
Disuatu daerah pinggiran kota, Vania tengah berkeliling dengan Kiano dalam gendongannya. Beberapa kali ia menghentikan langkahnya untuk mencari sebuah hunian kost atau rumah kontrakan yang cukup terjangkau di isi dompetnya.
"Permisi–maaf bu, boleh saya bertanya. Apakah disekitar sini ada rumah yang dikontrakkan atau kost-kost-an?"
Vania bertanya pada seorang wanita paruh baya yang tengah menyapu halaman depan rumahnya. Wanita itu sontak menoleh dan tersenyum ramah pada Vania.
"Iya. Mbak nya mau kontrakan yang seperti apa?"
"Yang tidak terlalu besar, bu dan tak terlalu mahal. Saya ingin yang bisa dibayar bulanan saja." Jawab Vania.
Wanita paruh baya itu pun mengangguk lalu, beryanya kembali. "Maaf mbak, kalau rumah yang dikontrakkan disekitaran sini tidak ada. Ada kost-an tapi sepertinya hanya untuk laki-laki dan kebanyakan kalangan anak mahasiswa."
Seketika wajah Vania kembali sendu. Ternyata mencari tempat berteduh tidak semudah yang ia pikirkan. "Kalau begitu terima kasih bu. Permisi." Vania menganggukkan kepalanya sopan, setelah itu kembali melanjutkan langkahnya.
Tapi, tiba-tiba wanita paruh baya itu memanggil Vania kembali. " Mbak–tunggu!"
Vania refleks menoleh dan berbalik badan melangkah kembali menghampiri ibu tersebut. "Iya, bu. Ada apa ya?"
"Em–begini, saya ada paviliun kecil disamping rumah. Ya tidak terlalu besar tapi, cukup nyaman. Apakah mbaknya mau menempatinya?"
Senyum mengembang di wajah ayu Vania, ia merasa sangat lega karena usahanya untuk mencari tempat tinggal akhirnya berakhir sudah.
"Mau–tentu saja saya mau, bu. Berapa ongkos sewanya ya bu?"
"Tidak usah bayar, mbak. Malah saya senang jadi ada temannya. Ayo ayo, masuk. Sini...saya bawakan tas nya. Saya ambilkan kuncinya."
Ibu itu menghentikan langkahnya lalu, menoleh ke belakang. Tersenyum menatap Vania. "Ah iya, saya hampir lupa kita kan belum saling memperkenalkan diri. Nama saya Wulan. Dan mbaknya?"
"Nama saya Vania, panggil Vania saja bu."
"Baiklah, Vania. Senang mengenalmu."
"Kenapa Vania pergi, pasti ada sesuatu yang membuatnya sampai nekat berbuat seperti itu. Apa ini ada hubungannya denganmu, kak?" Tatapan Wira mengintimidasi sang kakak.
__ADS_1
Liam yang tidak tahu apa yang menyebabkan Vania pergi tentu saja tidak terima dengan tuduhan Wira.Ia pun balik menatap tajam adiknya yang menjadi pesaingnya dalam mendapatkan Vania. "Enak saja kamu main menuduh, aku bahkan belum berbicara lagi dengan Vania. Mana mungkin aku yang menyuruhnya untuk pergi.Jangan ngada ngada kamu."
Saat ini mereka tengah berkumpul di ruang keluarga membicarakan tentang kepergian Vania dan bayinya.Nyonya Helen menghela nafas dalam tak habis pikir Vania sampai senekat itu membawa cucu nya. Dan juga tak tahu penyebabnya.
"Maaf Nyonya, Tuan. Apa boleh saya meminta waktu untuk berbicara sebentar saja?" Bi Arum tiba-tiba muncul
"Tentu saja boleh, Silahkan duduk bi!'
Bi Arum pun dipersilahkan duduk lalu, wanita paruh baya itu pun mulai menceritakan apa yang dikatakan Vania malam sebelum ia pergi.
"Begini Nyonya, Tuan. Semalam saya berbicara dengan Vania dan saya melihat dia begitu resah dan tampak gurat kesedihan diwajahnya. Ketika saya menanyakan apa yang tengah dirasakannya Vania mengatakan kalau dia begitu takut jika Nyonya dan Tuan akan mengambil hak asuh atas Kiano dan menjauhkannya dari Vania. Dia tidak ingin dipisahkan dari anaknya, Nyonya. Jadi, saya mohon tolong jangan pisahkan Vania dengan Kiano. Karena hanya Kiano lah satu-satunya pengobat luka dihodupnya. Saya sangat kasihan dan sedih melihat nasib satu-satunya keponakan saya itu, Nyonya."
"Sekali lagi saya mohon maaf jika, saya telah berbicara lancang dengan anda. Dan satu lagi, Vania juga sadar diri bahwa keluarga Ghazala tidak akan pernah menerima Vania yang hanya seorang pembantu menjadi menabtu di leluarga ini. Maaf, itu saja yang ingin saya sampaikan."
