Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
92.S2.Pembantu baru


__ADS_3

Lima belas menit berlalu sejak kepergian teman-teemannya. Akhirnya sang adik yang sejak tadi ditunggunya muncul juga tentu saja bersama bestie nya , siapa lagi kalau bukan Gendhis gadis remaja yang selalu ceria dimana pun ia berada.


"Lama banget sih kamu, Mas dah nunggu dari tadi hampir aja lumutan. Ayo, cepat naik!"


"Ekhem-ekhem. Bang Kiano, Gendhis ikut nebeng ya.Gendhis ngak bawa motor baru masuk bengkel. Boleh ya?"


Kiano menatap sekilas Gendhis lalu, mengalihkan pandangannya kearah lain.


Tak mendapatkan respon apapun dari Kiano, Gendhis menatap Kirena meminta bantuan dari sahabatnya itu. Kirena yang tanggap langsung meminta sang kakak untuk mengajak Gendhis pulang bersama. "Mas, kasihan Gendhis. Biar dia bareng kita aja."


"Hemm."


"Yess, thanks ya bestie." Gendhis tampak bergitu bahagia karena akhirnya bisa menaiki mobil mewah milik sang pujaan hati. Gadis itu pun langsung masuk dan duduk di kursi belakang.


Sepanjang perjalanan ketiganya hanya terdiam tak satu pun diantara mereka yang memulai obrolan. Hingga suara dering ponsel milik Kiano memecah keheningan dan kedua gadis belia iyu pun beralih menatap Kiano.


"Hmm–apa?"


"Ki, nanti malam beneran ya. Jangan lupa bawa amunisi yang banyak. Emm....sekalian boleh lah lo ajak Rena cantik biar suasana tampah asik."


Ternyata yang menelpon adalah si Erwin cowok super aktif yang selalu menggoda Kirena. Mendengar permintaan Erwin yang tak akan pernah ia kabulkan itu. Bisa di semprot habis ia sama ayah Liam jika, sampai mengajak adiknya kongkow-kongkow bareng teman-temannya.


"Ngak bakal gue kabulin keinginan lo itu. Dah gue lagi nyetir. Sampai ketemu nanti malam."


Klekk


Kiano langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak tanpa menunggu respon dari si penelpon.Namun, berbeda reaksi yang di tampilkan oleh kedua gadis remaja yang tengah saling perpandangan. Lalu, seutas senyumpum terpancar diwajah keduanya.


"Mas, nanti malam memangnya mas mau kemana? Itu tadi yang telpon pasti kak Erwin ya?" Tanya Kirena pada sang kakak.


"Hemm–." Hanya dijawab deheman oleh Kiano


"Emm–kalau kami ikut boleh ngak, Mas?"


Kirena memanglah tipe adik perempuan yang manja pada kakaknya. Sedari kecil Kirena memang selalu menempel pada Kiano, mereka sudah seperti kembaran saja. Apalagi jarak umur mereka memang tidak terlampau jauh, hanya selisih 2 tahun. Maka, ketika mendengar kalau kakaknya nanti malan akan jalan, gadis berparas ayu itu pun tampak begitu antusias ingin ikut juga.


"Mau ngapain? Ngak- ngak usah. Orang ini acara khisus untuk cowok-cowok dan bocil macam kalian tidak usah ikut."


"Ck–pelit." Kirena berdecak sebal.


"Lihat saja nanti, akan aku bilang sama ayah dan bunda." Kirena berencana akan mengadukannya pada kedua orang tua mereka karena Kiano tidak mau mengajaknya.

__ADS_1


Tak ada lagi perbincangan diantara ketiganya, sampai mobil yang dikendarai Kiano berhenti didepan sebuah rumah yang tampak sederhana. "Terima kasih ya kak Kiano, Rena....sampai jumpa besok." Setelah turun tak lupa Gendhis mengucapkan terima kasih pada Kiano dan Kirena sahabat karibnya. Setelah itu kedua kakak beradik itu melanjutkan kembali perjalanannya pulang kerumah mereka.


