
Bi Arum mematung terlalu syok mendengar pertanyaan dari putrinya. Dari mana Shinta tahu tentang hal itu? Bi Arum benar-benar tak menyangka jika, akhirnya Shinta tahu kebenarannya akan tetapi yang menjadi pikiran bi Arum adalah dari mana atau siapa yang telah membocorkan rahasia keluarga Ghazala. Karena hanya anggota keluarga dan bi Arum saja yang mengetahui permasalahan tersebut.
"Shin, ayo ikut. Ibu ngak mau kalau mbakmu mendengar dia sedang hamil jadi, jangan sampai terjadi apa-apa dengan kandungannya."
Shinta tak berkata apapun, ia mengikuti bi Arum melangkah menuju ke kamar ibunya.
"Duduk dan dengarkan apa yang akan ibu ceritakan tapi, kamu jangan berkomentar apapun sebelum ibu selesai bicara. Satu lagi setelah kamu mengetahui semuanya ibu mohon kamu jangan menyalahkan mbakmu. Paham?"
"Iya bu, aku janji."
"Bagus, baiklah. Jadi, begini kejadian yang sebenarnya–." Bi Arum pun mulai menceritakan awal mula musibah yang menimpa Vania saat baru tiba di ibukota dan ternyata yang melakukan pemerkosaan itu adalah Liam. Sedangkan Wira sudah jatuh hati pada Vania namun, Wira belum tahu kalau Vania hamil dan Wira bersedia menikahi mbakmu. Tapi, mbakmu memilih pergi. Setelah sekian bulan barulah mbakmu diketemukan oleh tuan muda Liam dan dibawa pulang lalu, mereka pun dinikahkan hingga nak Wira yang patah hati memutuskan pergi ke luar negeri dan tinggal di sana selama hampir satu tahun. Begitulah ceritanya."
Shinta tercengang mendengar kisah Vania yang penuh penderitaan. Ia sampai tak bisa berkata apapun. Ia tak menyangka kebahagiaan sang kakak tidak semudah dan selancar yang ia kira. Sungguh berat kehidupan yang dijalani Vania diwaktu yang lalu Jadi, tidak sepantasnya jika ia membenci sang kakak hanya karena Wira masih memiliki rasa pada Vania. "Hh...kasihan mbak Vania ya, bu. Tapi, syukurlah sekarang mbak Van sudah bahagia. Dan soal Mas Wira, jika memang dia tidak bisa mencintai dan menerimaku sebagai pasangan hidupnya. Maka, aku akan menyerah saja, bu." Shinta tertunduk lesu.
"Kamu kenapa jadi putus asa seperti ini? Percayalah suatu saat nanti nak Wira pasti akan mencintaimu.Jangan menyerah, nduk!" Bi Arum mengerti apa yang kini tengah dirasakan oleh putrinya itu. Ia juga sangat kasihan dengan nasib Shinta. Tapi, mau bagaimana lagi itu sudah menjadi suratan takdir yang harus Shinta jalani dengan lapang dada dan penuh kesabaran.
Shinta mendongak dan menatap sang bunda dan tersenyum."Iya bu. Aku akan sabar menunggu sampai mas Wira bisa menerima Shinta. Kalau begitu Shinta pamit pulang ya bu. Mas Wira sebentar lagi pulang kerja."
"Iya, ngak enak kalau suamimu pulang kamu ngak ada dirumah."
Setelah berpamitan pada sang bunda, Shinta pun bergegas pulang. Shinta pulang dengan menaiki ojek online. Sepanjang perjalanan ia terus berpikir apa yang akan ia lakukan kedepannya jika, Wira tak bisa mencintainya.Rasanya sangat sakit mengingat perkataan Wira pada kakaknya tempo hari.
"Neng, kita sudah sampai!" Pengemudi ojek online menegur Shinta yang sedang melamun.
"Eh, iya pak. Sudah sampai ya." Shinta pun segera turun lalu, membayar ongkos ojeknya setelah itu ia bergegas masuk ke gedung apartemen.
Ketika masuk kedalam unit apartemen milik Wira, Shinta terlonjak kaget karena ternyata Wira sudah pulang dan kini sedang duduk disofa sambil menonton televisi. Shinta jadi tak enak hati karena telat pulang malah justru suaminya yang telah berada dirumah lebih dulu.
"Kamu dari mana saja jam segini baru pulang?" Wira langsung memberondong pertanyaan ketika melihat Shinta baru kembali diwaktu menjelang petang.
Shinta tertunduk takut kalau Wira akan memarahinya karena berbuat seenaknya sendiri padahal ia sekarang sudah menjadi seorang istri. "Ma–af, tadi sepulang kuliah mampir kerumah mbak Vania sekalian mau bertemu ibu." Shinta masih tidak berani menatap Wira.
