
Keesokkan harinya, tepat pukul sembilan pagi. Vania dan bayinya sudah bersiap untuk pulang.Bi Arum menggendong baby Kiano sedangkan pak Pur membantu membawakan tak jinjing milik Vania.
"Bi, kenapa sampai pak Pur yang menjemput kita? kita kan bisa naik taksi online saja. Tidak enak, aku sudah banyak merepotkan Nyonya."
Mereka kini telah berada didalam mobil pribadi Nyonya Helen. Sepanjang perjalanan Vania hanya terdiam sambil menatap lekat wajah tampan buah hatinya bak pinang di belah dua persis seperti ayahnya. Itulah salah satu yang membuat pikirannya tak tenang.
Jika, semua rahasianya terbongkar apakah keluarga terpandang itu akan menerima baby Kiano? Rasanya tidak mungkin. Bahkan Nyonya Helen sudah jelas tak akan pernah menerimanya sebagai menantu di keluarga Ghazala.
"Van, ngamu ngelamunin apa lagi? Jangan terlalu berpikir macam-macam, tidak baik untuk kesehatanmu. Kasihan nanti anakmu yang akan terkena imbasnya." Sejak tadi bi Arum memperhatikan sikap Vania yang agak pendiam tidak seperti biasanya. Entah apa yang tengah mengganggu pikirannya.
Teguran dari sang bibi membuyarkan lamunannya. Vania tersentak kaget dan tersenyum kikuk karena ketahuan sedang melamun. Senyuman palsunya untuk menyembunyikan kegundahan hatinya. "Eh, eng–ngak ada apa-apa kok, bi. Hanya saja aku agak sedikit lelah."
"Ya sudah, sini biar Kiano bibi yang memangkunya.Kamu tidur saja! Nanti kalau sudah sampai akan bibi bangunkan."
"Iya, bi." Vania pun memindahkan baby Kiano ke pangkuan sang bibi.Setelah itu Vania berseder lalu memejamkan matanya.
Lima belas menit kemudian akhirnya mereka pun sampai di kediaman keluarga Ghazala. Bi Arum membangunkan Vania. Pak Pur membukakan pintu dan bi Arum turun sambil menggendong baby Kiano. Sedangkan Vania berjalan dengan menenteng tas jinjingnya.
Ternyata Nyonya Helen dan Tuan Bisma telah menunggu kedatangan mereka sejak tadi. Pasangan suami istri tersebut tengah berdiri di teras depan.Wajah bahagia Nyonya Helen tampak jelas, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu pun segera menyongsong bi Arum lalu mengambil alih baby Kiano dan menggendongnya.
Vania tak bisa melarang sang majikan, ia sudah banyak merepotkan dan berhutamg budi pada wanita baik hati itu.
"Pa, sini lihat deh, bayinya Vania ganteng banget loh!" Nyonya Helen memanggil sang suami agar menghampirinya untuk melihat baby Kiano. Tuan Bisma pun menurut dan melangkah mendekat.
Saat memandang wajah bayi mungil yang tengah terlelap itu, sontak Tuan Bisma membulatkan matanya.Ternyata benar apa yang dikatakan oleh istrinya jika, wajah baby Kiano benar-benar mirip seperti Liam.
"Ma–ini beneran, sangat mirip saat Liam masih bayi." Tuan Bisma begitu terperangah menatap bayi mungil yang begitu anteng dalam gendongan sang istri.
__ADS_1
"Benar kan, Pa. Aku ngak bohong. Aku rasakita harus melakukan seauatu." Nyonya Helen berbicara agak memelankan suaranya takut terdengar oleh Vania yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Sedangkan Vania, perasaannya tiba-tiba tak enak. Apalagi ketika ia melihat gelagat aneh pasangan suami istri tersebut yang berbincang sambil berbisik-bisik. Entah apa yang tengah dibicarakan kedua majikannya itu.
Berbagai pikiran negatif tiba-tiba berputar dikepalanya. "Ada apa dengan mereka, apa Tuan dan Nyonya telah menyadari akan sesuatu pada diri Kiano? Bagaimana kalau sampai mereka tahu akan kebenarannya dan mengambil Kiano dariku?" Rasa was-was kembali menderanya. Vania pun buru-buru menghampiri sang majikan berniat ingin mengambil bayinya.
"Maaf Nyonya, Tuan. Saya ingin menidurkan Kiano dikamar."
Nyonya Helen tak bisa menolaknya dan mengembalikan bayi mungil itu kedalam dekapan ibunya. "Ah iya, maaf. Ini Vania."