DEG
Bagai tersampar petir di siang hari. Tubuh Nyonya Helen langsung lemas. Jadi, karena itu Vania memutuskan untuk pergi dan membawa cucu nya. Seketika rasa sesal merasuki hatinya. " Ya, ampun bi. Aku sungguh tidak pernah berpikir demikian. Aku sangat menyayangi mereka, Vania dan juga Kiano cucuku. Soal pernikahan Liam dan Vania. Aku sama sekali tidak berkeberatan bila Vania menjadi menantu dikeluarga ini. Hanya saja ini juga masih ada kaitannya dengan Wira. Bibi tahu kan apa yang aku maksud. Kami akan menyelesaikan permasalahn kedua putra kami dahulu."
Liam dan Wira seketika terdiam. Mereka jadi merasa bersalah. Salah satu alasan kepergian Vania merekalah penyebabnya.
"Aku juga. Maaf, Ma...aku ngak bisa membiarkan Vania dan bayinya seorang diri di luar sana. Dan soal pernikahan, biar Vania sendiri yang menentukan pilihannya. Aku akan menerima apapun yang Vania pilih nantinya." Wira pun seperti sang kakak beranjak pergi mencari Vania.
Sementara itu keesokkan harinya di tempat tinggal barunya, Vania tengah bersiap keluar rumah untuk melakukan panggilan interview disebuah perusahaan. Ya walaupun hanya sebagai petugas cleaning service ia tetap bersyukur jika sampai diterima bekerja. Dengan berbekal ijazah SMA nya dan ia pun membawa Kiano bersamanya. Bu Wulan yang sedang menyapu teras depan menihat Vania yang menggendong bayinya den menenteng sebuah map bergegas menghampirinya.
"Vania, kamu mau kemana?" Tegurnya. Ya, bu Wulan memanggil Vania saja. Itu permintaan dari Vania sendiri terdengar lebih akrab.
"Mau ke perusahaan. Hari ini saya ada interview pekerjaan, bu. Ini saya sudah mempersiapkan berkas-berkasnya. Kalau begitu Vania pergi dulu ya bu."
"Tunggu dulu, Van. Kamu mau membawa Kiano juga?" Vania mengangguk.
Bu Wulan menggelengkan kepalanya, " Kasihan, nak. Kiano kan masih terlalu kecil untuk kamu bawa kemana-mana. Biar ibu ya menjaganya. Lagipula ibu ngak ada kerjaan dan Kiano bisa menjadi teman ibu dirumah. Ayo, sini...kamu juga kan bisa lebih leluasa tidak akan kerepotan dijalan. Cuacanya pun begitu panas.Gimana?" Bu Wulan menawarkan diri untuk menjaga Kiano.
Setelah berpikir sejenak, benar juga apa yang dikatakan oleh bu Wulan. Akhirnya Vania pun menyetujui usul bu Wulan dan menitipkan Kiano pada wanita itu.
__ADS_1
"Tapi, bu. Nanyi kalau Kiano haus gimana. Sedangkan saya belum memompa asi nya."
"Jangan khawatir. untuk hari ini saja akan ibu buatkan susu formula. kalau kamu memompa asi lebih dulu nanti kamu bisa kesiangan."
Vania mengangguk setuju. "Baiklah bu, kalau begitu saya berangkat sekarang saja. Saya titip Kiano, terima kasih ya bu. Semoga sukses ya Vania dan diterima."
"Aamiin.Iya, sama-sama. Ibu malah senang kok jadi punya teman ngak kesepian lagi." Setelah berpamitan dan tak lupa mencium telapak tangan bu Wulan Vania segera melangkahkan kakinya dengan penuh semangat.
Lawrence group
Vania melangkahkah kakinya memasuki sebuah gedung pencakar langit yang begitu megah. Sesampainya di lobby gedung ia menuju ke bagian recepsionist dan bertanya soal interview pekerjaan.
"Maaf, bu.saya ada undangan interview dari perusahaanini. Boleh saya bertanya dilantai berapa ya tempat dilaksanakan interview nya.
"Memang mbak nya,melamar di bagian apa?"Sang recepsionis bertanya dengan nada meremehkan.
"Bagian petugas Cleaning Service."
"O... Sesi wawancara ada di lantai 3, silahkan mbak nya naik lift di bagian sebelah kanan ya!"
Vania mengangguk dan tak lupa mengucaokan terima kasih."Oke, Vania...semangat. Bismillah."
"Sebelah kanan ya?benar kan tadi kata mbaknya lift sebelah kanan." Vania agak lupa, saking fokus dengan interview nya.
Ting
BRUKK
"Akhh–maaf maaf, Pak. Saya tidak sengaja."
"Hey, siapa kamu.Kenapa kamu naik di lift ini?"
"Aduh–mati aku, ternyata aku salah masuk lift." Rutuknya dalam hati, ketika sadar jika dia.telah salah memasuki lift. Ia baru saja menabrak seseorang yang dilihat dari penampilannya sepertinya bukanlah orang sembarangan.
__ADS_1
Bersambung