
Menjelang subuh Shinta mulai mengerjapkan matanya.Ia menoleh dan tangkapan pertama pada penglihayannya adalah wajah tampan sang suami. Ya, hingga saat ini ia tak menyangka bahwa dirinya telah menjadi seorang istri. Sekelabatan kegiatan intim mereka semalam kembali terbayang di kepalanya. Pipinya terasa panas bila mengingatnya.Menggelengkan kepala dan menyadarkan lamunannya.
Perlahan Shinta beranjak turun dari atas ranjang, kemudian memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai lalu, bergegas masuk kekamar mandi.Usai menjalankan sholat subuh Shinta hendak turun ingin membantu memasak untuk sarapan pagi. Tapi, ia sedikit ragu dan bingung bagaimana cara mengeringkan rambutnya yang masih basah. Ia berpikir sejenak apa Wira memiliki hair dryer. Haruskah ia membangunkan dan menanyakannya?
" Tuan muda, bangun!." Shinta menggoyang-goyangkan lengan Wira.
"Hemm– grepp!" Dengan mata yang masih terpejam, Wira malah menarik tangan Shinta hingga terjatuh tepat diatas tubuhnya. Shinta mengernyitkan keningnya ketika merasakan adik kecil suaminya yang telah mengeras dibawah sana. "Tuan, itu–."
Wira malah tersenyum dan malah mengeratkan belitannya di pinggang Shinta. "Itu apa, hemm?" Menatap intens wajah ayu Shinta yang tepat berada di atasnya. "Cantik."
"A–apa, barusan Tuan bilang apa?" Shinta bukannya tak mendengar apa yang diucapkan Wira. Namun, ia ingin memastikan apakah benar Wira mengatakan ia cantik. Shinta tak ingin kege'eran dulu.
"Bilang apa? Aku tidak mengatakan apa-apa."
"Oh, saya kira tadi salah dengar. Maaf, Tuan. Bisa tolong lepaskan.Saya mau mengeringkan rambut, em....apakah Tuan punya hair dryer?"
"Ada, itu didalam laci. Tapi, tunggu dulu. Memangnya kamu mendengarnya aku mengucapkan apa?" Wira berpura-pura tidak tahu.
Wajah Shinta kembali merona tapi, kali ini ia merasa malu karena telah salah mengira dan tanpa menjawab pertanyaan Wira. Shinta berhasil melepaskan dirinya dari kungkungan Wira.Lalu, langsung mengambil hair dryer yang ditunjukkan oleh sang suami. "Saya pinjam dulu ya, Tuan."
Wira pun tak bisa berkutik lagi karena gerakan Shinta yang begitu cepat. Padahal rencanya ia ingin meminta jatah tambahan dipagi hari berhubung adik kecilnya juga sudah bangun. Dan akhirnya Wira beranjak bangun dan menuju ke kamar mandi. Melihat suaminya yang masuk kekamar mandi membuat Shinta bisa bernafas lega.' Akhirnya pagi ini selamat dari serangan singa ganas....hii.'
Lima belas menit kemudian ketika Wira selesai mandi, ternyata tak menemukan Shinta lagi didalam kamar. "Hh, gagal deh dapat jatah tambahan." Wira mengusek-ngusek rambutnya kesal dengan memakai handuk kecil.
"Shin, kenapa kamu turun? Harusnya kamu menemani suamimu saja. Kalian kan masih pengantin baru jadi, pasti lagi lengket-lengketnya tak ingin berjauhan." Vania menegur adiknya yang pagi-pagi sudah ikut membantu didapur dengannya dan sang bibi.
"Lengket–perangko kali, mbak. Ck....biasa aja tuh." Shinta mencebil sebal.
__ADS_1
"Ah, masa'? Nah itu rambut kamu kok wangi banget ya, kayaknya habis dikeramas dan itu di lehermu kok ada cap punya Wira?" Vania terkekeh geli menaik tirunkan alis matanya menggoda Shinta yang sepertinya tak sadar dengan hasil maha karya Wira yang terkekspos sempurna di leher jenjangnya.
Sontak Shinta menutup lehernya dan langsung melesat pergi dari sana. Wajahnya merah menahan malu. "Ish....bodoh kamu Shinta, masa' ngak sadar sih. Ini Tuan kayaknya sengaja deh ngerjain aku. Ngapain sih dia pake ninggalin jejak." Kesalnya sambil terus melangkah kekamar Wira.
Saat masuk kedalam kamar, ia melihat Wira yang tengah asik dengan macbook nya duduk diatas sofa. Aktifitasnya pun terhenti ketika mendengar suara pintu yang terbuka.
Wira memperhatikan gerak gerik istri kecilnya itu. Ia memicungkan matanya ketika melihat Shinta membuka lemari pakaian. "Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanyanya pada sang istri.
" Mau ganti baju." Tetap fokus tanpa menoleh pada Wira sambil memilih baju yang sekiranya bisa menutupi penuh bagian lehernya.
"Kenapa pakai ganti baju segala, memangnya bajumu terkena kotoran apa?" Wira masih saja bertanya macam-macam. Membuat Shinta bertambah senewen, padahal apa yang terjadi pada lehernya ya karena hasil dari perbuatan suami mesumnya itu. Pake pura-pura nanya lagi.
"Bukan kototan tapi, nih lihat hasil dari perbuatan Tuan tadi malam. Saya malu sekali ditegur mbak Vania,tahu." Jawabnya kesal.
