
Sementara di luar pintu. Mery dan Ana saling melemparkan tatapannya. Dia merasa tak enak hati membangunkan kedua sejoli yang sedang memandu kasih itu. Ketukan itu pun menyadarkan kedua insan yang sedang di mabuk kelelahan. Putri Maya beringsut, "Siapa?" teriak Putri Maya.
"Hamba Putri, maaf mengganggu. Di luar ada Nona Hilda dan Nyonya Diane Putri."
"Dia mengganggu saja." Gerutu Duke Rachid, ia tau istrinya sama dengan dirinya yang masih mengalami kelelahan. Baru saja dia melepaskan tubuh wanitanya dan sekarang sudah mendapatkan gangguwan.
"Sayang, kamu lelah. Sebaiknya kamu tolak pertemuannya." Ujar Duke Rachid dengan wajah jengkel.
"Meskipun aku lelah, tapi tidak baik membuat tamu menunggu." Putri Maya mencium kening Duke Rachid. Ekor matanya pun berhenti melihat mata yang dulu berwarna hitam kini berwarna putih. Tangan itu pun menyentuh mata yang sudah tak bisa melihat. Ia mencium mata itu.
"Maafkan aku, aku tidak bisa menjadi suami sempurna seperti yang lainnya. Aku suami yang tidak berguna, yang akan membuat mu malu."
Satu tetes keluar dari mata Putri Maya. "Tidak sayang, maafkan aku yang dulu selalu keras pada mu. Aku tidak menyesal menerima mu sebagai suami ku. Menurut ku, kamu adalah suami terbaik di dunia ini setelah Ayah ku." Goda Putri Maya seraya menghapus air matanya.
"Nyatanya aku masih kalah dengan Yang Mulia Kaisar." Dengus Duke Rachid.
__ADS_1
"Hey, kalian adalah dua laki-laki yang terpenting dalam hidup ku." Ujar Putri Maya seraya mencubit hidung Duke Rachid.
"Mery siapkan sarapan pagi. Aku akan bersiap-siap." Teriak Putri Maya.
"Sayang cepat mandi, kita harus menemui mereka." Ujar Putri Maya. Ia turun dari ranjang empuknya. Satu kali dia melangkah. Rasa sakit itu menyengat di bawah rahimnya.
"Sayang ada apa?" tanya Duke Rachid yang khawatir. Ia menyingkapi selimutnya, lalu mengambil pakaian tidur Putri Maya yang berserakah di lantai.
"Sakit," lirih Putri Maya menggigit bibir bawahnya.
"Aku akan memanggilkan Dokter." Seketika mata indah itu membulatnya. Tanpa rasa bersalah, Putri Maya melayangkan tangannya memukul kepala Duke Rachid. "Apa yang kamu pikirkan? apa kamu akan mengatakannya, istri ku lagi sakit setelah melakukan itu." Putri Maya tidak bisa menahan urat malunya seandainya kata itu keluar begitu saja.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Bantu aku ke kamar mandi sayang."
Duke Rachid mengangguk, dia menggendong Putri Maya ke kamar mandinya. Ia menurunkan Putri Maya di depan bathub itu, melepaskan pakaiannya. "Sayang hati-hati." Ujar Duke Rachid melihat kaki Putri Maya yang ia gerakkan memasuki air ber aroma mawar itu.
__ADS_1
"Astagah ! sayang." Putri Maya menganga melihat Duke Rachid yang bertelanjang bulat, sangat jelas pendekar Duke Rachid panjang dan besar. Pendekar itu lah yang membuatnya kesakitan tetapi membuatnya melayang.
Duke Rachid mengikuti mata Putri Maya. Hingga tatapan itu jatuh pada pendekarnya. "Apa kamu lagi sayang?"
"Sayang," Putri Maya mengeraskan suaranya. Bukannya malu, malah menghilangkan urat malunya.
Duke Rachid tertawa, ia bergegas pergi mengambil pakaian tidurnya. Lalu masuk kembali ke kamar mandi. "Sayang, aku akan membantu mu." Dengan lembut Duke Rachid mengambil pewangi rambut yang berada di sampingnya. Ia mengolesi pewangi rambut itu sedikit demi sedikit lalu memijat kepala Putri Maya.
"Sayang kamu tidak ingin mandi?" Putri Maya melihat ke arah Duke Rachid yang masih memijat kepalanya.
"Sebentar lagi, aku akan mengurusi istri ku lebih dulu."
Setelah selesai keramas. Duke Rachid mengambil baju mandi yang menggantung di pojok kanan itu, memakaikannya ke tubuh Putri Maya. Duke Rachid kembali menggendong tubuh Putri Maya mendudukinya di depan meja rias itu.
"Sayang, aku akan memanggil Mery dan Ana untuk membantu mu." Ujar Duke Rachid.
__ADS_1
Selang beberapa saat, Putri Maya telah selesai merias diri. Ia keluar dari kamarnya di ikuti Mery dan Ana.
"Nona Hilda, Bibi Diane." Sapa Putri Maya. Kedua bangsawan itu pun beranjak dari duduknya dan memberikan salam.