
Wira menggenggam tangan Shinta lalu menggandengnya menuju ke mobil yang terparkor tak jauh dari tempat itu. Ya, laki-laki itu adalah Wira anak dari majikan ditempat ia bekerja. Antara masih syok dan juga bingung, Shinta cuma bisa terbengong ketika Wira dengan santai menggiringnya masuk kedalam mobil mewah milik majikannya itu.
"Maaf, kami harus pergi dan tolong jangan berbuat seperti tadi lagi pada Shinta atau kamu akan berurusan denganku. Mengerti?"
Rendy tak menjawab pemuda itu hanya mematung menatap kepergian Shinta dan laki-laki yang mengaku sebagai kekasih dari gadis yang disukainya itu.
"Siapa laki-laki itu? Masa' iya sih si Shinta pacaran sama om-om. Argh....gue akan cari tahu siapa dia dan apa benar mereka mempunyai hubungan seperti itu. Atau jangan-jangan Shinta itu–." Terbersit prasangka buruk tentang Shinta memenuhi pikirannya. Rendy berpikir apakah pria dewasa itu adalah sugar daddy nya Shinta dan itu artinya gadis tersebut tak sepolos yang ia kira. "Kita buktikan nanti Shinta."
Sepanjang perjalanan suasana tampak hening, keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Wira memikirkan bagaimana ia bisa menghilangkan rasa cintanya pada Vania sedangkan Shinta, gadis itu mengira jika anak majikannya itu ada rasa dengannya. Dasar si gadis polos pikirannya masih labil. "Ah, masa' iya sih tuan muda Wira suka sama aku? Kok, kayaknya ngak mungkin deh tapi, kenapa dia bilang ke Rendy kalau mereka sepasang kekasih.Ish...jangan ngehalu Shinta." Menepuk-nepuk kepalanya sendiri.
"Kamu mau pulang, kan? Nanti aku akan menurunkanmu di depan sana dan naiklah taksi karena aku masih ada urusan lain.mengerti kan?"
Shinta masih berkutat dengan lamunannya. Seketika lamunannya buyar mendengar panggilan Wira dengan suara yang cukup keras. "Hey–aku bicara padamu, dengar tidak?"
"Eh–iya Tuan Muda. Maaf...tadi Tuan bilang apa?" Shinta memang tidak menyimak perkataan Wira dan itu membuat Wira tampak kesal.
"Tuh kan bener, tidak memperhatikan orang bicara apa. Apa sih yang kamu lamunkan. Apa karena tadi aku yang menolongmu agar terbebas dari paksaan laki-laki tadi. Siapa dia? Pacarmu kah?" Wira bertanya namun, pandangannya masih tetap fokus kedepan.
Menghela nafas panjang Shinta menjawab jujur pertanyaan Wira bahwa ia dan Rendy sama sekali tidak memiliki hubungan apa-apa. Rendy lah yang selalu mengejarnya.
"Begitu. Lalu, apa lagi yang sedang kamu pikirkan? Dia pasti mengerti kan jika kamu sudah memiliki kekasih. Jangan bilang kamu berpikir jika aku menyukaimu.Jangan salah paham, aku melakukan hal tadi semata-mata ingin menolongmu karena kamu adalah pekerja di rumahku. hanya itu saja."
"Bu–bukan seperti itu, Tuan. Saya sangat berterima kasih atas pertolongan Tuan tadi. memangnya saya siapa sampai berani berpikir kalau Tuan menyukai saya."
"Baguslah kalau kamu sadar diri. Ya sudah, kamu turunlah dan jangan menceritakan kejadian tadi pada orang rumah terutama pada mama!" Wira pun menepikan kendaraannya lalu, menyuruh Shinta untuk turun.
Sebelum turun Shinta pun tak lupa mengucapkan terima kasih. "Baik Tuan, sekali lagi terima kasih atas bantuan anda."
"Hem–." Jawab Wira kemudian ia melajukan kendaraannya meninggalkan Shinta yang berdiri di pinggir jalan.
__ADS_1
"Hhh–hampir saja aku kege'eran. Stop menghalu Shinta." Kemudian Shinta langsung memesan ojek online.
Ghazala Group.
Mobil mewah Audi R8 warna merah yang dikemudikan Wira berhenti tepat didepan gedung Ghazala Group. Langkah pria bertubuh kekar dan jangkung itu pun melangkah dengan gagahnya menuju ke lift yang akan membawanya ke lantai 15 dimana ruangan Papa Bisma berada.
Para karyawan dan Karyawati tampak terperangah dan terkagum-kagum dengan sosok Wira yang begitu memukau.
"Wow–itu siapa, gantengnya cin.Kapan ya aku bisa dapat cowok kayak gitu?" ucap salah seorang karyawati yang mengagumi Wira.
"Hush, jangan sembarangan ngomong kamu. Dia adalah Tuan Muda Wira putra bungsu keluarga Ghazala.Jangan macam-macam, beliau ngak akan melirik macam kita-kita ini. Ngak level." Dan mereka pun terdiam dan hanya bisa mengaguminya saja.
Wira sampai didepan ruangan Ceo dan disambut oleh sekretaris sang papa. " Selamat siang Tuan Muda Wira. Tuan Bisma sudah menunggu anda didalam." Wira hanya mengangguk lalu, masuk kedalam setelah dibukakan pintu oleh sekretaris tersebut.
