Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
15. Kembali bekerja


__ADS_3

Demi sang bibi maka, dengan berat hati terpaksa Vania menuruti keinginan Liam si Tuan Muda pemaksa itu. Setelah 1 jam 10 menit, akhirnya pesawat yang mereka tumoangi telah mendarat dengan selamat di bandara Halim Perdanakusuma Jakarta.


Mereka dijemput oleh seorang supir pribadi keluarga Ghazala.


"Ayo masuk, kenapa kamu malah bengong?" Liam menegur Vania yang masih berdiri mematung.Gadis itu bingung harus duduk dimana, sedangkan di kursi penumpang depan telah ditempati oleh Arman.


"Saya duduk dimana ya, Tuan Muda?"


"Itu duduk di pangku sama Arman atau supir. Ya duduk disini. Ayo cepat masuk, itu pak supir sudah capek memegangi pintunya!" Supir memang membukakan pintu untuk Liam dan Vania. Namun, gadis itu merasa tak pantas duduk berdampingan dengan sang Tuan Muda dan juga yang sebenarnya Vania juga malas berdekatan dengan laki-laki yang dibencinya itu.


Vania pun menghela nafas panjang lalu, segera masuk dan duduk di samping Liam yang masih fokus menatapnya.


"Kenapa wajahmu jelek begitu?"Sindir Liam karena sejak


"Wajah saya dari dulu memang begini Tuan Muda." Jawabnya dingin tanpa ekspresi, malas sekali ia meladeninya.


Setelah itu sepanjang perjalanan mereka saling diam tak ada interaksi lagi diantara keduanya. Hingga tiba di kediaman keluarga Ghazala.


"Vania–benarkah ini kamu, nak?" Bi Arum yang sedang berada di teras depan begitu terkejut melihat kemunculan sang keponakan yang sangat dirindukannya.


"Bi Arum–" Vania menatap sang bibi dengan mata yang berkaca-kaca.


Grepp


Keduanya pun saling berpelukan melepas rasa rindu. Berbulan-bulan lamanya Vania menghilang bak ditelan bumi. Bahkan orang-orang suruhan Nyonya Helen pun tak bisa mengendus keberadaan Vania.


"Maafkan Vania ya bi, yang sudah bikin susah."


"Tidak, sayang. Bibi yang minta maaf karena tak bisa menemani di saat kamu sedang dilanda kesusahan."


Liam tak ingin mengganggu acara temu kangen keduanya. Ia melangkah masuk kedalam tanpa berkata apapun. Sedangkan Arman sudah disuruh pulang oleh Liam.


Malam itu Vania tidur di kamar yang dulu ia tempati. Tak ada yang berubah sama sekali. Mungkin karena memang tidak ada yang menempati setelah ia pergi.


"Akhirnya kita kembali lagi kerumah ayahmu, nak. Oh, maksud bunda kita akhirnya bisa berkumpul kembali bersama nenek Arum. Dan bunda akan bekerja lebih keras lagi untuk masa depanmu nanti." Vania tengah duduk berselonjor di atas tempat tidurnya sambil mengelus perutnya dan mengajak bayi nya bicara.


Pagi hari telah menyingsing, usai menunaikan sholat subuh Vania bergegas ke dapur membantu bi Arum memasak untuk sarapan pagi.Vania masih mengingat apa-apa saja yang harus dikerjakannya.Ia akan kembali bekerja menjadi pembantu di rumah besar ini.


"Van, kalau kamu merasa capek istirahatlah. Biar bibi yang akan merampungkannya."


"Enggak kok, bi. Ini kan hanya rutinitas di pagi hari yang sudah biasa aku lakukan. Bahkan aku membuat dagangan dan mengantarkannya ke warung-warung."


Bi Arum menatap sendu keponakannya yang malang itu. Nasibnya sungguh kurang beruntung. Andai saja mengenal laki-laki yang menghamilinya tentu saja ia akan meminta orang itu untuk bertanggung jawab.


