Jalan panjang Vania

Jalan panjang Vania
70. Membeli Gaun


__ADS_3

Sadar siapa wanita yang tiba-tiba memeluknya, refleks Wira langsung melepaskan diri dengan mendorong tubuh wanita itu. Matanya membeliak tajam tak suka.


"Regina–sedang apa kamu disini?"


Wanita dewasa yang bernama Regina itu mengernyit bingung. "Loh, kok kamu ngomongnya gitu sih? Apa kamu sudah lupa pada teman kecilmu ini. Boleh kan aku masuk?"


"Hemm–." Dengan malas Wira pun akhirnya membukakan pintunya juga dan mempersilahkan tamunya itu masuk. "Masuklah!"


Shinta masih mematung ditempatnya berdiri."Loh, aku kok di lupain sih?" Dengan kesal ia pun menyusul masuk kedalam.


"Hey–kamu siapa? main nyelonong masuk aja.Wira, tadi pintunya lupa kamu kunci ya." Regina menatap Shinta tak suka.


"Siapa? O...kemari sayang. Regina, perkenalkan ini istriku, Shinta." Wira merengkuh pinggang ramping Shinta dan memperkenalkannya pada Regina


"Dan, Shinta.ini Regina dia adalah–."


"Teman masa kecil Wira dan kami bersahabat sejak pukuhan tahun yang lalu. Salam kenal." Regina langsung memotong perkataan Wira dan memperkenalkan dirinya sendiri seakan dia lebih penting dari pada Shinta.


"Oh, iya mbak. Saya Shinta istrinya Mas Wira. Salam kenal juga." Shinta tidak menanggapi celotehan wanita cantik itu.


Regina memindai tubuh Shinta dari atas sampai kebawah lalu, tersenyum meremehkan. " Jadi, seleramu sekarang telah berubah,Wira?"


"Maksudmu?" Tanya Wira tak mengerti.


"Oh, tidak ada.Cuma aneh saja. Kenapa kamu menikah dengan anak kecil seperti dia?"


"Dia? Namanya Shinta dan Shinta bukanlah anak kecil, umurnya sudah dewasa makanya aku menikahinya. Lalu, tahu dari mana kamu kalau aku tinggal disini?" Seingatnya ia tidak pernah memberitahu siapapun dimana ia tinggal saat ini, kecuali keluarga dan teman terdekatnya saja.


Regina memasang muka kecut mendengar penjelasan Wira. " Tadi pagi aku kerumah orang tuamu dan tante Helen bilang sekarang kamu tinggal di apartemen pribadimu ini. Ya, langsung saja aku meluncur ke sini.


"Mas, saya kekamar duluan ya." Shinta sudah malas mendengar perbincangan yang tak penting itu. Apalagi melihat sikap Regina yang membuat Shinta tak nyaman.


"Iya, sayang. Nanti Mas menyusul." Tersenyum manis pada sang istri membuat wajah Regina semakin cemberu saja..


Regina tak menyangka jika, laki-laki yang ia sukai sejak masih kecil dulu ternyata telah menjadi milik orang lain. 'Mengapa tante Helen tidak bilang kalau Wira pindah ke apartemen bersama istrinya. Sebenarnya siapa istrinya itu, anak siapa? Aku akan mencari tahu.' Hati Regina begitu kesal mengetahui kenyataan pahit ini secara langsung.


"Emm, apa kamu masih mau disini? Maaf ya, aku mau menemani istriku beristirahat.Regina....gimana?"


Mendengar panggilan Wira, Regina tersentak dan tersadar dari lamunannya. "Eh, iya Wir. Ada apa?" Ternyata dia tidak mendengar perkataan Wira.


"Aku bilang kamu masih mau disinikah? Soalnya aku mau menemanii istriku beristirahat. Kami sangat lelah sekali. Bagaiimana?" Wira langsung to the point. Mengusir secara tidak langsung wanita itu.


"Istirahat?" Regina masih tidak mengerti maksud Wira.