"Pa, maaf aku agak telat."
Papa Bisma yang masih sibuk memeriksa berkas-berkas langsung menghentikan kegiatannya ketika mendengar suara Wira. "Papa kira kamu tidak jadi datang, Wir." Papa Bisma bangkit dari duduknya kemudian beranjak ke arah sofa dimana Wira duduk.
Menjelang sore Wira dan Papa Bisma sudah sampai dirumah. Mulai minggu depan Wira yang akan menduduki jabatan Ceo sedangkan Papa Bisma hanya akan memantaunya dari rumah sebagai salah satu anggota komisaris Ghazala Group.
Tepat pukul 19.00 WIB makan malam keluarga tersebut dimulai. Seperti biasa Shinta akan standby berdiri tak jauh dari sana.
"Shinta, ayo duduklah kita makan bersama!" Mama Helen mengajak Shinta untuk makan malam bersama tapi, tentu saja Shinta menolaknya tidak mungkin dia duduk bersama dengan para majikan. Itu hal yang mustahil dan Shinta masih cukup tahu diri siapa dirinya.
"Maaf Nyonya, terima kasih. nanti saja, saya belum merasa lapar." Mengangguk sopan. Dan Mama Helen pun mengerti jika gadis itu sungkan karena dia hanyalah seorang pembantu dirumahnya.
Keesokkan harinya seperti biasa Shinta akan berangkat ke kamous setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ketika baru saja tiba didepan gerbang kampus Shinta langsung dihadang Rendy. Mood gadis manis itu tiba-tiba menjadi jelek. Pagi-pagi sudah diganggu oleh cowok resek itu. Shinta sangat kesal namun ia masih bisa mengontrol emosinya. "Ada apa lagi sih Ren? Kemarin kan kamu sudah tahu sendiri kalau aku sudah punya pacar."
Rendy malah tersenyum mengejek dan menatap Shinta intens. Ditatap seperti itumembuat Shanti merasa risih. Apa? Minggir aku mau masuk!"
__ADS_1
"Eits–tunggu dulu manis, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Ini...besok malam datang ya, jangan menolak karena aku mengundangmu sebagai teman sama seperti yang lain. Oke, datang ya aku tunggu." Setelah menyerahkan sebuah kartu undangan, Rendy pun beranjak pergi memasuki area kampus.
Shinta membuka undangan itu dan membacanya. "Pesta ulang tahun ke 19 tahun Rendy. Apakah aku harus datang? Tapi kok aku rasanya malas deh."
"Hey Shinta, kamu dapat undangan dari Rendy juga ya. Gimana besok kita datangnya barengan aja, oke." Tari sahabat Shinta menghampiri ketika melihat temannya itu juga tengah memegang sebuah kartu undangan.
"Tapi aku ngak tahu bisa datang apa enggak, Tar. Lihat besok aja deh." Shinta memang tidak begitu tertarik untuk datang ke pesta Rendy. Ya juga karena masalah kemarin yang membuat Shinta jadi tak enak hati. Lalu, Tari hanya tersenyum kecut ketika sang sahabat belim tentu akan hadir di pesta tersebut.
Sepulang dari kampusShinta tak langsung pulang. Gadis itu ingin kerumah sang kakak. Sebelumny ia sudah meminta izin pada mama Helen dan majikannya itu pun mengizinkannya. Malah mama Helen jadi ingjn juga kerumah Liam dengan alasan kangen dengan sang.cucu.
"Mbak, aku boleh pinjam sesuatu ngak?"
Saat ini Shinta dan Vania tengah berada di ruang keluarga sambil menonton televisi. "Mau pinjam apa? Kamu lagi butuh uang...berapa?" Vania mengira adiknya itu sedang membutuhkan uang.
"Ih, mbak Vania. Bukan uang tapi, gaun pesta."
"Gaun pesta, kamu mau ke acara pesta apa? Hati-hati loh Shin dalam bergaul. Kamu bukan ke tempat yang aneh-aneh kan?" Vania sudah negatif thinking saja.
Shinta langsung cemberut karena di tuduh mau berbuat macam-mavam." Ya enggak lah mbak. Aku mau dayang ke acara ultah salah satu temen kampusku. Boleh ya mbak aku pinjam 1 saja. Kan badan kita size nya sama."
"Iya boleh. Ayo mbak pilihkan!"
"Asyik–."
Sementara itu di suatu tempat. Tampak Rendy dan teman-teman nya sedang berkumpul di sebuah cafe seperti biasanya. " Hei Ren, beneran lo bakal menjalankan rencana lo itu?"
"Pasti lah, gue udah merencanakan ini sejak jauh-jauh hari apalagi setelah gue tahu Shinta yang sebenarnya. Cuma seorang babu aja belagu pake nolak gue segala kayak siapa aja dia. Dan cowok yang ngaku-ngaku sebagai pacarnya tenyata adalah anak majikannya. Ngak nyangka juga sih. Gue akan memberi pelajalan buat cewek sok oke itu. Tunggu saja besok, kalian pasti akan kalah." Seringai licik tampak di wajah tampannya.
"Halah—lihat aja besok, semoga sukses bro. Tapi, kalau ada apa-apa kita-kita ngak mau terlibat loh, Ren." Jawab.salah satu teman Rendy yang bernama Teddy.
__ADS_1
"Beres, tenang aja kalian "
Bersambung