Namun, apalah daya itu merupakan hal yang mustahil. Bagaimana nasib anak yang dikandung Vania kelak ketika sudah besar nanti dan menanyakan tentang ayahnya. Bi Arum tak ingin memikirkannya tapi, suatu saat nanti hal itu pasti akan segera terjadi.


"Bi, bibi melamun ya? aku tahu apa yang sedang bibi pikirkan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku baik-baik saja kok, Bi. Aku sudah berdamai dengan masa lalu dan akan menyongsong masa depan bersama anakku kelak nanti. Insyaallah pasti akan selalu ada jalan." Vania tersenyum memperlihatkan pada sang bibi bahwa kini ia telah baik-baik saja.

__ADS_1


"Alhamdulillah ya nak, semoga kamu dan anakmu kelas akan mendapatkan kebagiaan."


"Aamiin. semoga ya, bi. Terimakasih karena bibi selalu mendukungku."


Nyonya Helen tentu saja menerima Vania kembali dan bahkan wanita paruh baya itu begitu bahagia akan kepulangan gadis itu.


Seluruh anggota keluarga Ghazala telah berkumpul dimeja makan dan menikmati sarapan pagi mereka. Liam dan Wira celingak celinguk seperti mencari sesuatu. Tepatnya mencari keberadaan Vania.


"Loh, Ma. Katanya Vania sudah kembali. Dimana dia?" Hanya Wira yang belum bertemu dengan Vania.


"Ada kok, paling ada di kamarnya. Mama bilang pada bi Arum jika Vania jangan bekerja terlalu berat. Kasihan sedang hamil besar."


Begitu ya. Lalu bagaimana kak Liam bisa menemukannya? Bagaimana kak?" Kali ini.ia beralih bertanya pada sang kakak.


"Ya begitulah. Aku dan Arman berremu dengannya secara tidak sengaja."


Wira mengangguk-angguk namun, ia masih penasaran kronologisnya bagaimana kakaknya itu sampai bertemu dengan Vania.


"Iya, maksudku kak...gimana caranya sampai kalian bisa membawanya kembali pulang." Tanyanya lagi karena masih merasa penasaran.


"Karena ini." Nyonya Helen mengambil seauatu dari dalam toples dan memperlihatkannya pada Wira.


Wira mengernyit penuh tanya. Apa maksudnya antara menemukan Vania dengan sebuah rempeyek bayam. " Maksud mama apa? Rempeyek–."


"He'em, cobalah...ini rasanya sangat enak, buatan Vania sendiri.Jadi, selama tinggal di Jogja Vania berjualan rempeyek bayam ini. Hebat, bukan gadis itu."


"Menyampaikan apa?" Celetuk Liam, tumben-tumbenan ia tertarik dengan urusan orang lain.


"Adalah kak, itu adalah rahasia....aku ngak akan bilang pada kalian dulu sebelum ada kepastiannya, oke." Wira menaikturunkan alisnya.


"Rahasia? oke–." Liam menatap jengah adiknya yang tampak mencurigakan. "Apakah ada sesuatu antara Wira dan gadis itu?"


Hingga menjelang tengah malam Vania dan sama sekali tak bisa tidur. Pertanyaan yanh diajukan Wira padanya membuatnya terus kepikiran. Saat ini ia berada di dapur ingin membuat teh hangat.


"Vania, apakah kamu mau menikah denganku? Dan aku akan menjadi ayah dari bayi yang kamu kandung. Aku akan menganggap bayi itu seperti anak kandungku sendiri . Mau ya?"


"Ah, kenapa sih jadi seperti ini? Mana aku berani menerimanya. Dia adalah majikanku dan itu sangat mustahil akan terjadi.Bagaimana ini, apakah aku harus menceritakannya pada bi Arum?"


"Akh–kepalaku jadi pusing."


"Apakah kau sedang sakit? Pusing kenapa?"


