Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
11. Pergi


__ADS_3

Akhirnya semua tugasnya pagi ini telah selesai. Tubuh Vania terasa lemas, akhir-akhir ini ia mudah sekali merasa lelah.Padahal biasanya meskipun ia melakukan pekerjaan seberat apapun tak pernah dirasanya. Namun, sejak kehamilannya yang telah memasuki bulan ke 4 janin yang ada di rahimnya seakan tak ingin diajak beraktifitas terlalu berat.


"Nak, capek ya. Ayo...kita istirahat sebentar dikamar. Pekerjaan ibu juga sudah selesai." Vania berjalan melewati arah samping rumah, ia tahu bahwa jam segini para majikan akan berbincang santai.di ruang tengah sebelum berangkat bekerja.


Sesampainya didepan kamar, Vania terlebih dahulu mencuci tangannya lalu setelah itu masuk kedalam kamarnya.


"Tunggu!"


Sontak Vania begitu terkejut karena tiba-tiba saja muncul Liam si Tuan Muda arogan yang selalu bersikap sini padanya.Dan juga laki-laki yang telah merusak masa depannya, ayah biologis dari calon bayi yang tengah tumbuh dan berkembang di rahimnya.


Liam langsung ikut menerobos masuk kedalam kamar Vania lalu menutup dan mengunci pintunya. Tindakan sang majikannya itu tentu saja membuat gadis itu semakin berpikiran jelek terhadap Liam. Vania takut jika Liam akan berbuat tak senonoh lagi terhadapnya.


"Tu–an mau apa? Tolong jangan apa-apakan saya lagi, Tuan. Saya berjanji tidak akan mengatakan apapun pada orang lain dan secepatnya saya akan pergi dari sini." Vania memohon dengan mengatupkan kedua telapak tangannya didada.


"Ssttt–diam!Nanti ada yang dengar." Liam menutup mutut Vania dengan telapak tangannya yang besar.


"mmpmm–Vania mengangguk mengerti dan Liam pun melepaskan bekapannya.


Rasanya saat ini Vania ingin kabur saja. Bayang-bayang kejadian diwaktu malam itu membuat tubuhnya kembali gemetaran. Tatapan mata elang itu seakan ingin meberkam sang mangsa. Yang bisa gadis itu lakukan hanya menunduk kaku duduk disisi tempat tidurnya.


"Kau tidak usah takut seperti itu, jangan berpikir jika aku akan melakukan hal itu lagi padamu. Aku masih waras dan sadar tidak seperti waktu itu. Seandainya malam itu aku tidak mabuk, kau kira aku sudi menyentuh gadis sepertimu? Jangan berpikir terlalu jauh."


Sungguh, setiap perkataan yang terucap dari bibir Liam sangat menyakitkan hatinya. Ia memang hanyalah gadis miskin dan seorang pembantu.Apa ada yang salah akan hal itu? Ia juga sama seperti perempuan yang lain, yang ingin di hargai dan diperlakukan baik oleh siapapun termasuk kaum adam.


"Lalu, apa yang Tuan Muda ingknkan sampai repot-repot datang kekamar saya?" Menatap penuh kebencian.


"Aku cuma mau memastikan apakah janin yang kau kandung itu milikku atau bukan. Sebab aku masih ragu jika setelah melakukannya dengaku apa kau juga tidur.dengan laki-laki lain?"


"Dan satu lagi, walaupun seandainya anak itu adalah darah dagingku keluargaku belum tentu bisa menerima keberadaannya."


Habis sudah kesabaran Vania. Rahangnya mengetat dan tenggorokkannya yerasa tercekat. Dadanya begitu sesak sulit untuk bernafas. " Maaf Tuan, rasanya perkataan anda ada yang salah.Kita melakukannya bukan atas kemauan saya, itu karena anda yang telah memperkosa saya. saya tekankan MEMPERKOSA. Dan asal anda tahu ya, saya bukanlah gadis murahan yang dengan gampangnya di toduri oleh setiap lelaki yang saya temui."

__ADS_1


"Justru kesialan saya bermula ketika bertemu dengan anda Tuan dan dengan tanpa perasaan anda telah merenggut satu-satunya harta yang saya miliki. Masa depan saya hancur oleh ulah anda, Tuan Muda Liam yang terhormat."


Liam sampai tak bisa membalas semua kalimat yang terucap dari bibir gadis muda yang telah terlanjur sakit hati dan kecewa. Laki-laki biadab yang tak berperasaan itu semakin membencinya.


"Kau–berani-beraninya berbicara seperti itu kepadaku. Apa kau tidak sadar siapa dirimu, hah? Apa susahnya sih, tinggal menjawab itu anakku atau bukan.Kau malah menghakimiku."


"Baik, Tuan Muda. Saya akan menjawab pertanyaan anda. Bayi ini bukanlah milik anda, dia hanya milik saya. Jadi, Tuan tidak usah khawatir karena secepatnya saya akan pergi dari sini dan anda bisa tenang.Maaf, kalau perkataan saya telah menyinggung Tuan. Apa ada lagi yang ingin Tuan Muda sampaikan? Jika tidak, biasa.tolong kekuar dari kamar ini." Vania membuang muka tak sudi menatap wajah pria kejam itu.


