
Waktu jam istirahat telah tiba dan bell pun berbunyi tanda bahwa seluruh siswa dapat melakukan kegiatan santainya. Hampir seluruh siswa berbondong-bondong menuju ke kantin sekolah untukmengisi perut dan sekedar membasahi tenggorokannya walau pun tidak semua siswa jajan dan hanya nongkrong saja. Duo gadis cantik dan cukup tenar di sekolah tersebut juga ikut bergabung dengan yang lainnya untuk beristirahat di kantin.
Riuh para siswa laki-laki menyambut kedatangan Kirena dan Gendhis. Dua bestie tersebut memang selalu menjadi pusat perhatian. Terutama Kirena si cantik dengan penampilan modisnya.
Sementara itu Inara tampak sedang duduk di bawah sebuah pohon besar tepatnya di taman sekolah. Gadis itu menikmati bekalnya yang selalu disiapkan oleh Bi Kokom. Padahal ia sudah meminta agar wanita paruh baya itu tidak perlu melakukannya. Inara merasa selalu merepotkan bi Kokom. "Bi Kokom sangat baik, aku jadi kangen sama ibu.'
"Oh, ternyata disini ya si cewek udik." Inara yang baru saja selesai makan sontak mendongak keatas dan melihat dua orang gadis yang tengah menatapnya intens tepatnya seperti merendahkan. Apalagi dengan perkataan tidak mengenakkan yang diucapkan oleh salah satunya.
"Non Kirena. Ada apa ya mencari saya? Apa nona membutuhkan sesuatu?" Ia mengira jika, anak majikannya itu ingin menyuruhnya melakukan sesuatu.
Namun, bukannya Kirena yang menjawab tapi justru Gendhis. "Heh....bukan Rena yang mencarimu tapi, gue." Menatap tajam Inara.
"Ada perlu apa ya mencari saya?" Inara menatap penuh tanya gadis dihadapannya yang sedari tadi menatapnya penuh permusuhan. Memangnya apa yang telah dilakukannya, Inara tak mengerti.
"Kenapa tadi lo datang ke sekolah diantar sama bang Kiano gue. Memangnya ada hubungan apa diantara kalian? Jangan bilang kalau–."
"Kalau apa? Saya dan tuan Kiano ada hubungan spesial gitu, maaf ya....kami memang mempunyai hubungan yaitu antara majikan dan pembantunya. Apa anda puas dengan jawaban saya?.
Gendhis menarik sudut bibirnya dan tersenyum. Benar juga apa yang dikatakan oleh Inara barusan dan mana mungkin seorang Kiano laki-laki kelas atas melirik seorang pembantu seperti Inara. Gendhis jadi merasa konyol karena berpikir hal yang mustahil seperti itu."Benar juga ya, lo kan cuma seorang prmbantu. Ngak mungkin banget sih." Mengejek Inara
"Oke, kali ini gue percaya apa yang lo katakan. Tapi, awas aja ya kalau sampai ketahuan lo menggoda bang Kiano. Rasakan nanti akibatnya. Ayo, Ren kita balik ke kelas!" Gendhis langsung menarik tangan Kirena meninggalkan Inara yang hanya menggelengkan kepala melihat sikap sombong Gendhis.
Di waktu yang sama taoi, ditempat yang berbeda. Empat sekawan cowok-cowok berparas tampan tengah berada di suatu cafe. Mereka baru saja makan siang bersama.
"Eh, Ki–Erwin bilang dirumah lo ada pembantu baru cewek muda yang kece badai ya? Beneran Ki?" Jay yang penasaran dengan cerita Erwin bertanya langsung pada nara sumbernya.
"Hemm–memangnya kenapa?" Jawab Kiano datar.
__ADS_1
"Ya ampun Ki, masa' lo ngak bertindak gitu. Ya bermain-main dikit lah sama pembantu cantik lo itu. By the way memang secantik apa sih tu cewek, gue jadi penasaran juga mau lihat wujud aslinya. Boleh dong kita main kerumah lo,Ki." Kali ini Tony yang ikutan menyeletuk dan malah ketularan kepo dengan sosok gadis yang sedang mereka perbincangkan itu.
"Wujud asli, memangnya tu cewek mahluk tak kasat mata apa. Sekate kate aja lo Ton. Lagian ikut-ikutan kepo aja lo. Kan gue yang pertama pingin kenal sama cewek itu." Jay meremat kertas tisu lalu, melemparnya tepat mengenai si Tony.
"Yakin lo Ki, ngak tertarik gitu sama tu cewek? Gue jadi curiga deh....jangan-jangan lo itu sebenarnya ngak suka sama–."
PLAKK
"Enak aja lo kalau ngomong jangan asal nyeblak. Gue ini masih lelaki normal tahu. Huh....gue gibeng juga lo pada." Kiano tahu apa yang dimaksud oleh teman-temannya itu yang mengira ia memiliki kelainan tak menyukai perempuan.