Malam pun telah tiba, menjelang pukul tujuh malam Kiano sudah bersiap-siap untuk berangkat bertemu dengan teman-temannya. Baru saja ia hendak melangkah pergi.setelah berpamitan pada keduaorang tuanya tiba-tiba ayah Liam menegurnya.


"Kiano–jangan suka nongkrong di tempat yang tidak baik, kamu pasti tahu kan yang ayah maksud?"


Kiano pun mengangguk mengerti apa yang dimakasud sang ayah. "Iya Yah, Kiano tahu kok. Kami cuma stay di apartemen Ayah dan ngak akan kemana-mana lagi.Sudah ya Bunda, Ayah....Kiano pergi dulu."


Mereka tak tahu saja dibalik dinding Kirena sedang menguping dan senyum pun merekah di bibir ranumnya.' Asik, harus cepet-cepet kasih tahu Gendhis nih.'


Kirena langsung menghubungi Gendhis. "Dhis, ternyata merema mau ketemuan di apartemen ayah."


Diseberang sana tentu saja Gendhis bersorak gembira. " Ayo, cuss...kita meluncur ke sana. Kapan lagi kita bisa kumpul bareng gank cowok rupawan seperti mereka dan juga gue pingin lebih dekat sama abang lo, Ren."


"Huhh–dasar bucin.Tapi, Dhis. Gue takut kalau ketahuan ayah sama bunda. Mereka pasti marah dan gue pasti bakal kena hukuman. Kayaknya kita batalkan saja ya. Gue ngeri kalau sampe kena murka ayah."


"Yah Rena, kok gitu sih. Ngak apa-apa lagi Ren. Kan ada abang Kiano dan gue yakin nyokap bokap longak bakal marah deh. Ayo, gue jemput loe sekarang ya"


Rena sebenarnya agak ragu untuk melakukannya. Tapi, setelah mendengar perkataan Gendhis akhirnya gadis itupun mempercayainya."Okelah, srmoga ayah dan bunda ngak akan marah." Kirena pun berjalan sambil mengendap-endap menuju ke luar rumah melalui pintu samping. Sebab, Ayah Liam dan Bunda Vania tengah berada di ruang tengah.


Ting


"iya iya, sabar dong....gue juga ini lagi kucing-kucingan sama pak Joko." Pak Joko adalah security di rumah Liam yang tugasnya berjaga di pintu gerbang depan.


Setelah bersusah payah, akhirnya kedua gadis belia itu pun berhasil meloloskan diri dari pengawasan Pak Joko. Mereka pun bergegas menuju ke apartementempat dimana Kiano and the gank tengah berkumpul.


Sementara itu di dalam salah satu unit Apartemen milik Liam. Tampak empat orang pemuda tampan sedang asik dengan kegiatan mereka masing-masing. Erwin dan Tony sedang bermain game PS, sedangkan Jay dan Kiano juga sibuk bermain game online di ponsel mereka masing-masing. Sampai terdengar suara bell pintu dan keempatnya pun spontan menghentikan kegiatan mereka lalu, saling pandang satu dengan lainnya.


"Siapa tuh, Ki? Apa diantara kalian ada yang memesan makanan, kok....pengertian banget, tahu saja kalau perut dah keroncongan ini." Itu si ceriwis Erwin yang menebak asal.


"Makanan aja pikiran lo, Win.Bentar, biar gue lihat siapa yang memencet bell....awas aja kalau cuma orang iseng." Kiano melangkahkan kakinya menuju kearah pintu dan wajahnya langsung berubah ketika melihat siapa gerangan si tamu yang ternyata adalah duo bocil yang selalu kepo dengan urusan nya. " ck, ngapain sih mereka kesini? Guys....ayo ngaku, siapa yang memberitahu duo bocil itu kalau kita ada disini?"


"Hah–maksud lo si cantik Ayang Rena? Lah....udah bukain, Ki. Malah bengong!" Erwin yang memang naksir adik dari sahabatnya itu tentu saja menyambut dengan gembira kesatangan gadis cantik pujaan hatinya itu.


Kiano.tak menanggapi ocehan tak penting Erwin. Ia pun langsung membuka pintu tersebut dan langsung di sambut dengan sorak sorai gembira dari kedua gadis remaja berparas cantik tersebut.