Mendengar nama Vania disebut seketika membuat Wira terdiam tak lagi berkomentar apa pun lagi. Reaksi tak biasa dari suaminya itu membuat Shinta merasa ada sesuatu yang aneh, entah itu apa? 'Kenapa dia tak berkicau lagi, ada apa sebenarnya. Tapi, ah masa' bodo amat.' Shinta mencoba menepis pikiran negatif nya tentang suaminya itu.
"Mbak, ih. Jangan dibahas terus dong, aku kan malu." Semburat merah menghiasi pipi Shinta.Kenapa juga Vania masih saja membahas hal itu, jadinya kan Shinta kembali teringat kejadian semalam.
Bi Arum tersenyum melihat tingkah polah kedua putrinya itu.Ia jadi teringat ketika di kampung dulu saat Vania dan Shinta masih kecil.
Tepat jam tujuh, semua anggota keluarga Ghazala telah berkumpul dimeja makan dan menduduki kursi mereka masing-masing bersiap untuk sarapan pagi. Bi Arum dan Shinta yang sadar diri pun hendak pergi kebelakang namun, Mama Helen mencegah keduanya. "Loh, bi Arum, Shinta....Kalian mau pergi kemana?"
"Oh, mau kebelakang, Nyonya." Bi Arum yang menjawabnya. Sedangkan Shinta hanya menundukkan kepalanya
"Kamu juga Shinta, mau kemana?kalian berdua duduklah dan sarapan bersama!"
Sontak Shinta mengangkat wajahnya dan menatap mama mertuanya itu. "Saya sarapannya nanyi saja, Ma sama ibu dibelakang." Shinta melirik kearah Wira yang tampak diam saja membuat Shinta cukup tahu diri dati mana dirinya berasal yang hanya anak dari seorang pembantu.
__ADS_1
"Eh, enggak-enggak. Bi Arum dan Shinta, ayo duduk. Kita ini sudah menjadi satu keluarga jangan terlalu sungkan gitu,ah." Mama Helen tetap kekeuh memaksa bi Arum dan Shinta untuk ikut makan bersama.
Karena tidak enak hati menolak Mama Helen, akhirnya bi Arum dan Shinta pun ikut sarapan bersama. Shinta duduk tepat disebelah Wira.
Berhubung hari weekend, anak-anak dan menantunya serta cucu semata wayang mereka, Kiano. Tak langsung cepat pulang. Mereka berkumpul di gazebo yang terletak di taman belakang rumah. Si kecil Kiano sedang asik dengan mainan mobil-mobilannya ditemani oleh sang bunda dan neneknya.
Sedangkan para pria mengobrol di kursi yang berada di teras yang masih terletak dibelakang rumah juga. Ketiganya tengah terlibat perbincangan serius mengenai pekerjaan. Para lelaki memang seperti itu selalu saja membahas hal-hal yang seharusnya tidak perlu disaat waktu libur seperti ini.
"Papa, Liam, Wira....kemarilah, kalian ini selalu saja ngurusin kerjaan aja. Ini hari libur santailah sedikit!' Mama Helen yang gemas dengan ketiga laki-laki kesayangannya itu langsung menegur mereka.
"Iya iya, ibu ratu. Kami akan kesana." Itu Liam yang menjawab panggilan sang Mama.
Kini mereka sudah berkumpul dan berbinvang santai ditemani dengan secangkir teh dan kopi serta camilan. "Oh ya, Wira, Shinta.Kapan rencananya kalian akan pergi berbulan madu? Mama sama Papa juga pingin cepat dapat cucu dari kalian. Bagaimana kalau ke Paris atau ke Maldives? tempat teromantis untuk pasangan yang ingin berbulan madu."
"Bulan Madu? Apaan sih Mama ini. Ngak perlu bulan madu segala, lagi pula Shinta juga pasti ngak terbiasa pergi jauh apalagi sampai keluar negeri segala dan pasport pun pasti dia juga ngak punya, kan." itulah jawaban Wira, seketika membuat Shinta tertegun tak berani berkomentar bahkan menatao Wira pun ia tak berani.
Perkataan Wira sungguh membuat hati Shinta mencelos, ia jadi semakin insecure dan mengira jika, suaminya itu memang malu memiliki istri bekas pembantu dirumahnya.
"Maaf, saya permisi mau kebelakang sebentar." Karena sudah tak tahan menahan sesak didadanya, Shinta pun berpura-pura ingin ke kamar mandi dan tanpa menunggu jawaban dari yang lainnya, Shinta langsung melangkah pergi.
"Wira—kamu ini kok ngomong-nya begitu sih? Shinta itu sudah menjadi istri kamu dan sekarang dia adalah tanggung jawab kamu. Harusnya kamu bisa menjaga perasaannya. Bicara ngawur banget sih kamu, Wir. Kasihan Shinta, pasti dia sangat sedih." Mama Helen langsung menegur dan memarahi Wira yang ucapannya memang sangat keterlaluan.
"Iya iya, maaf.Aku ngak ada maksud kayak gitu, Ma."
Papa Bisma, Liam dan Vania hanya diam yak ingin berkomentar karena tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga Wira dan Shinta.Cukup Mama Helen yang menegur sikap Wira yang tak pantas itu. Si bungsu yang manja dan kini berubah menjadi pria dingin itu.
"Kalau mau minta maaf tuh bukan sama Mama, sana susul istrimu. Bicara yang lembut, jangan menyakitinya!" Mama Helen yang kesal menyuruh Wira untuk menyusul Shinta kedalam rumah. Dan akhirnya Wira pun menurut tak berani membantah perintah sang Mama.
__ADS_1
Bersambung