
Kerlap kerlip lampu dan suara yang memekakkan telinga sungguh membuat Shinta tak merasa nyaman. Ia memang hanyalah gadis biasa yang berasal dari desa dan tidak pernah mengenal yang namanya tempat dan pergaulan semacam ini. "Tari, kita pulang saja yuk." Shinta berteriak agak keras pada temannya karena suara yang terlalu bising.
"APA? Pulang...sebentar lagi lah Shin. Tunggu dulu, katanya bakal ada acara spesial." Jawab Tari yang juga bicara sambil berteriak-teriak.
"Kalau begitu aku pulang duluan saja ya, kalau kamu masih mau disini sih ngak apa-apa."
"Enggak-enggak, kamu kan berangkat bareng aku dan pulangnya mesti sama aku juga lah. Tunggu sebentar aku mau ke toilet dulu!"
Shinta pun mengangguk lalu, kembali duduk sambil memperhatikan orang-orang disekitarnya yang berlalu lalang. "Maaf nona, apa anda mau minum? Silahkan!" Tiba-tiba seorang pramusaji yang membawa sebuah baki yang diatasnya terdapat beberapa gelas minuman. Shinta merasa ragu untuk mengambilnya. Ia takut jika minuman itu mengandung alkohol.
Namun, pelayan itu tetap memaksa agar Shinta mengambilnya.dengan tidak beranjak dari sana. "Silahkan nona, semua miniman ini tidak ada kandungan alkoholnya jadi anda tidak perlu takut ini hanya minuman juice biasa. Silahkan!"
Merasa tidak enak karena sudah ditawari dengan sopan, akhirnya Shinta pun mengambil satu gelas orange juice. "Terima kasih." Dan Shinta langsung meminumnya hingga tandas karena sejak tadi tenggorogannya memang terasa kering.
"Tari kemana sih, lama sekali, apa aku susul aja ya." Shinta celingak-celinguk mencari sahabatnya yang belum juga muncul dan Shinta pun memutuskan akan menyusul Tari ke toilet. Langkah Shinta terhenti di sebuah lorong yang menuju kearah toilet, tiba-tiba kepalanya terasa.pening dan pandangannya agak kabur bahkan sekelilingnya serasa berputar. "Aduh...kok kepalaku pusing sekali ya?"
Shinta memaksakan langkah kakinya yang semakin terasa ringan badannya pun seperti melayang dan seketika tubuh Shinta pun ambruk di tempat yang lumayan sepi.
BRUKK
Seorang laki-laki mendekat lalu, langsung membopong tubuh tak berdaya Shinta setelah sebelumnya ia menghubungi seseorang. " Bos, dia sudah tumbang."
__ADS_1
"Langsung bawa kekamar, sebentar lagi gue akan kesana!" Seringai licik muncul diwajah tampan laki-laki tersebut yang ternyata adalah Rendy. Jadi, Shinta telah masuk kedalam jebakannya dan sebentar lagi Rendy akan menghancurkan gadis itu.
Di sisi lain, Wira tampak gelisah. Ia terngiang pesan dari sang mama yang meminta tolong untuk mengawasi Shinta. "ck...nyusahin aja sih, kayak anak kecil aja pake diawasin memangnya dia siapa. Hanya seorang art saja."
"Hei, Wir. Aku lihatin dari dari kayak gelisah gitu. Ada apa bro, cerita dong ke kita-kita barang kali bisa memberikan solusi dari permasalahan lo itu."
Salah satu teman Wira yang bernama Irfan menegurnya karena sejak tadi tingkah Wira yang aneh seperti orang yang temgah gundah mencemaskan sesuatu.
"Ah, ngak ada apa-apa kok. Cuma aku ada urusan lain. Aku balik duluan ya kapan-kapan kita kumpul bareng lagi. Bye–." Tanpa persetujuan dari teman-temannya, Wira pun langsung beranjak pergi begitu saja bahkan mereka hanya menatap kepergian Wira dengan penuh tanda tanya.
"Si Wira kenapa ya, apa ada sesuatu yang telah terjadi?"
"Dahlah Fan, biarin aja bukan urusan kita. Nanti juga kalau seandainya dia membutuhkan bantuan pasti Wira akan menghubungi kiita." Jawab Gunadi, temannya yang lain.
Ting
Sesampainya dilantai satu Wira pun melangkahkan kakinya menuju ke ruangan tersebut. Namun, belum juga sampai tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki yang sedang menggendong seorang wanita dan betapa terkejutnya Wira ketika mengenali siapa sosok wanita itu. "Itu bukannya si Shinta ya? Aku enggak salah lihat deh kayaknya."
