Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
89. Kembalinya ingatan Shinta


__ADS_3

Perlahan kedua kelopak mata Shinta membuka sempurna. Mata bulatnya mengerjap beberapa kali lalu, mengerdarkan pandangannya kesekelilingnya, hingga manik matanya menangkap sosok pria yang sedang berdiri tepat di samping tempat tidurnya.


"Sayang, akhirnya kamu sadar juga. Mas sangat merindukanmu dan juga baby Aaron, putra kita." Kenudian Wira duduk di tepi tempat tidur lalu, mengelus lembut wajah Shinta.


"Baby Aaron? Putra kita? Memangnya kapan aku melahirkannya. Eh, aku kan masih kuliah. Ibu....dimana ibuku?" Shinta tampak kebingungan dan tak mengenali Wira sebagai suaminya.


'Hukuman apalagi ini ya tuhan. Shinta bahkan sama sekali tak mengenaliku sebagai suaminya dan dia hanya mengingat jika, dirinya saat masih gadis.' Tubuh Wira lemas seketika menyadari Shinta yang hilang ingatan.


"Ibu–dimana ibu saya, Tuan Muda Wira dan kenapa saya bisa berada disini?" Lagi....yang di carinya hanyalah bi Arum.


Beberapa saat kemudian datang dokter dan dua orang perawat. dokter itu pun lansung memeriksa keadaan Shinta." Bagaimana bu Shinta, apa ada keluhan?"


Shinta menggeleng, "Tidak dok, saya merasa baik-baik saja. Memangnya apa yang terjadi pada saya?" Tanya Shinta yang masih bingung tentang keberadaannya di rumah sakit.


"Ibu Shinta sebulan yang lalu mengalami kecelakaan dan alhamdulillah ibu dan bayi ibu dapat terselamatkan. Bu Shinta mengalami koma selama hampir satu bulan lebih dan alhamdulillah sekarang bu Shinta sudah sadarkan diri. Semoga lekas pulih ya, bu"


"Dan untuk keluarga agar terus membantu agar ingatan bu Shinta bisa lekas kembali."


"Baik, dokter." Mama Helen yang menjawabnya.


Usai melakukan pemeriksaan pada Shinta, dokter pun pamit undur diri. Tak berapa lama muncul Mama Helen dan anggota keluarga lainnya. Ada Papa Bisma, Liam dan bi Arum. Mereka semua ikut merasa bahagia karena Shinta akhirnya tersadar dari koma nya. Namun, ketika mengetahui jika separuh ingatan Shinta yang hilang membuat semunya turut prihatin dan merasa iba pada Wira.


"Yang sabar ya, Wir. Suatu hari nanti ingatan Shinta pasti akan kembali." Liam menepuk bahu Wira, memberi kekuatan pada sang adik.


"Iya kak."


Dengan kembalinya Shinta dari koma-nya. Membuka secercah harapan dan semua anggota keluarga akan membantu untuk mengembalikan ingatan Shinta.


Lalu, bagaimana dengan Regina? Nasib wanita cantik nan licik itu berada di tangan Papa Bisma dan Liam. Keluarha Ghazala begitu kecewa dengan kelakuan Regina yang notabenenya adalah anak dari teman dekat Papa Bisma. Mereka tak menyangka Regina yang mereka kenal sejak beranjak remaja itu, tega melakukan perbuatan jahat seperti itu. Akhirnya Papa Bisma mau tidak mau harus mengadukan kelakuan Regina pada kedua orang tuanya yang menetap di London. Dan betapa terkejutnya mereka ketika mengetahuinya langsung dari Papa Bisma.


Akhirnya kedua orang tua Regina memutuskan akan menjemput langsung putri mereka yang telah mencoreng nama baik keluarga dan juga membuat hubungan diantara dua keluarga menjadi tidak nyaman. "Baiklah, kami akan datang ke Indonesia dan akan membawanya kembali ke London. Bisma, sekali lagi kamu memohon maaf atas perbuatan yang tidak menyenangkan yang dilakukan oleh putri kami terhadap Wira dan istrinya."


"Sudahlah, Hen. Kami sudah memaafkannya dan aku harap Regina tidak akan berbuat hal itu lagi. Wira hampir saja kehilangan istri dan anaknya begitupun dengan kami. Baiklah, kami tunggu kedatangan kalian." Papa Bisma masih menimbang hubungan baik pertemanan mereka.


Seminggu sudah Shinta telah kembali ke apartemen. Sebenarnya Mama Helen menyarankan agar Shinta dan baby Aaron agar tinggal di rumah utama Ghazala namun, Wira dengan tegas menolaknya. Wira beralasan dengan tinggal di apartemen maka, Shinta akan dapat mengingat masa lalunya. Terutama hubungan pernikahan mereka. Wira berharap Shinta mengingatnya dan juga baby Aaron buah hati mereka.