"Hahaha–bercanda bro, sensitif amat kayak cewek lagi pms aja lo. Jadi, kalau begitu boleh dong kalau kita berdua berkenalan sama pembantu baru lo itu. Ya, lumayan lah buat koleksi. Dah bosen sama cewek-cewek metropolitan yang sukanya mengumbar diri. Murahan banget tahu." Jay yang memang sejak pertama terlihat begitu tertarik dengan pembahasan tentang gadis yang bekerja di rumah Kiano.
"Bener itu Jay, sekali-kali dong kita cari yang masih ranum dan polos. Kayak pembantunya Kiano itu lah. Eh, Win. Katanya lo punya photo tu cewek ya? Lihat dong."
"Nih, gue kasih lihat ya. Tapi, janji ya....kalau diantara lo berdua berhasil ngedapetin ni cewek harus ngasih gue sesuatu yang berharga milik kalian. Gimana-gimana, deal?"
"Wow–lo benar Win. Ini sih kayak bidadari. Cantik banget." Mereka kemudian saling pandang dan melirik ke arah Kiano yang wajahnya sudah berubah.
Kiano yang sejak tadi hanya menyimak obrolan tak berfaedah dari teman-temannya itu tentang Inara jadi terganggu juga. "Heh, lo pada apa-apaan sih. Jangan macam-macam ya sama Inara. Dia cewek biasa yang masih lugu dan–."
"Dan apa Ki? Dan lo juga sebenarnya naksir kan sama Inara. Oh, jadi namanya Inara ya....namanya cantik seperti orangnya."
"NGAK! Ngapain juga gue suka sama pembantu dirumah gue sendiri. Kayak ngak ada cewek lain aja." Jawab Kiano dengan emosi.
"Jangan ngegas dong, Ki. Kalau memang lo suka, kita malah seneng kok. Itu artinya teman kita yang satu ini masih normal. Gimana kalau kita taruhan, apa Kiano bisa ngedapetin Inara. Itu berarti Kiano hebat dan kita semua bakal memberikan apa aja yang lo mau, Ki. Setuju ngak?" Tony.
Jay agak sedikit tak suka dengan ide tersebut. Kan yang pertama tertarik sama Knara itu dia kenapa malah jadi Kiano yang di suruh ngegebet Inara. "Lah, kenapa jadi Kiano yang lo suruh ngedapetin Inara sih, Ton. Kan awalnya cuma kita berdua yang berkompetisi?"
__ADS_1
"Oke‐gue terima tantangan kalian. Gue akan buktiin kalau gue cowok normal. Weekend ini kita santai ke Villa gue. Dan bakal gue buktiin disana. Inara bakal jadi milik gue." Kiano menarik sudut bibirnya tersenyum penuh misteri.
Hari-hari cepat berlalu dan weekend pun telah tiba.Seperti yang telah mereka sepakati. Jum'at sore ini mereka berencana akan menghabiskan waktu di Villa keluarga Kiano. Setelah meminta izin pada kedua orang tuanya dan sialnya Kirena tanpa.sengaja mendengar rencana mereka. Dan gadis itu pun merengek ingin ikut, pastinya tak ketinggalan dengan mengajak Gendhis juga.
"Apaan sih, Mas. Ngapain ngajak si Inara?" Protes Kirena karena ternyata Inara ikut juga.
"Ngak apa-apa sayang, sekalian kan Inara bisa bantu-bantu disana dan sekali-kali boleh kan Inara jalan-jalan keluar biar senang." Vania mengusap kepala sang putri manja.
"Iya juga sih." Kirena mengangguk setuju dengan perkataan sang bunda.
Inara sedang menyiapkan beberapa potong pakaian lalu, dimasukkannya kedalam tas lusuhnya. Ia sebenarnya merasa ragu untuk ikut. Tapi, karena tak enak menolak permintaan Vania majikannya yang sangat baik hati itu. Akhirnya Inara pun menuruti perintah sang majikan.
Mereka bertujuh pun telah berkumpul dan bersiap untuk berangkat. Baru saja Inara ingin masuk kedalam mobil Kiano, langsung di hentikan oleh suara cempreng Gendhis. "Hei....siapa yang nyuruh lo masuk ke mobil bang Kiano? Sana-sana ikut di mobil kak Jay saja!" Gendhis terang-terangan mengusir Inara.
"Hai Nara cantik. Ayo, sini....bareng Mas Jay aja!" Jay tentu saja tak akan melewatkan kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Inara.
"I–iya, Mas.Terima kasih." Inara menghampiri mobil Jay dan dengan gentle pemuda itu membukakan pintunya untuk sang gadis.
"Mari, silahkan nona manis! Pindah ke belakang lo Ton!"
"Ck–lebay lo, Jay."
"Enggak usah, Mas. Saya duduk di belakang saja." Namun, Inara dengan halus menolaknya.
Kiano sejak tadi memperhatikan mereka melalui kaca spion. Entah mengapa dia tidak suka jika, Inara semobil dengan dua sahabatnya itu.
Bersambung
__ADS_1