"Terima kasih dan maaf telah merepotkan Nyonya sejak kemarin. Untuk seluruh biaya persalinan saya, Nyonya bisa memotong dari gaji saya bulan ini atau semuanya juga tidak apa-apa." Vania tak ingin mempunyai hutang budi pada sang majikan. Walaupun sebenarnya Kiano adalah cucu mereka sendiri.
Baru saja Vania melangkah kearah pintu belakang, tetiba muncul dua kakak beradik yang belakangan ini selalu memperebutkan salah satu pembantu mereka.
"Vania, kenapa tidak ada yang mengabari kalau kalian sudah pulang. Bukankah aku sudah bilang akan stadby 24 jam jika kalian membutuhkanku." Liam yang lebih dulu berkicau ria.
"Apa sih kak.Vania, padahal aku ingin sekali menjemputmu dan baby Kiano. Mama kenapa sih tidak memberitahu aku." Kesal Wira pada sang mama.
Kemudian Nyonya Helen menyuruh Vania membawa baby Kiano ke kamar dan menahan Liam dan Wira yang hendak mengikuti Vania. "Eits, mau kemana kalian? Jangan ganggu Vania dan bayinya. Mereka mau beristirahat. Sana, lebih baik kelian kembali ke kantor. Masih jam kerja sudah keluyuran saja. Mau jadi apa perusahaan kalian nanti kalau pemimpinnya saja tidak disiplin."
"Uh, Mama cerewet banget sih."
Dan kedua pria tampan itu pun tak berani membantah perintah sang mama. Mereka pun akhirnya melangkah pergi untuk kembali ke kantor masing-masing.
Tok tok tok
"Vania, apakah kamu sudah tidur?"
__ADS_1
"Masuk saja bi, aku tidak tidur kok!" Jawab Vania
Kemudian bi Arum pun masuk sambil membawa segelas susu dan camilan. Keningnya mengkerut melihat wajah Vania yang sembab sepertinya gadis itu habis menangis. "Van, kamu menangis? Ada masalah apa lagi, apa ini ada hubungannya dengan tuan Liam dan tuan Wira?" Vania mengangguk mengiyakan pertanyaan bibinya.
"Memangnya kali ini apalagi yang mereka lakukan sama kamu?"
"Aku malu bi pada Nyonya Helen dan Tuan Bisma karena kedua anak mereka masih saja menggangguku dan juga aku malu bi, nyonya tidak akan membiarkan kedua anaknya memperistriku yang hanya seorang pembantu. Itu adalah hal yang mustahil terjadi. Nama baik keluarga mereka pasti akan tercoreng. Rasanya aku jadi tak nyaman tinggal disini lagi, bi." Vania tertunduk sambil memainkan ujung dressnya.
Bi Arum menghembuskan nafas panjang dan menatap iba pada sang keponakan. "bersabarlah sebentar lagi, tunggu sampai Kiano berumur 3 bulan. Kita akan berhenti bekerja dan pergi dari tempat ini. Bibi akan selalu bersamamu dan tak akan membiarkan kalian menderita lagi. Kamu jangan terlalu memikirkan kedua tuan muda dan tidak usah ditanggapi apapun yang mereka lakukan."
"Iya bi, aku juga sadar diri siapa diriku yang hanya pembantu di rumah ini. Bibi tidak usah khawatir. Aku tidak akan membuat malu bibi."
"Pa, bagaimana menurut papa tentang Vania dan bayinya?"
Saat ini pasangan suami istri tersebut tengah bersiap untuk beranjak tidur. Nyonya Helen merasa ada yang janggal dibalik perlakuan tak biasa kedua putranya pada Vania.
"Maksud mama apanya?" Tuan Bisma masih belum mengerti apa yang dimaksud oleh istrinya.
"Itu loh pa, kelakuan anak-anakmu yang aneh. Mama jadi curiga pasti ada sesuatu yang tidak beres diantara mereka bertiga, pa. Terutama soal baby Kiano."
"Iya juga sih, papa juga berpikuran hal yang sama seperti mama. Lalu, apa yang akan kita lakukan untuk membuktikannya?"
Tuan Bisma ternyata juga sepemikiran dengan sang istri. Kalau dilihat rasanya memang ada sesuatu yang mesti di luruskan dan mereka terlebih dahulu harus membuktikannya. Tapi, dengan cara apa.
"Hah Pa, mama ada ide. Bagaimana kalau kita melakukan test DNA antara Liam, Wira dan baby Kiano. Siapa diantara mereka ayah biologisnya."
"Jadi mama curiga kalau salah satu putra kita yang telah menghamili Vania, begitu?" Dan Nyonya Helen mengiyakan apa yang diucapkan oleh sang suami.
__ADS_1
Dan akhirnya mereka sepakat akan melakukan test tersebut untuk membuktikan kecurigaan mereka.
Bersambung