Dirasa cukup jawaban dari Vania, Liam pun segera beranjak keluar dari kamar gadis malang itu tanpa berkata sepatah katapun bahkan mengucapkan permintaan maaf pun tidak. Sungguh laki-laki tak betanggung jawab.


Malam harinya, Vania sama sekali tak bisa tidur. Ia memikirkan nasib masa depannya. Apalagi sudah jelas bahwa Liam sama sekali tak mengakui anak yang dikandungnya dan.juga takkan mungkin laki-laki itu mau bertanggung jawab akan perbuatannya. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Vania pun memutuskan besok pagi-pagi sekali ia akan pergi.


"Bibi, maafkan Vania tak bisa menunggu kepulangan bibi. Aku akan membesarkan anak ini seorang diri dan insyaallah pasti akan ada jalan rezeki untuk kami. Selamat tinggal, bi."


Setelah menulis pesan perpisahan untuk sang bibi. Vania pun mengeluarkan semua pakaiannya yang hanya beberapa potong saja itu dari dalam lemari lalu memasukkannya kedalam tas lusuhnya. Ia tinggal menunggu sampai menjelang subuh tiba.


Akhirnya saatnya telah tiba, Vania menenteng tasnya lalu melangkah keluar kamar sambil mengendap-endap.Untungnya para penghuni rumah belum ada yang terbangun. Saat akan melewati gerbang pintu depan, Vania mengambil kunci dari pos jaga yang untungnya security yang berjaga tengah tertidur lelap.


"Mau diantar kemana neng?"


"Tolong antar saya ke terminal bis ya pak!'


"Baik neng."


Setelah membeli tiket lalu, Vania pun menaiki salah satu bus antar kota. Ya, Vania sudah bertekad akan memulai hidup baru bersama calon anaknya ketempat dimana tak seorang pun yang mengenalnya.


Sementara itu di kediaman Ghazala, Murni dan Erna merasa aneh sebab sudah hampir jam enam pagi dapur masih tampak sepi. Tidak seperti biasanya akan terlihat Vania yang tengah memasak untuk sarapan pagi untuk para majikan.


"Eh, Er–ini kok tumben ya dapur masih sepi, kemana si Vania. Masa' iya jam segini dia masih tidur. Ngak biasanya dia bangun kesiangan, kan?"


"Iya Mur. Apa dia sakit lagi? Ya sudah, lebih baik kita segera memasak saja, waktunya sudah mepet. Ngapain lagi si tu anak...bikin repot saja. Tugasnya kan jadi kita yang mengerjakannya." Erna mendumel kesal karena tugas memasak harusnya menjadi tugas Vania namun, gadis itu tak muncul di dapur.

__ADS_1


Murni menggelengkan kepalanya melihat temannya yang malah mengomel sendiri. "Sudah jangan misuh misuh,lebih baik kita selesaikan masakannya. Keburu Nyonya turun."


"Iya iya, huh...awas saja si Vania, enak saja dia pasti sedang santai-santai dikamarnya."


"Erna, kamu jangan su'udzon begitu. Siapa tahu dia memang benar sedang sakit."


Itulah Murni dan Erna duo julid, bekerja sambil menggosip sia dan selalu Vania yang menjadi bahan pergunjingan mereka.


"Loh, kenapa kalian berdua yang menyiapkan sarapan pagi? Dimana Vania?"


Duo julid itu pun terjingkat kaget mendengar suara Nyonya Helen yang sudah berdiri didekat meja makan.


"Itu Nyonya. Vania sejak tadi belum keluar dari kamarnya." Murni yang menjawab pertanyaan sang majikan.


Kening Nyonya Helen mengernyit, tumben sekali.gadis rajin itu absen dari tugasnya. " Ya sudah, tolong kalian lihat keadaannya. Jika, Vania memang sakit beritahu aku!"


"Ya, asalkan kalian tidak berbuat jahat lagi padanya. Awas saja kalau sampai kalian membully nya lagi. Langsung pecat saja mereka, Ma!" Itu adalah Wira yang baru saja muncul dan langsung menggertak si duo julid.


"Sudah-sudah, ayo kita sarapan saja." Nyonya Helen memerintahkan suami dan kedua putranya untuk segera memulai sarapan pagi.


Beberapa menit kemudian si duo julid datang kembali dan langsung menyampaikan berita yang baru saja mereka ketahui.


"Nyonya, Maaf...itu, Vania tidak ada dikamarnya dan semua pakaiannya pun tidak ada. Sepertinya dia sudah pergi, Nyonya. Dan ini ada surat yang bertuliskan untuk.bi Arum." Murni menyerahkan sebuah amplop yang ditinggalkan Vania kepada Nyonya Helen.


"Va–Vania pergi!?"


"Uhuk uhuk–!"


"Kamu kenapa Liam?"


"*Dia pergi, apakah karena permbicaraan kami semalam? Dan dia memutuskan untuk pergi. Apa dia berbohong soal anak yang dikandungnya, bayi itu...apa anakku?"

__ADS_1


Bersambung*


__ADS_2