
Sosok pria tampan berparas bule itu masih terpaku menatap wanita yang telah mencuri hatinya. Ya laki-laki itu adalah Dariel Lawrence. Mantan bos Vania ketika masih bekerja menjadi cleaning service di Lawrence Group.
Dariel aungguh tidak menyangka jika acara yang dihadirinya saat ini adalah pesta perayaan ulang tahun cucu pertama dari keluarga Ghazala dan ibu dari balita tampan itu adalah Vania. Dan kenyataan yang lebih membuatnya kecewa ketika tahu jika Liam lah suami dari Vania. Pupus sudah harapannya yang ingin mempersunting sang gadis pujaan.
"Selamat ya Tuan Liam dan...Vania. Atas bertambahnya usia satu tahun putra pertama kalian. Maaf, waktu itu aku tidak bisa hadir di resepsi pernikahan kalian."
Tatapan mata Dariel masih jelas terlihat penuh damba. Liam tak suka akan hal itu.Tangannya langsung merengkuh pinggang sang istri agar lebih melekat padanya. "Oh, tidak apa-apa Tuan Dariel. Kami m3ngerti anda pasti sangat sibuk."
Di Acara resepsi pernikahan Liam dan Vania. Sebenarnya Dariel juga diundang. Namun, sayangnya ia sama sekali tidak membaca undangan yang dikirimkan untuknya. Karena ia tengah terburu-buru akan pergi ke luar negeri mengurus salah satu perusahaannya yang tengah bermasalah.
Dan akhirnya Dariel sekarang mengetahui jika gadis yang dikaguminya telah menjadi milik laki-laki lain. Satu lagk yang menjadi pertanyaan di benaknya yaitu tentang Kiano, balita yang saat ini tengah merayakan ulang tahun pertamanya. Sedangkan yang ia tahu, Liam dan Vania baru beberapa bulan menikah. Apa mungkin Vania telah hamil lebih dulu lalu, saat bayinya lahir mereka baru meresmikan hubungannya. Berbagai pertanyaan berputar di kepalanya.
"Maaf sebelumnya, Tuan Liam. Apakah aku boleh tahu, apa Kiano anak kalian berdua? Sebab, setahu aku anda menikah dengan Vania baru beberapa bulan yang lalu. Jadi, mustahil jika–."
"Kiano adalah anak kami dan Vania lah yang telah melahirkannya dan anda benar Vania memang mengandung sebelum kami menikah secara resmi. Aku terlebih dulu telah menikahinya secara siri. Itulah yang anda ingin tahu, bukan?" Liam memotong omongan Dariel yang sudah bisa ditebak kearah mana laki-laki itu akan bicara.
Pria berwajah kebule-bule-an itu pun tak lagi berkomentar apapun. Dariel hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum kaku. ia merasa malu karena sudah melampaui batas dengan melontarkan pertanyaan yang begitu privasi bagi pasangan ayah dan ibu muda tersebut.
Pestapun berlangsung meriah dan lancar sampai selesai pada jam tujuh malam. Kiano sudah tampak mengantuk, itu bisa terlihat ketika balita itu terus menguap dan sedikit merengek.
"Mas, bisa agak cepat-an sedikit. Sepertinya Kiano sudah sangat mengantuk." Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang Vania, Kiano, bi Arum dan Liam berada dalam satu mobil dengan Liam yang mengemudikan mobilnya sendiri. Sedang mama Helen dan papa Bisma di mobil yang lain dengan seorang supir pribadinya.
Sesampainya di depan rumah Vania menyerahkan Kiano ke tangan bi Arum karrna ia kebelet pipis.Vania keluar dari dalam kamar mandi dan melihat bi Arum telah menidurkan Kiano diatas tempat tidur. Balita itu terlelap begitu nyamannya. Vania mendekat lalu duduk disisi ranjang sambil menatap putranya.
"Tak terasa ya bi, Kiano sudah berumur satu tahun saja. Rasanya baru kemarin aku melahirkannya ke dunia ini. Alhamdulillah dia tumbuh sehat dan lihatlah badannya yang montok itu...bikin gemes, pingin aku gigit itu pipi embemnya." Vania terkekeh sendiri.
"Van, malam ini biar bibi yang akan menjaga Kiano. Jangan khawatir, bibi akan menjaganya. Soal Asi kan masih banyak stock nya di frezzer.Kamu tidurlah dikamar tuan muda Liam.Mau sampai kapan kamu seperti ini Vania? Tuan Liam itu suamimu dan kamu mempunyai kewajiban yang harus kamu laksanakan sebagai seorang istri."
__ADS_1
"Apa kamu tidak takut dosa telah membiarkan suamimu kesepian padahal sudah mempunyai istri. Sudah berbulan-bulan loh ini, Van. Bagaimanapun tuan muda Liam seorang pria dewasa yang normal. Pastinya mempunyai kebutuhan biologis yang harus tersalurkan. Kamu mengerti kan apa yang bibi maksud. Sudah, lupakan masa lalu dan tataplah masa depan keluarga kecil kalian!"
