
Inara refleks meringsut mundur agar jarak mereka tidak terlalu berdekatan. Sedangkan Kiano yang melihat reaksi Inara seperti itu membuatnya sedikit tersinggung. Kiano menghentikan langkahnya dan diam ditempat sambil terus menatap intens gadis dihadapannya yang seperti merasa jijik bila ia mendekat.
"Kamu–."
"Maaf Tuan Muda, kalau begitu saya mau kembali ke kamar. Permisi." Inara langsung memotong ucapan Kiano dan pamit undur diri karena ia merasa tak nyaman berada didekat laki-laki yang telah merusaknya.
"Cewek itu, benar-benar ya. Awas saja nanti." Kiano pun kembali menuju kekamarnya.
Pagi-pagi sekali perut Inara kembali mual. Untung saja penghuni yang lain belum terbangun. Seperti biasa sebelum waktu subuh gadis itu akan terbangun dan memulai Ktifitasnya. Namun, entah mengapa tiba-tiba saja tubuhnya terasa tak enak sejak semalam ketika berbicara dengan Kiano, anak sang majikan.
"Huek huekk."
"Aduh–perutku kenapa ya, kenapa tiba-tiba seperti diaduk-aduk dan juga rasanya melilit sepeti diremas-remas. Sakit sekali. Apa aku mau datang bulan, ya. Eh–."
sedetik kemudian ia mengingat sesuatu dan dadanya bergemuruh ketika ia baru menyadari bahwa sudah hampir dua bulan ini dia belum kedatangan tamu bulanannya. Tangannya lalu meraih kalender yang tergeletak diatas meja riasnya.
Manik matanya membola sempurna saat melihat jadwal bulanannya memang telah telat. Seketika bayangan kejadian di Villa. Saat kegadisannya telah direnggut paksa oleh anak majikannya. Tentu saja Inara mengerti apa yang tengah terjadi pada tubuhnya saat ini. "Apa aku....ya Allah, bagaimana ini? Jika, benar aku hamil apa yang harus aku lakukan?"
"Ibu, Maafkan Nara. Apa yang harus aku lakukan? Aku harus memastikannya."
Dengan langkah yang tak bersemangat Inara keluar dari kamarnya menuju ke dapur untuk membantu Bi Kokom menyiapkan sarapan pagi untuk para majikan. "Bi, maaf ya saya telat. Habis tadi perut saya sakit."
" Lagi datang bulan ya? Nanti Bibi buatkan jamu kunit asem ya biar sakit perutnya berkurang.Ya sudah, kamu masih kuat tidak? Kalau tidak lebih baik kamu rebahan saja dikamar. Sana!"
"Enggak pa-pa Bi. Nanti juga akan hilang sakitnya." Inara tak mengindahkan perintah bi Kokom. Gadis itu tetap kekeuh ingin membantu memasak.
__ADS_1
Sepanjang jam pelajaran, Inara terus menahan rasa sakit di perutnya dan tibalah waktu istirahat. Seperti biasa, Inara akan menuju ke taman belakang sekolah untuk memakan bekalnya.Namun, ia sama sekali tidak berselera untuk makan.Hatinya tak tenang dan pikirannya kemana-mana.' Seandainya yang aku takutkan terjadi dan aku meminta pertanggung jawaban pada Tuan Muda. Apakah dia mau mengakui dan menerimanya? Tuan Muda bahkan tidak mengingat kejadian waktu itu.Lalu, bagaimana nasibku nanti?'
"Hei, pembokat! Katanya kemarin lo kesekolah diantar sama kak Jay ya? Mau naik derajat ni ceritanya si upik abu lo Ren." Saat Inara tengah berjalan di lorong kelas bersama dengan siswa -siswa lainnya menuju ke gerbang sekolah karena proses belajar mengajar telah usai. Inara yang di tegur pun menoleh dan mendapati Gendhis yang sedang berkacak pinggang sedang Kirena berdiri disebelahnya.
"Ada apa ya tiba-tiba kamu berkata pedas seperti itu? Sepertinya saya tidak pernah mempunyai masalah dengan kamu. Apa salah saya hingga kamu membenci saya sedemikian rupa?" Tanya Inara dengan mengerahkan segenap keberaniannya. Gadis bernama Gendhis itu sepertinya memang sengaja ingin mencari gara-gara dan mempermalukannya.