"Iya, istirahat. Menemani bobo siang istriku." Kali ini Wira berharap Regina mengerti dan segera pergi.


"Oh, iya iya. Maaf, silahkan. Kalau begitu aku pamit dulu ya Wir. Lain kali aku akan main lagi kesini. Salam buat istrimu."


"Oke–."

__ADS_1


Wira hanya menjawab singkat agar tidak ada lagi percakapan diantara mereka dan Regina segera keluar dari apartememennya. Dan akhirnya Wira pun merasa lega setelah Regina menghilang dari balik pintu.


"Fiuh–dia pergi juga. Ada-ada saja . Mengganggu saja.Tapi, ada apa tiba-tiba dia pulang ke Indonesia? Ah, masa bodo bukan urusanku." Wira pun beranjak menuju kekamarnya.


Kriett


Mendengar pintu kamar yang dibuka, spontan Shinta menoleh dan melihat Wira yang berjalan menghampirinya sambil membuka satu persatu kancing kemejanya.Shinta yang sedang menata pakaian dilemari sampai menghentikan kegiatannya. Semakin mendekat maka, semakin grogi lah Shinta. Apalagi tubuh bagian atas Wira telah terekspos dengan otot perutnya yang sixpack, Shinta menelan salivanya betapa sempurnanya tubuh suami tampannya itu. 'Ya tuhan, betapa sempurnanya ciptaanmu.' Shinta berkata hanya didalam hatinya. Tak mingkin juga dia berbicara langsung bisa tambah besar kepala Wira.n


"Shinta–kamu kenapa?" Wira mengibas-ngibaskan telapak tangannya tepat diwajah Shinta.


"Ah, i–iya sebentar lagi selesai kok. Apa mas mau mandi sekarang?"


Wira mengerutkan keningnya menatap Shinta yang tampak gugup. "Mandi? Siapa bilang aku mau mandi?" Semakin mendekat dan mengikis jarak.


"Bukannya Mas mau mandi, itu sudah buka baju." Suaminya membuka pakaian yang dikenakannya tentu saja Shinta mengira suaminya itu hendak mandi. Mungkin gerah karena siang ini matahari begitu terik dan cuaca pun sangat panas.


"Mas memang mau mandi tapi, nanti setelah kita selesai berolahraga."


"Olahraga? Saya enggak ikut, Mas Wira saja yang berolahraga. Saya mau beres-beres dapur sama sekalian menyiapkan masakan untuk makan malam nanti. Ka–kalau begitu saya....eh, itu teman masa kecil mas yang cantik dan sexy itu apakah sudah pulang?" Shinta mencoba menghindar dengan mengalihkan topik pembicaraan. Karena ia tahu jenis olahraga apa yang dimaksud suaminya itu.


"Cantik dan Sexy.Siapa? Regina? Tapi, bagiku istriku lah yang lebih sexy dan menggairahkan."


"Ke–kenapa jadi membahas saya?"


"Masa' badan kayak gini dibilang sexy sih, apa matanya lamur?" Shinta bergumam namun, sayangnya Wira masih bisa mendengarnya.


GLEKK


Menelan salivanya dengan susah payah. Lagi-lagi Shinta dibuat salah tingkah oleh ucapan suaminya yang ambigu itu. Sepertinya siang ini Shinta tidak akan bisa lolos dari terkaman sang singa yang selalu kelaparan itu.


Tanpa disadarinya Wira langsung mengangkat tubuh mungil Shinta lalu, merebahkannya diatas ranjang king size mereka."Ayo, kita pemanasan dulu sebelum ke gerakan inti!" Dan Wira pun memulainya dengan penuh penghayatan. Sedangkan Shinta hanya bisa pasrah dan mend**** dibawah kungkungan tubuh kekar Wira.


