencintai mu dan Deros, Maaf aku membawa putra ku tersayang tanpa se ijin mu. Namun satu hal yang kamu tau, Deros memilih ingin pergi bersama ku. Aku sebagai ibunya, sangat menyayangi Deros. Jika kamu ingin keselamatan Deros, maka hanya ada satu pilihan. Datanglah dan temui diri ku di sebuah gudang Xxx. Aku mencintai mu, Viscount Elca."


Viscount Elca meremas surat itu, lalu membuangnya. Ia tidak ingin Michelia mengetahuinya. Biarkan dirinya sendiri yang datang tanpa sepengetahuan Michelia.


"Aku akan mencarinya, kalian bawa orang ini." Ujar Viscount Elca membawa seekor kuda yang di tumpangi sang kesatria.


Sesampainya di kediamannya, tampak Michelia yang mondar-mandir sambil memegangi perutnya. Raut wajahnya mengisyaratkan kekhawatiran. Setiap kata di dalam hatinya. Ia panjatkan untuk keselamatan Deros. Namun Saat matanya melihat seorang kusir yang ia kenal. Dadanya terasa sesak, air matanya turun begitu saja. "Tidak, ini tidak mungkin. Deros ku akan baik-baik saja." Lirihnya seraya bersimpuh di lantai.


"Nyonya," Mery membantu Michelia agar berdiri. Ia menatap seseorang di atas kuda yang baru saja masuk gerbang depan. Melihat Viscount Elca dengan wajah menunduk dan lemas. Michelia menghampirinya.


"Bagaimana? apa Deros baik-baik saja?" tanya Michelia seraya menggenggam tangan Viscount Elca.


"Sayang katakan, kenapa kamu diam?" tanya Michelia kembali. Hatinya seakan mati melihat keterdiaman Viscount Elca. Sesuai dugaannya, melihat kusir kuda yang di bawa oleh dua pengawal dalam keadaan berdarah di dadanya. Seketika ia paham, bahwa semuanya tidak baik-baik saja.


"Liera, apa ini perbuatan Liera?" tanya Michelia dengan penuh penekanan.


Viscount Elca hanya mengangguk, ia lalai menjaga Deros dan membuat istri tercintanya bersedih.

__ADS_1


"Aku akan membunuh mu jika terjadi sesuatu pada putra ku." Aura tubuhnya pun keluar, matanya tajam seakan ada anak panah yang akan menancap lawannya.


"Cepat kerahkan semua kesatria terbaik di kediaman Viscount." teriak Michelia dengan nafas membunuh.


__ADS_2