Wira segera membuntuti laki-laki itu dan penasaran akan dibawa kemana gadis yang ia yakini mirip dengan Shinta. "Mau di bawa kemana tu cewek, jangan-jangan mau diapa-apain lagi."
Terus melangkah hingga pria tersebut memasuki sebuah pintu kamar dengan masih menggendong gadis itu.Wira masih setia.menunggu beberapa saat kemudian laki-laki itu keluar kembali dan seperti sedang menghubungi seseorang. " Bos, si Shinta dah gue bawa kekamar. Cuss lah...siap.digarap."
__ADS_1
Wira terbelalak kaget begitu mendengar laki-laki itu menyebut nama Shinta pada gadis tadi. Kedua tangan Wira mengepal geram untung saja mamanya menyuruhnya untuk mencari dan mengawasi art nya tersebut. "S*** ternyata benar itu Shinta. Ini ngak bisa dibiarkan. Aku harus membawanya keluar dari tempat ini."
Ketika pria yang membawa Shinta itu pergi, perlahan Wira mulai mendekati pintu kamar itu dan mencoba membukanya, syukurlah ternyata laki-laki tadi agaknya lupa untuk mengunci pintunya. Wira pun segera masuk dan mengedarkan pandangannya kesekeliling kamar itu waspada jika ada orang selain Shinta. Ia bernafas lega ketika melihat Shinta yang tengah terlelap tepatnya masih pingsan diatas tempat tidur. Menghampirinya lalu berusaha membangunkan Shinta dengan menepuk-nepuk pipinya namun, sama sekali tak ada respon. Wira harus segera bertindak keburu laki-laki yang dipanggil bos itu datang. Tanpa.menunggu waktu lagi Wira langsung mengangkat tubuh Shinta dan beranjak pergi dari kamar itu.
"Ini bocil enteng banget kayak kapas, makan enggak sih ni anak?" Sempat-sempatnya Wira mengejek Shinta yang bahkan tak bisa mendengar apa yang diucapkan Wira.
Tak berapa lama setelah Wira pergi munculah Rendy dengan seringai liciknya. Ketika Rendy masuk dan tak menemukan keberadaan Shinta sontak amarahnya memuncak dan langsung menelpon orang suruhannya.tadi. "Woi...mana cewek itu, dia ngak ada dikamar ini. Sial, apa iya dia sudah sadarkan diri. Rasanya tak mungkin secepat itu atau jangan-jangan ada yang telah menolong Shinta dan membawanya pergi. Rendy sungguh kesal karena rencananya kali ini kembali gagal. "Gue ngak akan menyerah buat ngedapetin tu cewek tak tahu diri itu. Sialan–."
Shinta telah aman bersama dengan Wira. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang. Ketika di pemberhentian lampu merah Wira menoleh kearah samping tepat dimana Shinta duduk dengan mata yang masih terpejam. Sekilas Wira dapat melihat wajah ayu Shinta untuk pertama kalinya dengan jarak sedekat ini. "Ternyata cantik juga ni bocil." Tanpa sadar senyum pun terkembanh diwajah tampannya.
Namun, ia menggelengkan kepalanya ketika sadar akan apa yang di ucapkannya barusan. "Ya ampun, ngapain sih aku memuji-muji ni cewek.Ingat Wira dia ini masih bocah bau kencur." Si Wira bagaimana, umur 19 tahun kok dibilang bocah. Bocah yang sudah bisa bikin bocah kali Wir. Wira ini ada-ada saja.
Mobil Wira memasuki pintu gerbang dan berhenti di pelataran depan rumahnya. Karena Shinta belum sadar juga akhirnya Wira pun terpaksa.menggendongnya. Wira hendak membawa Shinta menuju kekamar para pelayan melewati samping rumah, ia tidak ingin membuat mama dan papa nya terbangun. Ia.berjalan mengendap-endap sepelan mungkin takut pelayan yang lain memergokinya yang tengah menggendong Shinta. Ia tidak ingin terjadi kesalah pahaman mengira dirinya telah berbuat sesuatu yang buruk pada Shinta.
Syukurlah kamar gadis itu tidak terkunci, ia pun segera merebahkan tubuh Shinta diatas tempat tidur yang berukuran sedang itu. Akhirnya Wira bisa bernafas lega, baru saja ia akan beranjak pergi tiba-tiba Shinta tersadar dan penglihatannya langsung tertuju pada Wira yang duduk di sisi tempat tidur tepat disebelahnya. Mata besar Shinta seketika membulat sempurna dan refleks langsung berteriak kencang sambil memukul-mukul Wira dengan menggunakan bantalnya..
"Aaaaaa–br******, laki-laki mesum mau apa kamu ya?" Sepertinya Shinta benaran telah salah paham.
Cetek
"Wira–Shinta, sedang apa kalian?"
__ADS_1
Bersambung