"Ta ra– kami datang! Mas....kami boleh bergabung kan sama kalian?" Tanpa menunggu jawaban dari Kiano , keduanya langsung menerobos masuk kedalam dan menatap penuh minat ketika melihat Erwin dan Tony yang tengah asik bermain game melalu layar televisi yang cukup besar "Waa....asik nih, kak Erwin gantian dong mainnya." Kirena langsung duduk manis di sebelah Erwin dan ingin merebut stik ps yang di pegang Erwin.Seakan terhipnotis, pemuda itu pun langsung menyerahkanya ketangan Kirena. "Terima kasih kak Erwin yang ganteng dan baik hati." Semakin berbunga-bunga lah hati Erwin di puji oleh gadisnya itu.


Sedangkan Gendhis terus saja menempel kemana pun Kiano berada. Kelakuan gadis itu membuat Kiano jengah dan tak suka dengan sikap agresif sahabat adiknya itu. "Apa kamu tidak bisa duduk ditrmpat lain? Itu....di sebelah Jay juga masih kosong,kan." Kiano menunjuk kearah Jay yang duduk di salah satu sudut sofa.


Seketika wajah ceria Gendhis langsung memudar yang muncul kini wajah sendunya. Ia kecewa karena Kiano dengan terang-terangan telah menolak kehadirannya.Dengan berat hati, Gendhis berpindah duduk kesebelah Jay dengan memasng wajah masamnya.

__ADS_1


"Rena–apa kamu datang kesini sudah mendapat izin dari ayah dan bunda atau jangan-jangan kamu main kabur saja tanpa sepengetahuan mereka?" Kiano menegur sang adik yang tengah menikmati permainan game PS nya.


DEG


'Aduh, bagaimana ini? Mas Kiano pasti bakal ngaduin ke ayah dan bunda.Bisa kena omelan nih pulang nanti.' mololognya


" Iya, Mas. Maafkan Rena. Tolong jangan bilang sama ayah dan bunda ya, kak." Kirena menyerahkan kembali stik PS nya ketangan Erwin. Dan gadis itu pun segera bergegas menghampiri sang kakak lalu, duduk di sebelahnya. Merayu Kiano agar tidak mengadukannya pada orang tua mereka.


"Ini yang terakhir kalinya y, Ren. Lain kali Mas ngak akan segan mengadukan kelakuanmu ini pada ayah dan bunda. Kamu ini anak gadis, jaga sikap dan prilakumu."


Kirena tertunduk lesu menyesali perbuatannya. "Iya, Mas. Maafkan kami."


Ya sudah, Mas ngak akan bilang pada mereka.Lebih baik sekarang kalian berdua bikinkan minuman buat kami dan jug pesankan makannya juga. Anggap ini sebagai hukuman buat kalian."


"Iya, Mas."


"Iya, Bang."


Jawab kedua gadis itu bersamaan. Setelah itu mereka segera menuju ke dapur untuk membuatkan minuman untuk semuanya.


Pagi harinya keluarga Liam tampak tengah menikmati sarapan bersama. Suasana tampak normal seperti biasanya. Kiano menepati janjinya yang tidak akan memberitahukan perbuatan sang adik pada kedua orang tua mereka. Kirena tentu saja merasa lega karena tidak mendapatkan hukuman akibat dari kelakuan tak biasa kedua gadis itu tadi malam.


Karena hari libur, mereka pun berkumpul di ruang keluarga berbincang santai sambil menonton televisi.


"Pak, Bu. Maaf, saya ingin memberitahukan jika pembantu baru dari perusahaan penyalur pembantu telah datang."


"Oh–suruh dia langsung kesini ya, Bi!"


"Baik, Bu."


Bi Kokom pun segera beranjak kembali ke depan untuk memanggil calon pembantu baru tersebut.


"Selamat Pagi, Tuan...Nyonya."


"Pagi– kamu benar akan bekerja menjadi art? Berapa umurmu dan siapa namamu?"


"Sa–saya, umur saya 17 tahun dan nama saya Inara, Nyonya."


Semua tampak terkejut dan langsung melihat kearah gadis muda yang duduk di atas lantai sambil menundukkan pandangannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2