Vania terjingkat kaget mendengar suara seseorang yang tiba-tiba menegurnya. Dan, ternyata adalah Liam. Kepalanya jadi bertambah senat senut.


"Tidak ada apa-apa Tuan Muda.Kenapa anda terbangun, apakah ada sesuatu yang Tuan inginkan?" Vania mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Iya, ada. Aku ingin bicara padamu. Ada yang ingin aku tanyakan."

__ADS_1


DEG


"Ada apa lagi ini ya tuhan? Belum juga selesai urusanku dengan Tuan Muda Wira. Ini datang lagi masalah baru, bikin tambah mumet kepalaku."


Liam mengajak Vania ketaman belakang rumah, tepatnya di sebuah gazebo. Vania pun mengikuti langkah Tuan Mudanya itu, hatinya semakin tak tenang. Ebtah apa lagi yang diinginkan Liam.


"Begini.Apakah kau sudah berbicara pada Wira?"


Vania mengangguk "Iya, Tuan. Tadi sore."


"Apa yang dia bicarakan? Apakah dia mengatakan sesuatu atau bertanya macam-macam soal kehamilanmu, misalnya tentang ayah dari bayi itu?"


Rentetan pertanyaan dari Liam seakan menyudutkannya.Vania bingung bahaimana harus menjawab. Apakah lebih baik ia jujur saja.


"Tuan Muda Wira ingin menikahi saya dan bersedia menjadi ayah dari bayi ini." Mengelus perut buncitnya. Dada Vania berdebar-debar ketika mengatakannya.


Sorot mata Liam menatap Vania tajam. Liam seakan tak percaya bahwa adiknya akan berbuat sejauh itu. Sedangkan dirinya sudah mulai berpikir akan hubungannya dengan Vania. Terutama mengenai bayi yang masih ada didalam rahim gadis itu. Liam yakin jika bayi itu adalah miliknya.


"Jadi dia melamarmu?Lalu, apa jawabanmu?"


"E–saya belum menjawab dan mana saya berani menerima ajakan tersebut. Saya sadar diri Tuan, jika saya hanyalah seorang pembantu yang hina dan tak pantas bersanding dengan Tuan Muda Wira yang terhormat."


"Jadi, kau akan menolaknya?"


Vania mengangguk, wajahnya tertunduk menahan derai air mata yang akan segera terjatuh. Ia yakin kalau Liam pasti akan menghinanya lagi.


"Baguslah kalau kau sadar diri.Sudah, itu saja yang ingin aku bicarakan. Sebaiknya kau kembali tidur, tidak baik wanita hamil begadang!"


Setelah kepergian Liam, Vania sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. "Ya Allah, cobaan apa lagi yang akan kau berikan padaku.Seharusnya aku tidak kembali ke tempat ini." Vania menangis dalam diam.


"Van, ngelamunin apa kamu? Apa kamu sakit? Wajahmu pucat, nak." Pagi itu mood Vania memang sedang tidak baik. Semalaman ia benar-benar tak bisa tidur, apalagi setelah mendengar perkataan Liam. Ia semakin sadar bahwa ia memang seharusnya tidak kembali.


"Tidak apa-apa bi, hanya pusing sedikit."


Bi Arum refleks memehang kening Vania memastikan apakah gadis itu demam. Dan ternyata benar, Vania sepertinya demam. " Badanmu panas, sudah...ayo, kembali kekamar saja. Nanti akan bibi antarkan sarapan dan obat untukmu!"


"Aku tidak apa-apa kok, bi. Nanti bibi tidak ada yang membantu."


"Sudah jangan ngeyel, ayo sana!"


Vania pun menurut karena kepalanya memang terasa pusing sekali dan badannya juga rasanya lemas tak bertenaga. Hingga tiba-tiba kepalanya serasa berputar-putar dan pandangannya mulai menggelap lalu–.


BRUKK


"VANIAA–!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2