__ADS_1
"Oh, lain kali kalau mau main kesana atau pergi kemana pun tolong bilang sama suamimu ini. Mengerti? Karena kamu sekarang adalah tanggung jawabku."
"Baik, Tu–Mas. Kalau begitu saya permisi mau kekamar dulu." Shinta sangat malu karena sikapnya tidak mencerminkan sebagai seorang istri yang baik.Benar apa kata suaminya itu jika, dia harus meminta izin dahulu sebelum melakukan sesuatu atau ingin pergi kesuatu tempat. Wira diam saja tanpa menanggapi ucapan Shinta.
Usai mandi dan berganti pakaian, Shinta bergegas keluar kamar lalu menuju ke dapur ingin memasak untuk makan malam. Namun, langkahnya terhenti ketika Wira memanggilnya. Tampak suaminya itu sedang mengeluarkan beberapa box dari dalam paper bag lalu, meletakkannya di atas meja makan.
"Shinta.malam ini kamu tidak usah masak. Ini aku sudah memesan makanan."
Shinta mengangguk lalu, tetap melangkah menuju keraha dapur tetapi bukan ingin masak melainkan mau mengambil piring dan sendok.Setelah memindahkan makanan kedalam wadah piring dan menuangkan air putih kedalam dua gelas lalu, mereka pun mulai menikmati makan malam dan untuk pertama kalinya bukan Shinta yang memasak.
Mereka makan dengan hikmat tanpa saling bicara.Setelah selesai Wira langsung beranjak masuk kedalam kamar sedangkan Shinta membereskan bekas makan mereka. Shinta sengaja berlama-lama di dapur hanya ingin menghindari Wira. Entahlah, ia masih merasa sedikit kecewa dan juga sedih. Jika, memang Wira tidak menyukainya apa lagi ada rasa terhadap dirinya lalu, mengapa Wira terus menyentuhnya.
Atau Shinta hanya dijadikan tempat pelarian dan pelampiasan hasrat kelelakiannya saja. Bagaimanapun Wira adalah pria dewasa yang memiliki kebutuhan biologis yang harus disalurkan dan Shintalah tempat yang tepat untuk itu. Kini Shinta sudah pasrah akan keadaan dan berdamai dengan masa lalu.
"Hhh–aku harus kuat jangan sampai membuat ibu bersedih." Shinta mendesah dan memberikan kekuatan untuk dirinya sendiri. Ia masih duduk di meja makan sambil melamun Hingga suara deheman Wira membuyarkan lamunannya bahkan ia sampai terjingkat kaget.
"Ekhemm–."
"Ah, Ma–mas Wira. Anda belum tidur?" Dengan gugup ia bertanya tak menyangka jika, laki-laki itu ternyata masih terjaga padahal waktu telah menjnjukkan pukul 20.00 WIB.
"Kenapa malah diam saja? Aku sedang bertanya padamu, Shinta." Tanya Wira lagi, ia mulai kesal dengan sikap Shinta yang tak mengindahkannya.
Mendengar nada suara suaminya yang mulai kesal, Shinta pun mendongak dan menjawab pertanyaan dari Wira. "Tidak ada apa-apa kok, Mas. Saya hanya sedang memikirkan tugas kuliah. Itu saja."
"Begitu. Ayo, cepat masuk aku sudah mengantuk!" Wira mengangguk lalu, berbalik badan melangkah masuk kekamar mereka.
Shinta mengelus dadanya merasa lega karena Wira percYa dengan alasan yang diberikannya. "Fiuh....syukurlah dia mempercayainya. Aku harus segera masuk ini sebelum si singa galak itu mengaum kembali. Bisa langsung diterkam nanti dirinya. Dengan langkah cepat Shinta pun bergegas menyusul sang suami untuk tidur karena sudah larut malam juga.
Krieett
Shinta menghela nafas panjang karena Wira sudah tertidur . Akhirnya malam ini Shinta bisa beristirahat dengan tenang tanpa gangguan dari si singa lapar. Perlahan ia merangkak naik keatas tempat tidur, merebahkan diri disebelah sang suami lalu memunggunginya. Tiba-tiba Wira berbalik badan kearahnya lalu, langsung memeluknya dari belakang. Shinta menahan nafas, ia takut Wira akan kembali meminta jatahnya.
__ADS_1
"Kenapa memunggungiku, hemm? Berbalik kesini....aku tidak suka!" Wira menarik lengan Shinta hingga kini mereka saling berhadapan. Manik mata keduanya saling beradu pandang, tak tahan di tatap begitu dalam oleh sang suami Shinta pun mengalihkan pandangannya kedada Wira dan hal itu justru malah membuat Shinta semakin gugup. Ia menelan salivanya dengan susah payah pasalnya ia baru menyadari tubuh bagian atas Wira polos sudah tidak memakai kaos nya lagi.