Saat ini Shinta sedang duduk ditepi tempat tidur sambil memangku Aaron. Tampak bibir mungil Aaron bergerak-gerak seperti mencari sumber makanannya. Shinta yang tak mengerti hanya menatap bingung bayi mungil yang mulai merengek dan putus asa karena tidak mendapatkan asupan asi dari ibunya.

__ADS_1


Wira yang sejak benerapa saat lalu terus memperhatikan Shinta yang mungkin masih belum mengerti apa yang harus dilakukannya sebagai seorang ibu baru. Wira pun menghampiri istri dan anaknya lalu, dengan lelaten dan penuh kelembutan membimbing Shinta agar menyusui bayi mereka. "Sepertinya putra kita lapar, ayo susui lah! lihatlah bibir mungilnya yang sudah tak sabar itu."


Baru saja Wira mau membuka kancing baju Shinta, dengan cepat Shinta langsung menahan tangan Wira. "Tu–tuan mau apa? Biar saya saja, Maaf, saya malu." Ia malu aset pribadinya itu dilihat oleh Wira dan juga ia merasa asing karena ia belum mengjngat suaminya itu.


Gerakan refleks Shinta yang menahan tangannya tentu saja membuat Wira jadi salah tingkah. Ia lupa jika, Shinta masih mengalami amnesia. "Oh, iya....maaf. Taoi, kamu bisa kan melakukannya sendiri. Atau mau Mas panggilkan ibu kesini untuk membantumu."


Shinta menggelengkan kepalanya." Tidak perlu, saya bisa melakukannya sendiri. Terima kasih." Kemudian ia mulai membuka satu persatu kancing bajunya dan gerakan tangannya terhenti ketika akan membuka penutup dadanya "Maaf, apa tuan bisa keluar dulu. Saya mau menyusuinya."


"Oh iya, tentu saja bisa. Kalau begitu Mas keluar ya. Nanti kalau sudah selesai dan membutuhkan bantuan panggil Mas saja ya." Setelah itu Wira pun melangkah keluar kamar.


"Hai baby boy, haus sekali ya anak mama? Mimiknya pelan-pelan, sayang...ngak ada yang akan minta,kok. ganteng banget sih kamu seperti papamu." Shinta begitu gemas dengan baby Aaron yang sedang menyusu dengan rakusnya seakan tak ingin makanannya di rebut oleh orang lain.


Pagi-pagi sekali Shinta telah bangun dan beranjak menuju ke dapur untuk memasak sarapan pagi kebiasaan yang ia biasa lakukan rutinitas setiap harinya ternyata tak menghilang dari ingatannya. Mungkin juga ingatannya yang sekarang karena ia hanya sebagai seorang anak seorang pembantu yang telah terbiasa melakukannya.


Setengah jam kemudian Shinta telah menyelesaikan masakannya.Setelah itu ia menata hidangan sederhana tersebut diatas meja makan.


"Ekhem– pagi sekali kamu sudah bangun. Apakah tidurmu tidak nyenyak atau ada yang masih mengganggu pikiranmu?" Wira pun seperti biasa telah bangun dan langsung menuju keruang makan ketika mencium aroma masakan yang menggugah selera. Sebab, selama hampir dua bulan ini Wira tidak merasakan masakan istrinya.


Shinta mengeryitkan keningnya, ia merasa apa yang dilakukannya adalah sesuatu hal yang sudah terbiasa ia kerjakan di setiap paginya. "Bukankah ini memang sudah tugas saya ya? Apa Tuan membutuhkan sesuatu?"


"I–iya juga sih, kamu memang sudah terbiasa melakukannya. Emm.... Shin, apa bisa kamu jangan memanggilku Tuan lagi. Kita ini sudah menjadi suami istri dan seperti biasa kamu memanggilku Mas, oke."


Oek oeek ooekk


Terdengan tangisan baby Aaron yang terbangun, gegas Shinta menuju ke kamar. "Mas Wira makan duluan saja."


"Tidak, Mas akan menunggumu. Kita sarapan bersama." Wira malah mengikuti Shinta masuk kedalam kamar."


"Loh Mas, ngapain malah ngikutin saya?" Shinta menoleh kebelakang karena sadar Wira mengikutinya.


"Iya, barangkali saja nanti kamu membutuhkan bantuan Mas."


Shinta tak menjawab, ia membiarkan saja Wira yang kini sudah duduk manis di tepi tempat tidur sambil memperhatikan sang istri yang begitu telaten mengurus baby Aaron. Usai diberi asi bayi itu pun terlelap kembali.Shinta buru-buru menutup kancing bajunya karena ia tahu sejak tadi Wira memperhatikan bagian itu.


"Mas, Aaron sudah tidur. Sekarang kita bisa sarapan. Ayo–!"


Wira yang masih melanglang buana dengan khayalannya tereentak kaget mendengar suara Shinta yang memanggilnya."Eh....i–iya, ayo." ia jadi salah tingkah karena sempat berpikiran mesum akibat melihat mainan favoritnya yang sekarang telah beralih menjadi hak milik baby boy nya.