Panjang lebar bi Arum menasehati sang keponakan yang menurutnya sudah tidak wajar karena terlalu lama melalaikan kewajibannya. Sebagai orang tua tentu saja bi Arum berkewajiban mengingatkan dan menasehati Vania yang sudah seperti putri kandungnya sendiri. Karena Vania adalah anak dari kakak laki-lakinya.
Vania terdiam mendengarkan dan meresapi nasehat dari bibi nya tersebut. Sebenarnya jauh didalam lubuk hatinya Vania pun sangat merasa bersalah karena tak kunjung juga menunaikan segala kewajibannya sebagai seorang istri. Harusnya ia bisa berdamai dengan masa lalu. Memaafkan dan menerima dengan lapang dada apapun yang telah terjadi. Apalagi sekarang Liam telah berubah dan membuktikan jika laki-laki itu bisa menjadi suami dan ayah yang baik.
"Baiklah bi, aku akan mencobanya." Vania menghela bafas panjang, ia akan berusaha untuk melakukan kewajibannya dengan sebaik mungkin.
"Loh, kok malah melamun...sudah sana, layani suamimu dengan baik!"
Suara bi Arum membuat Vania tersentak kaget. Semakin guguplah ia ketika mendengar ucapan sang bibi yang menuruhnya untuk melayani Liam. Pikiran Vania sudah kemana-mana. Melayani, maksudnya melakukan itu? Sungguh otak Vania seketika blank, pikirannya melanglang buana. "M–melayani–?"
"Iya melayani...lakukan tugasmu sebagai seorang istri. Bibi lihat tuan muda sudah menyayangimu dengan tulus. Buktinya dia selalu berusaha membuatmu merasa nyaman. Belajarlah mencintai suamimu, Vania!"
Vania tak lagi menanggapi perkataan sang bibi. Ia pun beranjak dan melangkahkan kakinya keluar. Bi Arum merasa lega dan tersenyum penuh arti. "Semoga kamu selalu dilimpahi kebahagiaan, Vania."
"Ekhem–Ada apa Vania? Apakah kamu membutihkan sesuatu atau Kiano–."
Suara Liam yang begitu tiba-tiba tepat dibelakangnya membuat Vania sampai terjingkat kaget. Jantungnya serasa mau copot...apalagi kedua manik mata mereka saling bersitatap sedekat itu. Vania jadi semakin gugup.
"Aaakh– astaqfirullah, mas...bikin kaget aja." Vania mengelus dadanya menetralkan keterkejutannya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, ada apa kamu mencariku sampai kekamar segala?" Liam menatap Vania dengan mata teduhnya. Vania jadi semakin salah tingkah.
"Iya, ada apa kamu mencari mas?"
"Itu–eum, anu...apa boleh malam ini aku tidur dengan mas? eh–."
__ADS_1
Mata Liam membola sempurna. Sejenak ia berpikir apakah barusan ia yang salah dengar atau Vania yang salah ucap? "A–apa kamu bilang, kamu mau itu denganku?" Tanya Liam dengan penuh harap semoga saja istrinya itu memang tidak salah bicara.
"Eh, maksudku...apa boleh aku tidur dikamar ini bersama dengan mas. Mulai malam ini aku ingin menunaikan kewajibanku sebagai istri mas Liam."
"Benarkah?" Anggukkan kepala Vania seketika membuat wajah Liam sumringah seperti baru saja mendapatkan jackpot yang tak disangka-sangka. Apakah itu artinya Vania telah menerimanya dengan sepenuh hati. "Ya tuhan, mimpi apa aku semalam."
"Bagaimana mas, boleh tidak aku masuk kekamar mas?" Tanya Vania ragu karena Liam diam saja.
"Mas–Mas Liam?!"
Merasakan tangan lembut Vania yang menyentuh tangannya sontak membuat lamunan Liam sirna seketika. Ia pun menatap sang istri dan tersenyum hangat. "Tentu saja boleh, bunda. Ayo...mari kita masuk bersama!'
"Sebentar ya, mas mau bersih-bersih dulu."
"Iya."
"Aduh–bagaimana ini ya? Nanti kalau mas Liam meminta haknya gimana? Tenang Vania, bukankah kamu sudah memantapkan hati untuk memulai semuanya dari awal lagi. Wuh...tarik nafas, tenang-tenang!"
Selama Liam didalam kamar mandi, Vania mencoba menetralkan hatinya yang tengah bergejolak.
Begitupun dengan Liam, ia tengah meredakan gejolak hasratnya. Mendengar Vania yang ingin memberikan haknya sebagai seorang suami, hasrat kelelakiannya yang telah lama terpendam kini, seketika bangkit kembali. "Hh...sabar-sabar ya Jhon, sebentar lagi kamu akan bertemu dengan pasanganmu." Liam berbicara pada senjata pamungkasnya yang di panggilnya si Jhon. Sepertinya si Jhon sudah tidak sabar ingin berkelana mencari partner nya.
Beberapa menit kemudian Liam keluar dari dalam kamar mandi setelah menyelesaikan rutinitasnya sebelum beranjak tidur. Senyum terus terukir diwajah tampannya. Vania yang tengah duduk di tepi ranjang mendadak tegang. Apalagi Liam yang perlahan berjalan mendekatinya.
"Jadi, apakah kamu sudah siap?"
"Hah–."
__ADS_1
Bersambung