Menjelang petang kedua sejoli yang masih terlelap dalam balutan selimut tebal, Shinta membuka matanya lebih dulu." Hoam...jam berapa ini ya? Hah, ya ampun sudah hampir magrib." Mata Shinta terbelalak ketika melihat jam dinding dan waktu telah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Refleks dengan gerakan cepat ia pun segera bangkit dan beranjak turun dari atas tempat tidur. Tapi, naasnya saat ia hendak melangkah kakinya tersandung karpet dan–


BRUKKK


Tubuh Shinta yang hanya tertutupi selimut mendarat dengan indahnya diatas karpet dan menimbulkan suara yang cukup keras. Hingga Wira yang masih tertidur tersentak kaget dan langsung terduduk. Matanya seketika membuka sempurna melihat Shinta yang tergeletak dengan posisi tengkurap. "Hah....apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa tiduran di bawah?"


"Aduh–saya bukan tiduran tapi, terjatuh Tuan." Shinta meringis merasakan sakit di area bawahnya ketika ia mencoba untuk bangun.


"Kenapa? Apa ada yang sakit?"


KYAAA


"Tu–Mas, tolong turunkan saya. Saya bisa jalan sendiri."


"Sudah diam! Kamu ini selalu saja sok kuat. Ayo, aku akan memandikanmu!" Tanpa malu, Wira turun dari atas tempat tidur tanpa mengenakan apapun, Shinta langsung menutup matanya tak kuat melihat pedang tanpa disarungi milik sang suami.


Drrtt drrrtt

__ADS_1


"Shinta, itu handphone mu bunyi." Tari menegur Shinta yang sedang melamun.


"Ah iya." Shinta pun gegas menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, assalamuallaikum. Ya mbak, ada apa?" Yang menelpon ternyata adalah Vania.


"Shin, Nanti pulang kuliah kamu langsung menyusul ke mall xxxxx ya, mbak tunggu!"


"Iya. Eh, mbak....tapi,–."


Tut tut tut


"ck–ditutup. Baru juga mau nanya."


"Ada apa Shin? barusan itu mbak Vania ya. Ada apa?" Tanya Tari penasaran.


"Pulang kuliah nanti kayaknya aku ngak jadi ikut ke kosan kamu deh, Tar. Sorry...Lain kali aku pasti main ke tempatmu."


"Mbak Van!."


"Shinta. Ayo, kita langsung ke tempat Mama!"


"Mama Helen juga ada disini?"


"Hemm. Yuk ah!" Kedua kakak beradik itu pun berjalan beriringan menuju ke outlet pakaian khusus wanita.


"Nah itu mereka sudah datang. Vania, Shinta. Ayo pilihlah gaun yang cocok untuk kalian!" Mama Helen yang sedang duduk langsung bangkit ketika melihat kedatangan kedua menantunya.


"Gaun untuk apa, Ma?" Shinta yang belum mengetahui perihal undangan di suatu acara resmi hari jadi perusahaan milik salah satu kolega bisnis keluarga Ghazala.


"Besok malam kita akan menghadiri undangan dari salah satu kolega bisnis keluarga kita. Jadi, hari ini kita akan ber-shopping ria."


"Trus Kiano sama siapa?"


"Jangan khawatir Shinta. Kiano aman ada sama bi Arum di rumah Mama." Shinta pun mengangguk mengerti.


Disaat mereka tengah asik memilih beberapa gaun malam. Tiba-tiba muncul sosok yang bagi Shinta begitu menyebalkan.


"Hai, Tante Helen disini juga? Kebetulan sekali, aku juga sedang mencari gaun untuk besok malam." Regina mengampiri Mama Helen dan langsung bercipika cipiki.


"Ekhemm–." Vania berdehem mengalihkan perhatian dan sukses membuat keduanya menoleh kepadanya.


"Oh, iya. Regina. Kenalkan ini menantu- menantu tante. Ini Vania istri Liam dan yang satunya Shinta istri Wira." Mama Helen memperkenalkan kedua menantunya pada Regina.


"Vania." Mereka saling berjabat tangan. Hingga giliran Shinta, Regina seakan tak memperdulikannya.


"Kami sudah kenal,Ma." Shinta berkata dengan wajah datar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2