__ADS_1


Hari demi hari dan kini waktu telah berlalu begitu cepat. Tepat enam bulan umur Aaron buah hati Wira dengan Shinta dan kini telah tumbuh menjadi balita yang montok dan menggemaskan. Celotehan lucu dari bibir mungilnya membuat semua yang melihat dan mendengarnya pasti akan geregetan tak tahan ingin mencium pipi chubby balita berparas tampan photo copy-an papa Wira.


Dan yang lebih menggembirakan lagi adalah ingatan Shinta yang sedikit demi sedikit mulai kembali. Seperti saat ini ia sudah mengingat pernikahannya dengan Wira dan juga. Namun, Shinta masih belum sepenuhnya mengingat saat kejadian kecelakaan hari itu.


"Mas, maaf kan saya ya yang baru bisa mengingat pernikahan kita." Saat ini Wira dan Shinta sedang bersiap untuk tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Setelah menidurkan Aaron di dalam ranjang box tidurnya. Shinta merangkak naik keatas tempat tidur menyusul Wira yang sekarang sedang bersandar di kepala ranjang. Shinta pun mengambil posisi disebelah sang suami.


"Tidak apa-apa, sayang. Seharusnya Mas malah bersyukur karena akhirnya kamu dapat kembali mengingat pernikahan kita." Wira merangkul bahu Shinta lalu, mendaratkan kecupan hangat di kening istrinya.


"Oh ya, Mas. Ee....Tari sama kak Anton katanya mau datang ke sini. Boleh kan? Katanya ada hal penting yang ingin mereka sampaikan kepada saya."


DEG


Seketika degup jantung Wira berdetak cepat. Ia takut Tari akan menceritakan tentang kejadian waktu itu. Tapi, jika ia melarang Tari atau pun Anton datang tentu saja akan membuat Shinta menaruh curiga. 'Bagaimana ini ya, apa yang ingin mereka sampaikan pada Shinta? Semoga saja mereka tidak melakukannya. Bisa-bisa Shinta akan bersedih lagi dan hubungan mereka pun akan kembaki tidak baik-baik saja.


Karena tak ada pilihan lain, akhirnya Wira pun memberi izin Tari dan Anton datang ke apartemen mereka. "Baiklah, Tari adalah sahabatmu sedangkan Anton juga sahabatnya Mas. So.....tentu saja kapanpun mereka bisa datang berkunjung kesini."


Wajah Shinta seketika berbinar ceria. Sudah lama sekali ia tidak berjumpa dengan sang sahabat. "Terina Kasih ya, Mas."


⁰iya sayang, apapun keinginnanmu pasti akan Mas kabulkan."


menjelang sore Tari dan Anton benar-benar datang berkunjung ke apartemen Wira dan Shinta. Shinta tampak bahagia dengan kedatangan sang sahabat. Ia sangat merindukan teman tetbaiknya itu. "Hai mamud, makin cantik aja nih." Kedua wanita muda itu saling berpelukan dan bercipika cipiki.


"Ah, kamu bisa aja sih Tar."


"Beneran loh Shin, kamu sekarang semakin cantik dan berisi....pasti Pak Wira tambah kepincut deh. Aku senang akhirnya dapat melihat sahabat yang sangat aku sayangi sekarang bahagia. Apa kubilang kan, Shin. Suatu hari nanti Pak Wira pasti akan benar-benar jatuh cinta sama kamu dan sekarang telah terbukti, bukan. Semoga rumah tangga kalian selalu dilimpahkan kebahagiaan."


Shinta terdiam, mencerna apa maksud dari perkataan Tari. 'Mas Wira jatuh cinta sama aku, sekarang? Lalu, apakah Mas Wira tidak oh, belum mencintaiku?' Shinta bermonolog sendiri didalam hati.


"Tari, em....boleh tidak aku bertanya sesuatu tentang kejadian kecelakaan waktu itu? Memangnya apa yang sebenarnya telah terjadi pada diriku? Apa itu ada hubungannya dengan Mas Wira?" Akhirnya Shinta mengutarakan rasa penasarannya, karena hanya kejadian waktu itu yang belum diingatnya.


Tari jadi bingung harus menjawab apa, begitupun dengan Anton. Kekasih Tari itu memberikan kode lewat tatapan mata agar Tari tidak menceritakannya. Biar itu menjadi urusan rumah tangga Wira dan Shinta. Ya, Anton dan Tari akhirnya jadian sudah sejak dua bulan yang lalu.


"Ee....gimana ya Shin? aku kan tidak berhak menceritakannya. Lebih baik kamu tanyakan langsung saja sama Pak Wira."


"Apa ada sesuatu yang terjadi didalam rumah tangga kami?"


"I‐itu–?"

__ADS_1


"Tidak ada yang terjadi! kalian datang?"


Bersambung


__ADS_2