GLEK
"Kapan dia melepas kaosnya? Perasaan tadi pas aku masuk dia masih mengenakannya. Perasaanku kok jadi tidak enak ini?" Batin Shinta merasa akan ada yang terjadi , si singa tampaknya sudah mulai lapar lagi.
"Sayang, Mas kangen. Boleh ya minta lagi?" Sorot mata Wira sudah tampak berkabut menahan gairah yang menuntut untuk segera dituntaskan.
Shinta tak bisa berkata apa-apa lagi, benar saja dugaannya suami mesumnya itu pasti meminta jatah rutinnya lagi. Rutin setiap hari? Maklum Wira sedang dalam mode candu dengan tubuh Shinta yang sangat menggairahkan bagi seorang Wira yang ternyata diam-diam menghanyutkan. Shinta menjawab hanya dengan anggukan kepala dan senyum pun merekah diwajah tampan Wira. Tanpa permisi Wira pun langsung melancarkan serangannya dan terjadilah pergulatan panas antara kedua pasangan suami istri baru tersebut.
Waktu terus bergulir. Hari demi hari, minggu ke minggu dan hingga kini sudah sebulan lebih Wira dan Shinta menjalank mahligai pernikahan yang berjalan lancar jaya. Hanya saja Wira masih tetap bersikap biasa saja bahkan belum berubah kadang dingin dan suatu waktu menghangat bahkan terasa panas. Kopi kali ya si Wira?
Dan Shinta tak begitu mempermasalahkannya karena ia sudah menanamkan dalam hatinya jika, ia percaya suatu hari nanti Wira pasti akan mencintainya.
"Shin, kamu tumben ngak diantar suami hot mu? Kalian baik-baik saja kan, gimana....apa calon keponakanku sudah jadi?soalnya aku lihat setiap hari kamu terlihat lemas pasti setiap malam di ajak bertempur terus-terusan ya?" Shinta baru saja tiba didepan gerbang kampus dan sudah di hadang oleh Tari lalu, langsung di berondong dengan berbagai pertanyaan.
"Sssutt–Tari, kamu ini ngomong apaan sih? Malu tahu kalau ada yang dengar. Ayo, kita masuk kedalam. Kamu ini bikin malu saja ih." Shinta langsung menggeret Tari memasuki gedung kampus. Ia heran kenapa sahabatnya itu sekarang jadi kepo sekali selalu saja bertanya soal itu. Walau pun mereka bersahabat tapi, tetap saja tabu jika, menceritakan urusan dunia peranjangan dan lagi si Tari kan masih gadis apa dia tidak mau menanyakan soal begituan? dasar Tari.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Shinta dan Tari berjalan menuju ke kantin. Rasanya cacing-cacing didalam perut mereka sudah berdemo meminta jatah makannya. Keduanya sudah duduk manis sambil menunggu pesanan mereka. Shinta kepingin sekali makan bakso mercon. Sejak kemarin ia begitu meninginkannya.
"Woww–Shinta. Apa perutmu nanti ngak kebakar tuh. Ya ampun....merah merekah sambalnya. Hati-hati loh Shkn. Kira-kira pake sambalnya." Tari bergidik ngeri melihat kuah bakso yang ada di mangkuk Shinta yang super kental. Apa cacing-cacing di perut Shinta ngak kelojotan? Tari hanya geleng-geleng kepala sambil menelan ludahnya tak percaya dengan kebiasaan baru Shinta yang satu itu.
Usai makan siang mereka pun beranjak ingin langsung pulang saja karena Tari melihat wajah Shinta yang tampak pucat. "Shin, kamu langsung aku antar pulang saja ya. Itu wajahmu pucat banget."
"Iya Tar, makasih ya." Tiba-tiba Shinta memegang perutnya dan memekik karena merasakan sakit di bagian perutnya.
"Aakhh–Shhh....Tari, perutku sakit sekali."
"Shinta, kamu kenapa? tuh kan apa kubilang tadi. Kamu itu kebanyakan makan sambalnya. Masih kuat jalan ngak? Aku telepon suamimu ya minta dijemput?"
" Enggak usah Tar. Mas Wira pasti sedang sibuk bekerja. Ayo, tolong antarkan aku pulang saja." Shinta melangkah tertatih-tatih sambil menekan perutnya yang semakin terasa sakit. Tari menahan tubuh Shinta yang tiba-tiba ambruk dan ternyata Shinta jatuh pingsan.
__ADS_1
"Shinta kamu kenapa?"
Bersambung