Orang-orang menatap Inara seakan mencemooh dan menganggap rendah dirinya. Inara tak ingin ambil pusing dengan meladeni Gendhis yang memang tak menyukainya. "Maaf ya, saya harus segera pulang dan tentang mas Jay yang mengantar saya sepertinya itu bukanlah urusan kamu. Permisi." Inara bergegas pergi dari sana dan tak mengindahkan Gendhis yang meneriakinya.
"Hei–upik abu kurang ajar, dasar tidak tahu diri." Gendhis terus mengomel meski Inara sudah menghilang dari pandangannya.
"Udahlah Dhis. Ngapain sih lo segitunya memusuhi Inara. Walaupun dia pembantu di rumah gue tapi, gue ngak pernah mencari masalah dan mencampuri urusan pribadinya. Yuk, mending kita refresing ke mall aja. Ada yang mau gue beli....ayolah bestie ngak usah ngurusin hal yang ngak penting. Biarin aja tu si Inara mau ngapain juga. Kalau memang dia lagi dekat sama kak Jay memangnya ada masalah gitu? Atau lo dah berubah haluan dari Mas Kiano ke kak Jay?" Kirena merangkul pundak Gendhis lalu, melangkah menuju ke gerbang sekah dimana supir pribadi sedang menunggunya.
Ting
Inara menghentikan langkahnya ketika mendengar suara notifikasi dari ponselnya. Ia pun membuka tas nya lalu mengambil ponselnya dan melihat yang mengiriminya pesan adalah Jay.
"Nara, aku menunggumu di dekat halte bis tempat biasa. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Jangan marah ya."
Inara menghela nafas panjang lalu gegas menuju ke halte di mana Jay sedang menunggunya. "Hh....ada aja sih masalah datang bertubi-tubi.Bikin tambah pusing kepalaku." Gerutu nya
Benar saja, dikejauhan Inara melihat Jay yang sedang tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya.
"Hai Nara, maaf ya aku datang tanpa izin dulu sama kamu. Ayo, silahkan masuk tuan putri yang cantik!" Inara tak bisa apa-apa, mau marah pun percuma laki-laki itu sudah berada dihadapannya. Mau tak mau ia pun menurut saja dan masuk kedalam mobil merah itu.
"Emm–apa yang ingin Mas Jay bicarakan sama saya?" Tanya Inara langsung to the point ketika Jay mulai melajukan kendaraannya.
__ADS_1
"Bisa kan kita bicara di suatu tempat agar lebih santai gitu?"
"Bisa sih. Tapi, saya ngak bisa lama-lama ya Mas. Saya harus segera pulang karena ada pekerjaan dirumah yang harus saya selesaikan."
"Oke, ngak masalah. Sebentar pun ngak apa-apa." Jay tersenyum senang karena akhirnya bisa jalan berduaan dengan sang gadis pujaan.
Setelah berjalan bebrapa menit, akhirnya mobil itu berbelok masuk kesebuah cafe dan berhenti di tempat parkiran.
"Ayo Nara, kita makan dulu yuk sekalian ngobrol santai." Dengan gentle nya Jay membukakan pintu mobilnya untuk Inara.
"Terima kasih, Mas."
Sambil menikmati cake dan ice creamnya, Inara mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Jay. Ya....karena masih merasa kenyang, akhirnya Inara hanya memesan ice cream dan sepotong cake.Dia begitu tergiur melihat deretan ice cream saat memasuki cafe tersebut.
"Begini, Nara. Malam minggu ini kamu mau kan aku ajak ke sebuah pesta ulang tahun teman kampusku. Jadi pasanganku gitu lah. Mau ya Nara cantik?" Jay mulai merayu dengan mengeluarkan jurus gombalannya.
"Pesta ulang tahun? Apa Mas Jay ngak salah mau mengajak saya. Apa nanti ngak malah bikin malu mas Jay kalau sampai ada yang mengenali saya. Sebaiknya Mas Jay mengajak gadis lain saja. Teman dekat Mas pasti banyak juga yang cantik-cantik,kan. Lagi pula pasti Tuan Muda Kiano hadir juga,kan disana?"
"Iya memang Kiano juga akan datang. Lalu, memangnya kenapa?kamu takut dia marah dan tidak mengizinkan kamu ikut denganku. Jangan takut Nara, Kiano ngak akan marah kok, dia bahkan ngak peduli kalau seandainya kita–."
"Inara–sedang apa kamu disini? Bukannya langsung pulang malah pacaran."
DEG
Bersambung
__ADS_1